Wednesday, December 26, 2007

Bogota, Kota 1001 Taman

Pascal S bin Saju

Kabut tipis masih menyelimuti Bogota, Kolombia, ketika Air France yang membawa kami dari Paris menyentuh landasan pacu Bandar Udara (Aeropuerto) El Dorado di tepi selatan kota itu, Sabtu (19/8) petang. Udara dingin dengan suhu 16 derajat Celsius menyergap begitu kami keluar dari pesawat.
Bogota menjadi kiblat kota Jakarta dalam membangun transportasi perkotaan yang berkelanjutan, terutama jalur bus khusus (busway) transjakarta. Dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan transportasi perkotaan itulah Kompas mengunjungi kota berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa tersebut.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, August 23, 2007

Kota Kairouan, Titik Awal Islam ke Africa dan Eropa

SEORANG belia bertubuh kurus dan berkulit hitam tiba-tiba masuk ruangan utama, shalat di masjid besar Kota Kairouan yang dikenal dengan nama Masjid Uqba bin Nafi itu. Kemunculannya secara tiba-tiba itu memang cukup menarik perhatian orang yang berada di ruangan tersebut.
IA ternyata adalah salah seorang murid asal Afrika yang sedang belajar pada sekolah Tahfidh Al Quran di masjid tersebut untuk menghafal kitab suci Al Quran, yang terdiri dari 30 juz itu. Ia mengaku bernama Yusuf, yang baru berusia 15 tahun. "Saya sudah dua tahun belajar di sini, dan telah hafal sebanyak 25 juz dari kitab suci Al Quran," ungkap Yusuf.
Yusuf yang berasal dari Niger adalah seorang dari 10 murid asal Afrika yang sedang belajar di Kairouan. Mereka datang ke Tunisia, tepatnya Kota Kairouan, dari negara mereka masing-masing atas biaya sebuah lembaga sosial swasta di Tunisia. Selama belajar di Kairouan, mereka tinggal gratis di asrama dan mendapatkan jaminan makanan serta uang saku.
Menurut Hussein (salah seorang penjaga masjid), murid-murid dari Afrika selalu datang secara berkesinambungan, yang berasal dari Mali, Nigeria, Niger, dan Burkina Faso.
Memasuki Kota Kairouan memang segera terkesan tentang sebuah kota santri yang bernuansa agamis. Hussein menyebutkan, ada sekitar 250 masjid yang tersebar di seluruh pelosok Kota Kairouan. "Di setiap pojok atau lorong kecil di kota ini, pasti terdapat masjid," ungkap Hussein.
Ia juga mengungkapkan, dari seusai salat magrib hingga waktu isa tiba, para murid dari Afrika, Tunisia, dan negara Arab lain menghafal Al Quran di Masjid Uqba bin Nafi.
"Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional di Tunisia selalu digelar di Kota Kairouan. Para ulama dan cendekiawan Tunisia kini berusaha membangkitkan kembali kejayaan dan nama besar Kota Kairouan yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah," kata Hussein lagi.
Karena itu, lanjutnya, peristiwa penting keagamaan seperti Musabaqah Tilawatil Quran dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW kini senantiasa diadakan di Kota Kairouan, bukan di ibu kota Tunis.
JARAK antara Kota Tunis dan Kairouan sekitar 150 kilometer dengan melalui jalan yang sangat mulus. Maklum, infrastruktur negeri Tunisia-termasuk jalan-jalan raya antarkota-yang penghasilan devisanya mengandalkan dari bisnis turisme, tampak terpelihara secara apik. Seperti diketahui, sekitar 5 juta turis mengunjungi Tunisia setiap tahun. Kota Kairouan merupakan salah satu tujuan utama wisata para turis itu.
"Ada sekitar 1.000 hingga 2.000 turis yang mengunjungi Kairouan dan Masjid Uqba bin Nafi setiap hari," kata Hussein, yang setiap hari menjaga masjid tersebut.
Kairouan hingga saat ini sangat diminati para turis dari mancanegara. Namun, turis khusus di kota itu adalah wisatawan budaya atau para arkeolog. Sebagian besar turis mengunjungi Kairouan dengan bus-bus turis yang datang dari kota wisata Sousse atau Kota Hamamet. Jarak antara Kairouan dan Souse hanya sekitar 50 kilometer, sedangkan antara Kairouan dan Hamamet sekitar 100 kilometer.
Para turis biasanya menghabiskan waktu sehari di Kota Kairouan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Masjid Uqba bin Nafi. Sebagian besar Turis yang berminat mengunjungi Kairouan berasal dari Eropa dan Jepang yang telah membaca tentang sejarah kota tersebut sebelumnya. Kairouan dikenal merupakan paduan antara Kota Damaskus dan Marrakesh, Maroko.
Di Kairouan, para turis lebih senang mengunjungi pasar sajadah atau karpet tradisional, parfum lokal, dan barang-barang yang terbuat dari perak atau tembaga. Di sekitar Masjid Uqba bin Nafi pun terdapat banyak kios dan toko yang menjual sajadah, karpet, dan barang-barang tradisional lainnya. Setiap turis atau penziarah pasti tidak lepas dari rayuan pada penjual tersebut agar sudi mengunjungi kios atau toko mereka.
Seperti halnya di kota turis lainnya, penduduk Kairouan juga mengais rezeki dengan menjual barang-barang tradisional itu kepada para turis yang berkunjung ke kota mereka.
Bagi para turis yang kurang memahami bahasa dan peradaban Arab, mereka lebih menyenangi mengunjungi kawasan Raqadah di pinggiran Kairouan. Di sana terdapat peninggalan istana para raja dari Dinasti Aghlabid, yang berkuasa di kota tersebut lebih dari satu abad. Di Raqadah, mereka bisa menyaksikan hiasan dan lukisan kehidupan kabilah lokal.
KEUNGGULAN Kairouan adalah keberadaan Masjid Uqba bin Nafi yang sangat populer dan histroris. Masjid tersebut merupakan masjid tua terbesar dan terpenting di Tunisia dan Benua Afrika. Dari kota itu dengan masjidnya, agama Islam dulu bertitik tolak menyebar ke Benua Afrika, Kepulauan Sisilia, dan Italia selatan. Sementara tentara Tareq bin Ziyad bertolak dari Kairouan menuju Andalusia (Spanyol sekarang).
