Thursday, October 16, 2008

Barong Dance

Barong is one of the most well known dance. It is the classic example of Balinese way of acting out mythology, resulting in myth and history being blended into one reality. It narrates the fight between good and evil.
The story goes that Rangda, the mother of Erlangga, the King of Bali in the tenth century, was condemned by Erlangga's father because she practiced black magic. After she became a widow, she summoned all the evil spirits in the jungle, the leaks and the demons, to come after Erlangga. A fight occurred, but she and her black magic troops were too strong that Erlangga had to ask for the help of Barong. Barong came with Erlangga's soldiers, and fight ensued. Rangda casted a spell that made Erlangga soldiers all wanted to kill them, pointing their poisoned keris into their own stomachs and chests. Barong casted a spell that turned their body resistant to the sharp keris. At the end, Barong won, and Rangda ran away.
Somebody can die or get seriously injured in a Barong dance. It is said that if Rangda's spell is too strong, a weak soldier may not be able to resist it, even with the help of Barong. He may end up hurting himself with his own keris.
The masks of Barong and Rangda are considered sacred items, and before they are brought out, a priest must be present to offer blessings by sprinkling them with holy water taken from Mount Agung, and offerings must be presented.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, April 2, 2008

Layang-layang Daun Kelopek, Keunikan Negeri Ini...

Oleh: Ferry Santoso

Seorang peserta festival layang-layang, Lamasili (48), memegang layang-layang setinggi kepala orang dewasa. Benda itu siap dia terbangkan dalam Festival Layang-layang internasional di Bukit Layang-layang, Pasir Gudang, Johor, Malaysia, 23 Februari lalu.

”Saya membawa layang-layang terbuat dari daun kelopek,” kata Lamasili, peserta festival dari Sulawesi Tenggara.

Ia lalu menuturkan cara pembuatan layang-layang itu. Sebelum dibuat, daun kelopek dikeringkan, diasapi, dan dijemur selama empat hari. Setelah agak mengering, daun ditata dan direkatkan satu per satu di bingkai bambu sehingga menjadi layang-layang besar.

”Layang-layang daun kelopek dari Sulawesi Tenggara bukan sekadar layang-layang. Di balik itu, sebenarnya tersimpan cerita tersendiri,” katanya.

Menurut Lamasili, di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, terdapat gua yang memiliki gambar lukisan layang-layang dari getah daun. ”Lukisan ada di dinding gua. Diperkirakan, lukisan itu sudah ada sejak zaman prasejarah,” katanya.

Penemuan itu menunjukkan layang-layang sudah lama ada di Indonesia. Layang-layang menjadi permainan tradisional turun-temurun di banyak tempat atau kelompok masyarakat di Indonesia.

Contoh lain adalah Bali. Menurut Ketua Pengurus Yayasan Masyarakat Layang-layang Indonesia Sri Handayani Ningsih, di Bali terdapat layangan janggan yang memiliki nilai sakral. ”Dari pemilihan bahan, menebang bambu, dan cara bermain harus mengikuti aturan, misalnya melihat hari baik,” ujar Sri.

Bagian kepala layang-layang juga tidak boleh terkena tanah, dan diterbangkan orang banyak. ”Itu menunjukkan ikatan sosial masyarakat banjar di Bali,” katanya.

Keragaman dan keunikan layang-layang di Indonesia terlihat dari layang-layang yang dibawa para peserta dari Indonesia dalam festival itu. Peserta dari Indonesia sendiri berasal dari 11 provinsi, yakni DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Kalimantan Selatan.

Peserta dari Kalimantan Selatan, Asran, mengungkapkan, ia menerbangkan layang-layang tradisional berupa pelaminan pengantin banjar. Layang-layang tersebut terbuat dari plastik parasut, bambu, dan kertas hias.

Dengan keanekaragaman layang-layang tradisional, menurut Sri Handayani Ningsih, yang terungkap atau terlihat sebenarnya tidak hanya keindahan layang-layang itu sendiri. Layang-layang juga mengandung aspek historis, antropologi, sosiologi, dan arkeologi.

Dengan kekayaan tradisi, layang-layang merupakan salah satu bentuk permainan tradisional. Layang-layang pun dapat menjadi media promosi wisata dalam bentuk festival menarik.

Festival internasional

Itulah yang dilakukan Malaysia. Malaysia mampu menyelenggarakan festival Layang-layang internasional yang melibatkan 24 negara, baik dari Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia.

Selain mendirikan Bukit Layang-layang, Malaysia juga telah membuat museum layang-layang di Bukit Layang-layang. Perhatian yang besar terhadap festival itu terlihat saat Sultan Johor, Iskandar, yang membuka festival dan membagikan suvenir kepada perwakilan peserta.

Dalam festival yang diselenggarakan Majelis Tindakan Pelancongan, Johor, diadakan pula beberapa atraksi menarik, seperti tarian melayu, drum band, dan musik-musik Asia.

Menurut Sri Handayani Ningsih, negara lain, seperti Malaysia, dapat menyelenggarakan festival layang-layang internasional yang besar karena memiliki dana dan dukungan pemerintah yang kuat.

”Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap layang-layang masih lemah,” kata Sri. Padahal, festival layang-layang dapat mendorong pariwisata dan menunjukkan kekayaan budaya di Indonesia.

Sumber: Kompas, Selasa, 04 Maret 2008.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Die Welt Ist Schoen: 2008 | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---