Karena itu, keberadaan murid-murid asal Afrika secara permanen di Kairouan ibarat tali sejarah yang menyambungkan kota tersebut dengan benua hitam Afrika. Kota Kairouan, Benua Afrika, dan agama Islam bak sebuah kesatuan yang tak terpisahkan.
Kekhasan Kairouan adalah menyuguhkan paduan antara panorama khazanah dan modernitas. Benteng Turki dengan model bangunan asli (berbentuk bangunan benteng), misalnya, kini dijadikan hotel berbintang lima dengan segala macam fasilitas modern, seperti kolam renang, restoran, dan kamar-kamar yang elok.
Di Kairouan sendiri, pemandangan rumah-rumah penduduk khas Arab dengan jalan-jalan yang sempit mengingatkan kota lama di Cairo dan Damaskus. Menjelajah Kota Kairouan memang seakan-akan menemukan sebuah perjalanan sejarah yang telah terhenti. Bangunan dan rumah peninggalan masa abad pertengahan Islam mewarnai secara mencolok di Kota Kairouan, seperti halnya pemandangan di Kota Cairo (Mesir), Fez, dan Marrakesh di Maroko.
Adalah Uqba bin Nafi sang pendiri Kota Kairouan pada tahun 670, dan ia langsung merancang pembangunan masjid dengan menggunakan nama dirinya "Uqba bin Nafi". Alkisah, ia bersama bala tentaranya berangkat dari sebuah daerah Sahara di Mesir dan terus menyelusuri hamparan luas Sahara di Afrika utara hingga akhirnya sampai di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Kairouan-Tunisia.
Di tempat tersebut, Uqba bin Nafi bersama bala tentaranya itu membangun sebuah kamp sebagai pangkalan dan titik tolak menuju wilayah Afrika lainnya dan Andalusia. Kamp tersebut akhirnya menjadi sebuah kota Islam pertama di wilayah Afrika utara, yang bahkan ada menyebut sebagai kota suci Islam keempat setelah Mekkah, Madinah, dan Jerusalem (Al Quds).
Pada tahun 698, tentara Uqba bin Nafi berhasil mengalahkan tentara Byzantines di Carthage, yang mengantarkan ia menguasai hampir seluruh Afrika utara yang dikenal dengan sebutan "Ifriqiya". Kota Kairouan dijadikan sebagai ibu kota wilayah Afrika utara itu.
Gubernur wilayah tersebut diangkat oleh khalifah dari Dinasti Umayyah di Damaskus dan lalu Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Tradisi itu terus berlanjut pada abad berikutnya, yakni pada masa Dinasti Aghlabid (abad ke-9), Dinasti Fatimiyah (abad ke-10), dan Dinasti Zirid (abad ke-11).
Pada abad-abad itu, Kota Kairouan menjadi pusat budaya terpenting di dunia Arab yang kaya dengan para ilmuwan, literatur, dan seniman. Pertanian di wilayah tersebut sangat berkembang berkat sistem irigasi yang canggih dan aktivitas perdagangan yang juga melesat dengan wilayah sekitarnya.
Kota Kairouan secara politik dan ekonomi dalam waktu singkat mengungguli Kota Tunis, Tiemcen, Fez, Marrakesh, dan kota-kota lain di Afrika utara.
Sebagai salah satu kota suci Islam, Kota Kairouan pun dalam sekian abad sangat menarik minat para penziarah kaum Muslim dari Afrika utara dan Afrika hitam.
Kota Kairouan semula berfungsi seperti kamp militer tentara Arab, kemudian meluas dan menjadi sebuah kota. Kota tersebut beralih menjadi ibu kota Islam pertama di wilayah Arab Maghrib.
Kota Kairouan mengalami perluasan pertama pada tahun 743, kemudian diperluas lagi untuk kedua kalinya pada tahun 774. Kota itu mencapai bentuk dan luasnya seperti sekarang pada tahun 836 ketika Pangeran Ziyadatullah I menginstruksikan merenovasi kota tersebut dan membangun menara masjid seperti yang terlihat sekarang.
Menara Masjid Uqba bin Nafi memiliki tinggi sekitar 25 meter, sedangkan kubah masjid mempunyai tinggi sekitar tujuh meter.
Sementara sumber sejarah lain mengungkapkan, komandan Arab Hassan bin Nu’man adalah pelaksana pembangunan masjid itu atas dasar rancangan yang dibuat Uqba bin Nafi. Masjid itu kemudian mengalami perkembangan dan perluasan dari masa ke masa secara berkesinambungan, dari Khalifah Umayyah, Hisham Bin Abdul Malik, hingga mencapai bentuknya seperti sekarang ini.
Kota Kairouan mengalami renovasi lagi pada tahun 862, tahun 1025, tahun 1294, tahun 1618, dan pada akhir abad lalu. Renovasi terakhir terpenting dilakukan pada tahun 1970-1972, bersamaan dengan peringatan 13 abad berdirinya kota tersebut.
UNESCO, mulai tahun 1986 hingga tahun 1992, membantu mengucurkan dana untuk merenovasi Kota Kairouan, termasuk merenovasi ruangan shalat, menara, dan atap dalam masjid.
Para pendiri kota itu tampaknya sejak awal sudah menyadari bahwa di wilayah itu sangat jarang hujan. Maka, guna menampung air untuk kebutuhan masjid, mereka membangun tempat-tempat penyimpanan air untuk menampung air hujan. Tempat-tempat penampungan air itu tetap terpelihara secara baik hingga sekarang dan bahkan menyuplai kebutuhan air penduduk kota.
Sementara pintu-pintu yang dikenal sangat indah di Masjid Uqba bin Nafi adalah pintu barat, pintu air, pintu Rihanah, dan pintu Saleha.
Mimbar masjid di Kairouan merupakan mimbar tertua dan terkenal di Tunisia. Mimbar tersebut terbuat dari kayu jati dengan kualitas tinggi dan dihiasi beberapa ukiran menarik. Mimbar itu sangat terpelihara karena para khatib masjid adalah para pangeran yang sedang berkuasa pada zamannya.
Sejumlah sejarawan mengungkapkan, Kota Kairouan dibangun di atas reruntuhan Kota Romawi yang diwarnai bangunan berteknologi tinggi pada masanya.
Jangan lupa, siapa pun yang mengunjungi Kota Kairouan atau kota lain di Tunisia, cobalah makan kuskus (makanan khas Tunisia) yang dicampur dengan daging dan susu sambil menikmati kelihaian warga Kairouan dengan menunggang kuda dan nikmatilah permainan akrobatiknya.

(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)
Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
_________________________________________________________________
City's History
Kairouan (variations include Kairwan, Kayrawan, Al Qayrawan) is a city in Tunisia, about 160 kilometers south of Tunis. In 2003 the city had about 150,000 inhabitants. Founded in about the year 670, the original name was derived from Arabic kairuwân, from Persian Kârawân, meaning "camp", "caravan", or "resting place" (see caravanserai). It is the capital of the Kairouan Governorate, and regarded by Muslims as a holy city.
Kairouan was founded in about the year 670 when the Muslim general Uqba ibn Nafi selected a site in the middle of a dense forest, then infested with wild beasts and reptiles, as the location of a military post. It was to keep in check the Berber hordes and was located far from the sea where it was safe from attack. A city soon developed, with luxuriant gardens and olive groves. Ibn Nafi was killed in battle by the Berbers about fifteen years after the military post was established.
The city was soon recaptured and remained for four centuries a major holy city, the "Mecca of North Africa". In the tenth century, the city was embellished by the Aghlabites who ruled Ifriqiya from there between 800 and 909. It was the capital in the eleventh century, and was famous for its wealth and prosperity.
About the middle of the eleventh century, the Ismaili Shiite Fatimites of Egypt instigated the Egyptian Bedouins to invade this part of Africa. These invaders so utterly destroyed the city in 1057 that it never regained its former importance. Then Mahdia became the capital under the Fatimites. Under the Ottomans, who called it Kairuan in Turkish (as in modern German), and included mention of the city in the full style of the Great Sultan (alongside broader Barbary and the new vilayet), Tunis became the capital (as seat of the Dey, next the soon ever more autonomous (Basha) Bey), and remains so in modern Tunisia. In 1881, Kairouan was taken by the French, after which non-Muslims were allowed access to the city.
Kairouan is a holy city for many Muslims, and many Sunni Muslims consider it the fourth holiest city of Islam, after Mecca, Medina and Jerusalem, and the holiest city of the Maghreb. There are very many mosques in the city, among which the great mosque. For a long time, non-muslims were not allowed to enter the city, in more recent times this is allowed. Pilgrimages are made to this holy city. Judaism, no longer prevalent in the city, has an illustrious history in Kairouan, particularly in the early Middle Ages. Rabbeinu Hananel was from Kairouan and many other important and famous rabbis, including the RIF, (Rabbi Isaac Alfasi) studied there with him.
The souk (market place) of Kairouan is very famous, it is in the medina, which is surrounded by walls, and of which the entrance gates can be seen from far. Products that are sold here are carpets, vases and goods made of leather. As with merchants in most major Tunisian cities, Kairouan merchants rely on tourism for much of their income. The city's other main site is the Great Mosque, which is said to largely consist of its original building materials. In fact most of the column stems and capitals were taken from ruins of earlier-period buildings, while others were produced locally.

[+/-] Selengkapnya...

Mengenang Jejak Ibnu Khaldun di Tunisia

DI salah satu rumah pada lorong kecil di kawasan Souq (kawasan pasar lama), ibu kota Tunis, seorang pemikir besar Muslim pernah dilahirkan. Ia adalah Ibnu Khaldun, pengarang legendaris yang pernah menulis buku berjudul Al Muqaddimah. Ia lahir pada tanggal 27 Mei 1332.
RAKYAT dan Pemerintah Tunisia bangga dengan kebesaran nama Ibnu Khaldun. Sekitar 500 meter dari Souq, terdapat patung besar Ibnu Khaldun. Bila menuju Souq dari arah Jalan Habib Buorghiba di pusat Tunis, akan terlihat patung Ibnu Khaldun.
Jalan menuju tempat kelahiran Ibnu Khaldun harus melalui lorong-lorong kecil di Souq. Di kiri-kanan sepanjang lorong itu terdapat toko-toko atau kios penjual barang tradisional Tunisia.
Tampak terlihat banyak turis yang lalu-lalang di kawasan tersebut. Para turis atau peziarah di Kota Tunis tentu saja tidak dapat melewatkan kawasan Souq. Di Souq, para turis bisa membeli souvenir dan melihat rumah-rumah asli Arab Maghrib.
Para pemilik toko dan kios itu tampak sibuk menawarkan barang jualan kepada turis. Hiruk-pikuk suara pemilik toko menjadi bagian utama keramaian di Souq. Kira-kira 300 meter hingga 400 meter dari jalan utama masuk ke dalam Souq, terdapat sebuah lorong kecil yang dipercayai sebagai tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Di pojok lorong kecil itu terdapat bangunan sederhana, tempat Ibnu Khaldun pada masa kecil belajar mengaji Al Quran dan ilmu-ilmu agama. Bangunan tersebut kini dijadikan masjid, yang di depannya tertera tulisan, "Pusat Al Quran Ibnu Khaldun". Tidak sulit mencari lorong itu karena rata-rata warga Tunis di Souq tahu tempat tersebut.
"Saya tidak tahu persis di rumah yang mana Ibnu Khaldun dilahirkan. Namun, yang pasti di salah satu rumah di sepanjang lorong ini dia dilahirkan," ungkap Direktur Kajian Khazanah pada Institut Nasional Tunisia, Ben Baaziz Sadok. Gedung Institut Nasional Tunisia itu terletak di lorong kecil tempat kelahiran Ibnu Khaldun.
Ben Baaziz, yang mengaku juga sebagai dosen sejarah kuno pada Universitas Sousse-Tunisia, saat itu mendampingi Kompas melihat keadaan Gedung Institut Nasional, yang terdiri dari dua lantai. "Institut Nasional itu merupakan proyek Pemerintah Tunisia untuk menghimpun dan mendokumentasi arsip-arsip peninggalan sejarah negeri ini, termasuk semua arsip menyangkut Ibnu Khaldun," ujar Ben Baaziz.
"Gedung ini sudah ada sejak zaman Ibnu Khaldun dan mengalami renovasi beberapa kali. Sementara gedung dalam bentuknya yang terakhir ini, kira-kira baru berusia 80 tahun. Dan, ada sekitar 20 pegawai yang bekerja sehari-hari di sini," katanya lagi.
IBNU Khaldun, yang memiliki nama lengkap Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili, menjalani masa remaja dan belajar hingga usia 20 tahun di Kota Tunis-Tunisia, tempat kelahirannya. Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari wilayah Hadramaut-Yaman, yang berhijrah sejak perluasan wilayah Islam ke Andalusia dan berdomisili di wilayah Sevilla, Spanyol.
Keluarga Ibnu Khaldun bersama dua keluarga Arab berpengaruh lainnya, yaitu keluarga Bani Abu Abdah dan Bani Hujjaj, memainkan peran yang signifikan dalam urusan politik dan militer di wilayah Sevilla.
Ketika keluarga Ibnu Khaldun mulai merasa akan semakin dekat jatuhnya Sevilla ke tangan Spanyol pada tahun 1248, mereka keluar menuju Melilia-Maroko, lalu pergi ke Tunisia pada masa kekuasaan Abi Zakariya Hafsid pada tahun 1228-1249.
Meskipun selalu berada dalam situasi pengungsian, keluarga Ibnu Khaldun mampu mempertahankan reputasi keilmuan dan status aristokrasinya. Maka, Abu Bakar Muhammad bin Hassan (kakek Ibnu Khaldun) dipercaya menjabat urusan keuangan.
Namun, Ahmed ibnu Abi Imarah Masieli, yang berkuasa di Tunisia pada tahun 1283-1284, menangkap Bin Hassan serta menyita semua kekayaannya dan akhirnya membunuhnya. Meski demikian, Muhammad (putra Bin Hassan), yang merupakan kakek langsung Ibnu Khaldun, tetap menunjukkan loyalitas terhadap Sultan Imarah Masieli dan menduduki beberapa posisi penting di Tunisia dan Aljazair.
Sementara Muhammad (putra Muhammad)-ayah kandung Ibnu Khaldun-memilih tidak terjun ke dunia politik dan berkonsentrasi pada keilmuan serta kesusastraan. Hal itu membawa inspirasi pada putranya, Ibnu Khaldun, untuk mengikuti jejak ayahnya, yakni menekuni dunia keilmuan.
Pada saat itu, Kota Tunis kaya dengan para ulama dan cendekiawan yang terkenal di wilayah Arab Maghrib dan bahkan Benua Afrika. Interaksi Ibnu Khaldun dengan para ulama Arab Maghrib, terutama mereka yang beraliran rasionalis, mendorongnya untuk belajar filsafat yang kelak memengaruhi jalan pemikirannya.
Masa kedua perjalanan hidup Ibnu Khaldun disebut sebagai masa petualangan politik, yang bermula di usia 20 tahun hingga 43 tahun. Ibnu Khaldun saat itu bertekad berangkat ke Kota Fez-Maroko untuk menimba ilmu, yang kala itu tempat tersebut kaya dengan para ulama terkenal yang hijrah dari Andalusia.
Ketika tiba di Kota Fez pada tahun 1354, Ibnu Khaldun memprediksi akan mendapatkan jabatan penting, tetapi ternyata tidak sesuai dengan harapan. Kekecewaan tersebut membuat Ibnu Khaldun semakin berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan. Kendati begitu, ambisi politik Ibnu Khaldun tidak pernah pudar.
Ketika Sultan Marinides di Kota Fez jatuh sakit, ada upaya yang melibatkan Ibnu Khaldun untuk mengembalikan mantan penguasa Biaja-Aljazair Pangeran Abi Abdullah ke tampuk kekuasaan di Fez. Namun, upaya yang disebut sebagai gerakan konspirasi tersebut terbongkar dan Ibnu Khaldun dijebloskan ke penjara selama dua tahun (1357-1358).
Ketika Abu Anan wafat, terjadi pertarungan memperebutkan kekuasaan. Ibnu Khaldun mengambil manfaat dari pertarungan tersebut, dan ia dapat dibebaskan dari penjara. Setelah keluar dari penjara, Ibnu Khaldun bergabung dalam barisan oposisi dalam upaya meraih posisi dalam kekuasaan.
Pada tahun 1359, Ibnu Khaldun mendapat posisi penting, yakni dipercaya sebagai sekretaris Sultan Marinides baru, Abi Salim. Namun, Ibnu Khaldun menduduki posisi tersebut hanya sekitar dua tahun lantaran goyahnya kekuasaan Abi Salim menyusul aksi unjuk rasa terhadap kekuasaan Abi Salim itu, termasuk memprotes peran Ibnu Khaldun dalam kekuasaan yang akhirnya berhasil didepaknya.
Ibnu Khaldun kemudian merasa sudah tidak mendapat tempat lagi di Fez dan berusaha keluar dari kota tersebut. Ia semula berniat kembali ke Tunisia setelah gagal di Fez. Namun, Ibnu Khaldun memilih pergi ke Granada-Andalusia. Di Granada, Ibnu Khaldun untuk pertama kalinya melakukan komunikasi dengan dunia Kristen ketika ia diutus oleh Ibnu Khatib (penguasa Muslim Granada) untuk mengadakan kesepakatan damai dengan penguasa Kristen di Sevilla, Pedro The Cruel.
Pada tahun 1365, Ibnu Khaldun keluar dari Granada setelah merasakan situasi di wilayah itu tidak kondusif lagi bagi dia. Ia berharap mendapat posisi penting lagi di wilayah Arab Maghrib.
Penguasa Biaja-Aljazair kebetulan menawarkan pada Ibnu Khaldun jabatan deputi raja dengan mengajar dan sebagai khatib di Masjid Kasbah. Sementara adiknya, Yahya Bin Khaldun, mendapat jabatan sebagai hakim agung. Namun, masa itu cepat berakhir pula karena penguasa Konstantin, Abu Abbas, memerangi Biaja dan membunuh penguasanya, Abu Abdullah.
Sejak itu Ibnu Khaldun memilih istirahat sementara dari dunia politik dan berkonsentrasi pada dunia keilmuan. Akan tetapi, ambisi politik Ibnu Khaldun ternyata belum pudar sama sekali. Ia mendorong terjalinnya koalisi antara Sultan Hafsi Abi Ishak Bin Ibrahim dan Sultan Tiemcen Abi Hammu melawan penguasa Biaja Abu al Abbas.
Ia memimpikan menyatukan wilayah Arab Maghrib dari keterpecahan dan persaingan antara penguasa wilayah satu dan lainnya. Namun, lagi-lagi ia mengalami kekalahan politik ketika penguasa Tiemcen, Abu Hammu, ditaklukkan. Ibnu Khaldun sendiri ditangkap tentara Sultan Abdul Aziz Marinides tatkala hendak menyeberang ke Andalusia, tetapi tidak beberapa lama setelah itu ia dibebaskan lagi.
Ia kembali lagi ke Fez dan mendapat sambutan hangat di kota tersebut. Ia berkonsentrasi belajar di kota itu. Namun, tidak berapa lama setelah itu, ia ditangkap dan lalu dibebaskan lagi serta diizinkan menyeberang ke Andalusia. Pada tahun 1375, Ibnu Khaldun kembali ke Arab Maghrib dan berdomisili bersama keluarganya di Kota Tiemcen-Aljazair.
Ibnu Khaldun menjalani masa tua dan isolasi diri untuk konsentrasi terhadap ilmu pengetahuan, bermula dari usia 43 tahun hingga wafatnya. Pada masa itu, Ibnu Khaldun memilih meninggalkan dunia politik. Ia kemudian keluar dari Tiemcen dan berdomisili di wilayah Oran selama empat tahun, yakni tahun 1375-1379.
Ketika tinggal di Oran, Ibnu Khaldun mulai mengarang kitab Al Muqaddimah yang sangat legendaris itu. Di saat mengarang kitab tersebut, Ibnu Khaldun merasa kekurangan referensi, yang memaksa ia minta izin kepada Sultan Hafsid Abu Abbas untuk kembali ke Tunisia.
Ia tiba di Tunis pada tahun 1378 setelah meninggalkannya selama 27 tahun. Ia menyelesaikan kitab Al Muqaddimah di Tunisia.
Dalam Al Muqaddimah, Ibnu Khaldun menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara. Ia mulai menyadari pula, walaupun secara kultural Islam masih berada dalam zaman keemasan, basis material dari hegemoni Islam ketika itu telah melemah. Misalnya, wilayah-wilayah Islam di Afrika utara menghadapi tantangan dari suku-suku nomaden tradisional serta persaingan antara penguasa di satu sisi dan kekuatan Kristen di sebelah utara yang menguasai alur Mediterania di sisi lain. Invasi Mongol dari timur juga menggerogoti struktur yang telah terbangun dan kota-kota peradaban Islam.
MESKIPUN telah berkonsentrasi mengajar dan mendalami ilmu, lawan-lawan Ibnu Khaldun terus mengganggu, yang akhirnya ia memutuskan meninggalkan Tunis dan Arab Maghrib.
Pada tahun 1382, ia meninggalkan Tunisia menuju Alexandria dan kemudian ke Cairo. Ia mulai menjalani hidup di Cairo sebagai pengajar di Universitas Al Azhar. Pada tahun 1384, ia diangkat sebagai hakim untuk mazhab Maliki.
Di Cairo pun ia memiliki banyak musuh yang selalu berusaha menyingkirkannya dan akhirnya ia dipecat sebagai hakim pada tahun 1385. Ia kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembali dari Mekkah, ia cenderung ke arah sufi dan memimpin sebuah sekolah sufi. Setelah 14 tahun mengajar, Ibnu Khaldun dipercaya kembali sebagai hakim pada tahun 1399, tetapi dipecat lagi pada September 1400.
Pada bulan Desember 1400, Ibnu Khaldun keluar dari Cairo menuju Damaskus. Di Damaskus, ia kembali menghadapi sebuah pertarungan kekuasaan yang memaksa ia kembali ke Cairo. Pada tahun 1401, ia tiba di Cairo dengan sambutan hangat dan diangkat kembali sebagai hakim hingga wafatnya pada tanggal 17 Maret 1406.
Patung Ibnu Khaldun di pusat kota Tunis yang gagah perkasa memang seperti membersitkan dirinya sebagai seorang ilmuwan besar dan sekaligus politisi kawakan। Dua identitas itulah yang melekat pada diri Ibnu Khaldun hingga akhir hayatnya.(Musthafa Abd Rahman, dari Tunisia)

Sumber: Kompas, Jumat, 6 Agustus 2004.
___________________________________________________________________
Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadhrami, 14th-century Arab historiographer and historian, was a brilliant scholar and thinker now viewed as a founder of modern historiography, sociology and economics. Living in one of humankind’s most turbulent centuries, he observed at first hand—or even participated in—such decisive events as the birth of new states, the death throes of al-Andalus and the advance of the Christian reconquest, the Hundred Years’ War, the expansion of the Ottoman Empire, the decline of Byzantium and the great epidemic of the Black Death. Albert Hourani described Ibn Khaldun’s world as “full of reminders of the fragility of human effort”; out of his experiences, Arnold Toynbee wrote, “He conceived and created a philosophy of history that was undoubtedly the greatest work ever created by a man of intelligence….” So groundbreaking were his ideas, and so far ahead of his time, that a major exhibition now takes his writings as a lens through which to view not only his own time but the relations between Europe and the Arab world in our own time as well. —The Editors

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, August 22, 2007

Dari Agra dengan Cinta

Oleh: Arif B Sholihah
You allowed your kingly nation to vanish, Shah Jahan, but your wish was to make a tear drop of love in the cheek of eternity (R Tagore).

Kalimat indah Rabindranath Tagore yang dikutip buku panduan perjalanan di pangkuan terus saja terngiang di telinga. Begitulah sang pujangga menggambarkan Tajmahal yang akan segera kami ziarahi. Ia bagaikan tetesan air mata cinta pada pipi keabadian.
Agra masih empat jam lagi. Langit sudah mulai senja. Hamparan ladang mustard dengan bunga-bunga kuning cerianya terhampar di kanan-kiri jalan. Sesekali tampak perempuan desa berpakaian sari warna-warni membawa kendi air di kepala.
Menyusuri negeri Hindustan melalui jalan darat memang tidak selalu mudah. Begitu keluar dari jalan raya arah Jaipur, Rajasthan, perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang berlubang dan sempit menjadi tantangan tersendiri. Seperti saat ini.
Hari semakin gelap saja. Jendela bus mulai kami tutup. Sesegera setelah gelap datang, cuaca semakin berangin. Sopir mulai menyalakan hio dan lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pooja kepada mobile shrine yang terpajang di kaca depan bus kembali dilakukan. Kami pun ikut terbawa suasana ritual mereka yang syahdu. Ooh… Hindustani….
Pukul 21.00 waktu setempat kami tiba di Agra. Sebuah kota di gurun Uttar Pradesh yang masih tampak sangat hidup. Di kanan-kiri jalan baliho-baliho iklan terpampang tanpa penataan. Wajah-wajah akrab artis Bollywood seolah menghilangkan penat perjalanan.
Agra bukanlah kota besar, namun sejak beratus-ratus tahun lalu Agra telah terpilih menjadi ibu kota bagi Dinasti Sikandra, jauh sebelum Dinasti Mughal akhirnya berkuasa dari kota di tepi Sungai Yamuna. Oh Agra, kami sudah tiba.
Janji untuk melihat Tajmahal di langit malam Agra pupus begitu kami tiba di kamar hotel. Meski hotel melati, tetapi penat membuat kami bahkan melupakan makan malam. Harapan bermimpi tentang kecantikan Mumtaz Mahal dan kegagahan Shah Jahan menjadi pilihan. Seawal pukul 04.00 kami dibangunkan suara-suara orang berjalan dari koridor hotel. Kami pun ingin segera bergegas. Selamat pagi Agra.
Pukul 06.00. Kabut masih putih ketika kami menaiki puncak hotel. Sungguh di luar dugaan, Tajmahal berdiri dekat dengan kami. Sangat dekat. Meski dinding marmer putihnya masih dipeluk kabut, tetapi keindahannya membuat kami menahan napas. Cuaca dingin tidak lagi terasa begitu bangunan dengan proporsi sempurna itu tampak di hadapan. Ternyata hanya dengan berjalan 200 meter saja gerbang Tajmahal telah di depan mata.
Pengunjung dari seluruh dunia berduyun-duyun. Wajah-wajah memancarkan rasa keingintahuan yang besar pada Taj, sang legenda cinta. Kewujudannya adalah obsesi bagi Shah Jahan yang hidup pada era tahun 1592-1666 Masehi, meski dengan mengorbankan kerajaannya yang besar dan gemilang. Shah Jahan dikenal sebagai raja yang royal membangun bangunan megah, meski dengan menghabiskan harta negara. Dan, Tajmahal-lah puncaknya. Ia bukanlah istana kebesaran, tetapi pusara. Tempat sang kekasih Mumtaz dibaringkan melalui keabadian media arsitektur.
Taj sang arsitek
Seorang lelaki Rajasthani menjadi pemandu kami. Kumis tebalnya yang tampak sangar hilang begitu saja seketika ia menggambarkan keindahan Tajmahal. Selama 14 tahun Tajmahal dibangun dengan penuh energi dari sang raja.
Nama arsitek tidak pernah ada disebut dalam sejarah, para perajin berusaha menerjemahkan keinginan sang raja, sehingga dapat dikatakan dia sendirilah arsitek bangunan ini. Pada tahun 1644 Masehi bangunan Tajmahal sempurna berdiri. Terbuat dari marmer putih dari Gurun Rajasthan, berbagai ornamen ukiran meliputi seluruh dindingnya dengan bebatuan mulia di sekelilingnya.
Tajmahal dibangun oleh kebesaran cinta, kata pemandu kami. Itulah sebabnya ia selalu memancarkan keindahan yang berbeda-beda setiap saatnya. Pagi hari ia akan tampak kekuningan oleh matahari pagi dan semakin siang ia semakin putih. Marmer putihnya memancar pada cahaya yang sempurna. Dan malam hari, terutama purnama, bayang-bayang hitam Tajmahal dari Sungai Yamuna akan tampak seolah ia adalah bangunan kembar Tajmahal putih dan Tajmahal hitam di permukaan Yamuna.
Melangkah di atas lantai Tajmahal, ornamen mawar di seluruh dindingnya mulai tampak bersinar. Batu-batu mulia yang terselip di antaranya menjadikan dinding Tajmahal penuh warna.
Kutipan ayat-ayat Al Quran terhampar di atas gerbang ruang utama. Pusara Mumtaz mulai tampak dalam kegelapan. Kedudukannya yang simetris dengan bangunan sungguh terdesain sempurna. Di sisinya muncul pusara lain, yang tampak seperti elemen tambahan saja. Ia adalah pusara sang raja sendiri, Shah Jahan. Tidak salah lagi, hanya untuk sang ratulah bangunan indah ini dibangun.
Mumtaz Mahal (1592-1631) atau sebelumnya dikenal sebagai Arjamand Banu adalah istri kesayangan Shah Jahan. Nama Mumtaz Mahal yang berarti The Chosen One of the Palace diberikan kepadanya pada hari pernikahan mereka. Nama ini juga kemudian menjadi abadi dipusaranya sendiri, Tajmahal.
Mumtaz adalah keturunan Persia, menikah dan kemudian dikaruniai 14 orang anak, pada usia perkawinan mereka yang ke-19. Kelahiran anak yang ke-14 inilah yang membawanya ke alam keabadian. Mumtaz meninggal pada usia yang sangat muda, 39 tahun.
Berperahu
Ziarah kali ini terasa begitu bermakna ketika pemandu mengajak kami melalui jalan yang selalu digunakan Shah Jahan semasa tuanya untuk mengunjungi Tajmahal.
Upacara kebesaran melalui gerbang utama tidak selalu digunakan sang raja ketika ia sangat rindu kepada kekasihnya. Dia lebih memilih mendekati Tajmahal dengan berperahu dari istananya di Agra Fort ke Taj melalui Sungai Yamuna.
Apalagi setelah ia dipenjarakan oleh putranya sendiri sehingga tidak lagi dapat mengunjungi Tajmahal. Dia memilih berdiam sehingga meninggalnya (1666 M) di Muthumman Burj, sebuah ruang di puncak Agra Fort yang menghadap langsung ke Tajmahal.
Jika pada masa lalu Shah Jahan berperahu dari Agra Fort ke Tajmahal, kita pun dapat melakukannya. Paling tidak untuk ikut merasakan bagaimana sang pencinta ini bergerak mendekati Tajmahal. Melalui dermaga yang hanya dapat diakses keluarga kerajaan, Shah Jahan memasuki kompleks Tajmahal untuk masuk langsung menuju makam sang permaisuri yang terletak di tengah bangunan utama Taj.
Kini, dengan ongkos 20 rupee saja kita akan diajak menyeberangi sungai ini dan menikmati Tajmahal dari seberang sungai। Jangan lupa, mintalah kepada si pengemudi perahu untuk menyanyikan lagu memuji keindahan Sungai Yamuna dan bangunan Tajmahal ini. Sungguh tidak terlupakan.

Arif B Sholihah Dosen Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Peserta 3rd International Field School on Asian हेरिटेज.

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Oktober 2005.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, July 26, 2007

Menengok "Saudara" di Madagaskar


MADAGASKAR, pulau terbesar keempat di dunia setelah Greend Island, Irian, dan Kalimantan, terletak dekat benua Afrika. Dengan penduduk sekitar 16 juta orang, mayoritas berwajah Melanesia, bahkan cenderung Indonesia, memiliki kekhasan sendiri. Mereka merasa dekat dengan Indonesia, bahkan presidennya, Marc Malomanana, ketika menerima awak perahu Borobudur di istananya menyebutkan, "Kita adalah saudara".
Nah, inilah beberapa keadaan "saudara" kita.
Wartel Tenda
MODALNYA cukup tenda kafe yang ditanam di pinggir jalan dilengkapi dengan meja kecil untuk menaruh telepon seluler, buku catatan, dan dua stopwatch. Sebuah papan kecil bertuliskan nama perusahaan seluler berikut tarif menelepon lokal, interlokal, atau internasional disandarkan di meja. Siapa pun yang membutuhkan hubungan telepon bisa langsung disambungkan. Begitu hubungan tersambung, tangan kiri pemilik menyerahkan telepon seluler, tangan kanan memijit tombol penghitung waktu (stopwatch). Jika pembicaraan usai, pemakai tinggal membayar sesuai waktu penggunaannya.
Ini memang baru bisa dijumpai di Madagaskar, tepatnya di kota Antananarivo. Namun, idenya sungguh brilian. Bayangkan, membuka warung telepon cukup beratap tenda yang bisa pindah ke mana-mana. Bahkan, ada cara yang lebih sederhana lagi, seorang lelaki menyandang tas di depan dadanya, bertuliskan Taxi Phone. Tas itu berisi dua telepon genggam dan lelaki itu menjajakan jasanya masuk-keluar pasar. Siapa yang mau menelepon tinggal menyerahkan nomornya.
Di Madagaskar terdapat dua perusahaan seluler, Orange dan Madacom. Jika pelanggan menyerahkan nomor telepon, pemilik wartel itu segera mengenali SIM card keluaran mana dan ia pun akan menghubungi tujuan dengan telepon seluler ber-SIM card yang sama agar tarifnya lebih murah. Bagi pengguna telepon, untuk pembicaraan lokal per menit dikenai biaya FMG 1.000 setara Rp 1.250. Tarif untuk interlokal MFG 3.500 (Rp 4.500) dan hubungan internasional MFG 10.000 (Rp 12.500) per menit. Pemilik berlangganan pascabayar sehingga tarifnya tentu lebih murah.
Jadi, sebenarnya tak perlu susah-susah membuka warung telepon. Sederhana, tetapi praktis. (ms)
"Sanering" Diam-diam
MADAGASKAR baru saja mengakhiri pemerintahan sosialis dan berganti menjadi liberal. Selain melakukan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, pemerintahan PM Malomanana melakukan pemotongan nilai uang secara damai. Ini dilakukan selain untuk mengangkat nilai uangnya yang selama ini menggunakan franc Malagasi (FMG), juga mengurangi dominasi Perancis.
Kini, Pemerintah Madagaskar mengeluarkan mata uang aryary di samping FMG yang masih berlaku. Mata uang aryary bernilai lima kali lipat dibandingkan dengan FMG dan hal itu dicantumkan dalam lembar aryary. Pada awalnya tulisan aryary tercetak lebih kecil daripada MFG, namun pada lembar uang keluaran tahun 2003, justru tulisan aryary yang diperbesar.
Di pasar-pasar tradisional luar kota Antananarivo, ibu kota Madagaskar, harga-harga ditetapkan dalam aryary, sedangkan di dalam kota orang masih menggunakan FMG sebagai patokan. Menurut ketentuan pemerintah, pada tahun 2004 mendatang, mata uang MFG secara berangsur akan ditarik dan akhirnya tidak akan digunakan lagi.
Pemerintah menetapkan 1 dollar AS nilainya setara 6.000 FMG, namun di pasar gelap orang berani menukar hingga 64.000 MFG. Hanya saja pasar gelap memang benar-benar gelap, tidak terang-terangan seperti di Indonesia dulu. Jika penjual dan pembeli tertangkap sedang transaksi, hukumannya cukup berat. (ms)
Detergen untuk Cuci Rambut
PRODUK Indonesia banyak beredar di Madagaskar dan menjadi kesenangan masyarakat. Selain harganya murah, nama Indonesia (apalagi Soekarno) tidak asing bagi mereka. Sabun detergen So Klin, misalnya, dijajakan di banyak tempat hingga pelosok kota. Setiap sachet isi 50 gram dijual sekitar Rp 200 dan tidak hanya digunakan untuk mencuci pakaian, tetapi juga mencuci rambut.
Di pasar-pasar, kita akan menjumpai mi instan, alat-alat elektronik, dan barang pecah belah buatan Indonesia. Harganya bisa separuh dibandingkan buatan Perancis. Ini sangat membantu rakyat yang penghasilan rata-ratanya hanya 250 dollar AS. Namun, kini barang Cina mulai masuk, tentu harganya lebih murah lagi.
Walaupun barang produk Indonesia begitu banyak beredar, tetapi tak tercatat di kantor perwakilan Indonesia. "Barang- barang itu dibawa inang-inang, mereka membawa satu kontainer berisi bermacam barang," kata Kepala Perwakilan Tetap RI di Madagaskar, Richard Simbolon.
Nama Pasar Mangga Dua dan Tanah Abang sangat dikenal pengusaha Madagaskar yang sering ke Indonesia. Sayang sekali data lain tentang Indonesia termasuk obyek wisata sangat minim. Salim Joonas, Konsul Jenderal RI di Mauritius, negara tetangga Madagaskar, mengeluhkan kurangnya informasi tersebut. Padahal menurut pengakuannya, setiap tahun ia mengeluarkan 250 visa wisata ke Indonesia.
"Potensi ada, tetapi supporting tak ada," katanya sambil menunjukkan TV di ruang tamunya yang memutar VCD tentang Bali tahun 1975. (ms)
Hotel = Warung
ORANG yang baru mengunjungi Madagaskar, apalagi di luar kota, pasti terkecoh dengan banyaknya hotel di negara itu. Di sepanjang jalan banyak kita jumpai papan nama hotel, yang sebenarnya hanyalah warung makan. Hanya di kota besar semacam Antananarivo, Mahajanga, hotel memanglah tempat untuk bermalam.
Menu warung makan di pinggir jalan tak ubahnya di Indonesia, tentu saja namanya berbeda. Singkong rebus dicampur kacang-kacangan ditambah daging sudah menjadi menu yang cukup enak. Jika mau tampak lebih menarik, singkong direbus dengan kulit kayu tertentu atau pewarna yang membuat singkong itu berwarna kemerahan.
Harga daging sapi jauh lebih murah dibandingkan dengan ayam.
Satu kilogram daging sapi bisa dibeli dengan 20.000 MFG setara Rp 25.000, tetapi seekor ayam potong bisa lebih dari Rp 40.000. Itulah sebabnya di pinggir jalan banyak penjual daging sapi lengkap dengan sosisnya yang bulatannya sebesar bola tenis.

Sumber: Kompas, Senin, 3 November 2003.

[+/-] Selengkapnya...

Taman-taman Nasional, Wisata Andalan AS

Amerika Serikat terkenal sebagai negara maju. Penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi terkemuka di dunia. Negara super power yang mampu mengekspor produk-produk industri. Tapi sekaligus mampu menarik para wisatawan untuk mengagumi keindahan alam yang terpelihara. Sebagai negara industri terbesar di muka bumi, yang identik dengan kerusakan lingkungan, limbah dan polusi, AS dapat mengimbangiya dengan memelihara sumber daya alam dan konservasi kawasan-kawasan lindung.
Di berbagai negara bagian AS, terdapat beberapa taman nasional. Kawasan yang dilindungi UU, namun terbuka untuk dikunjungi para wisatawan domestik atau mancanegara. Ketika berada di tengah keindahan taman-taman nasional itu, para pengunjung benar-benar dapat menikmati kedamaian dan ketenangan. Lupa sama sekali terhadap kondisi AS yang ingar-bingar dengan kota-kota metropolitan. Lupa terhadap sikap AS yang dianggap arogan. Suka menyerang negara-negara lain, seperti Afganistan dan Irak, serta bertindak seperti "polisi dunia".
Di tengah keheningan dan kebeningan langit, hutan, air, dan cuaca taman-taman nasional, AS benar-benar menampakkan diri sebagai negara yang patut dikagumi umat manusia.
Beberapa taman nasional terkenal di AS yang sempat ditelusuri, mulai dari arah barat, adalah Yosemith National Park di Arizona. Terkenal dengan lembahnya yang luas dan menawan. Para wisatawan dapat berkendaraan mengelilingi dasar lembah, yang terdiri dari lapisan batu granit, diselingi air terjun dan menara-menara karang tinggi lancip. Tidak jauh dari Taman Nasional Yosemith, terhampar Danau Mammoth yang luas dan berair jernih. Pasangan obyek wisata yang amat serasi.
Dari California melintas ke Arizona. Taman Nasional Grand Canyon merupakan tujuan utama. Kawasan yang sering dijadikan latar belakang film-film koboi tempo dulu. Hamparan batu karang mirip karpet warna-warni. Sebagian rata, sebagian merupakan tonjolan-tonjolan acak. Namun tampak harmonis. Apalagi dipandang dari South Rim, sebuah tempat perhentian khusus untuk menikmati panorama unik dan menarik hiasan batu karang Grand Canyon.
Dari Poenix, ibu kota Arizona di selatan, menuju Grand Canyon di utara, para wisatawan dapat menikmati pemandangan sepanjang jalan. Antara padang kaktus raksasa Saguaro, Istana Montezuma (pemimpin Indian Mexico yang dibantai pasukan Spanyol abad 17), lembah dahan oak di kota Sedona, dan puncaknya Grand Canyon tadi. Lembah batu karang penuh warna yang di tengahnya mengalir lembut Sungai Colorado.
Di sebelah utara Taman Nasional Grand Canyon, di negara bagian Utah, paling banyak terdapat taman nasional. Antara lain Taman Nasional Zion, yang berdekatan dengan Taman Nasional Bryce Canyon, Taman Nasional Capitol, Taman Nasional Arches, dan Danau Powell. Juga kawasan wisata lain, seperti Monumen Nasional Escalante. Kota-kota dan tempat di negara bagian ini, erat kaitannya dengan sejarah Brigham Young, pencetus ajaran agama baru, sempalan agama Nasrani. Rumah musim dingin Brigham Young terletak di lingkungan Taman Nasional Zion, dinamakan St. George.
Di Taman Nasional Capitol Reef, menjulang pegunungan Henry. Salah satu pegunungan yang dianggap suci oleh Indian Navajo dan Anasazi. Di bagian lembah pegunungan itu, terbentang Danau Powell yang sangat menarik untuk dijadikan tempat pesiar menggunakan perahu.
Sedangkan Taman Nasional Arches lebih banyak didominasi gundukan batu-batu besar. Kumpulan batu berwarna hitam dan abu-abu terbesar dan terbanyak di dunia, barangkali. Berbeda dengan Bryce Canyon yang warna batu-batunya merah atau jingga, membentuk jajaran mirip pohon, tiang, lorong, yang luas dan panjangnya tak terkira. Para koboi tempo dulu menyebut Bryce Canyon sebagai "Neraka Penelan Sapi". Sebab sapi yang tersesat ke sini, tak diharapkan dapat diketemukan lagi dalam keadaan hidup dan utuh.
Melaju terus ke utara, ke negara bagian Wyoming. Taman Nasional Yellowstone telah menunggu, sebuah lokasi yang menawarkan panorama geyser, di lembah pegunungan Grand Teton yang megah. Ke sebelah utara lagi, Montana, yang berbatasan dengan Kanada, terdapat Taman Nasional Glacier yang memiliki berbagai macam keunikan tersendiri dibanding taman-taman nasional lainnya.
Di Pensiylvania, terdapat cagar budaya kaum Amish, yaitu orang-orang Yahudi Ortodoks yang mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak berimigrasi ke AS, hingga abad milenium ini. Letaknya tidak jauh dari kota metropolitan Lancaster. Kaum Amish ini, dapat dibandingkan dengan orang Baduy di Banten, atau orang Tengger di Jawa Timur. Kehidupan dan adat istiadat mereka yang "bertentangan" dengan dunia moderen Amerika, mendapat perlindungan ketat dari pemerintah AS. Sehingga hak-hak mereka atas tanah adat dan ulayat dan kebiasaan hidup sehari-hari tak pernah terganggu.
Tentu saja kita tak dapat melewatkan air terjun Niagara, yang sebagian berada di negara bagian New York, sebagian lagi di Ontario, Kanada. Air terjun terbesar di dunia itu, merupakan tumpahan air Sungai St. Lawrence. Kawasan sekeliling air terjun, baik yang ada di New York, AS, maupun Kanada, merupakan taman nasional dan kawasan lindung yang terjaga ketat keaslian habitatnya. Tempat ini tidak pernah berubah, walaupun setiap hari disesaki ribuan pengunjung. Ini karena pengawasannya sangat ketat di samping kesadaran wisatawan cukup tinggi. Mereka tidak pernah iseng mengganggu kondisi asli Niagara, selain menikmati keindahan air terjun dan panorama di sekitarnya.
AS sebagai negara industri kelas satu, mampu melestarikan alam dan lingkungannya. Benar-benar patut dicontoh. (H.Usep Romli H.M.)


Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 4 September 2004.

[+/-] Selengkapnya...

Dari Atraksi Sulap Hingga Tajil Istimewa

”Ngabuburit” di Kota Marakesh

Oleh H.Usep Romli HM
"NGABUBURIT" alias menunggu waktu berbuka puasa, ternyata bukan hanya di Indonesia. Di Marakesh, sebuah kota tua di Kerajaan Maroko, Afrika Utara, juga sama.
Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, sore hari beramai-ramai berkumpul di pusat kota. Terutama di sebuah lapangan luas, atau alun-alun, yang berada di dekat Masjid Kutubia, masjid jami terbesar di Marakesh.
Di situ, para pejalan kaki, pedagang kaki lima, serta para penyaji berbagai atraksi, berkumpul hingga keadaan hiruk-pikuk. Suara teriakan, obrolan, nyanyian, berbaur dengan tabuhan bermacam-macam alat musik pengiring aneka ragam pertunjukan. Ada sulap, akrobat, badut, dan banyak lagi. Semuanya menarik untuk ditonton.
Para penyaji atraksi "seni rakyat" tersebut, bukan hanya penduduk asli Marakesh, atau berasal dari kota-kota lain di Maroko, seperti Rabat, atau Casablanca. Tapi juga dari luar negeri. Antara lain; Senegal, Mauritania, Nigeria, Tunisia, Aljazair. Pokoknya multietnis dan multibangsa.
Yang paling banyak mendapat perhatian adalah tukang sulap. Menggunakan tambang katun, rotan, ular kobra hidup dan peti kayu tertutup kain hitam.
Menggunakan keahlian memainkan tangan dan kepasihan, tukang sulap itu mengubah tali atau rotan menjadi ular kobra. Begitu pula sebaliknya, ular dimasukkan ke dalam peti dan keranjang, sudah berubah menjadi tali.
Sesekali pesulap meminta penonton menebak, apakah yang ada dalam peti, ular atau Tali. Baik ular asli, atau ular "kajajaden" yang semula tali, dapat melakukan tarian meliuk-liuk, mengikuti irama "terebang" yang dipadukan dengan suara terompet. Mirip seni "nagin" di India.
Sesekali pesulap, meminta penonton memasukan tangan ke dalam peti. Banyak yang menolak, karena takut yang teraba ular betulan. Ada satu dua orang yang berani mencoba. Ternyata yang terpegang seutas tambang atau rotan.
Tapi tak jarang pula memegang ular ! Sehingga orang tersebut terkejut. Melompat ke belakang, tak peduli jejeran rapat penonton lain, yang tertawa dan bersorak-sorai menyaksikan kejadian lucu itu.
Terdorong rasa penasaran, penulis pernah mencoba menanyakan, apakah atraksinya itu sulap atau sihir ? Pemain sulap asli Marakesh itu, menjawab sambil tersenyum, mungkin sulap, mungkin saja sihir. "Anda tahu, negara kami dinamakan Maghribi. Sejak dulu terkenal dengan sihirnya, sihir Maghribi,"jawabnya penuh gurau.
Maghribi adalah sebutan populer Maroko di kalangan masyarakat Arab, karena letaknya berada di ujung barat laut benua Afrika. Sedangkan Marakesh, merupakan kota ketiga terbesar di Maroko, setelah metropolitan modern Casablanca, dan ibu kota Rabat.
Berada di lereng barat daya Pegunungan Atlas, kira-kira 150 km sebelah selatan Rabat. Karena cukup jauh dari ibu kota, Marakesh kadang-kadang terlewat dari agenda perjalanan wisata singkat.
Padahal Marakesh sangat kaya oleh peninggalan sejarah, karena pada abad ke-11 pernah menjadi ibu kota Kerajaan Maghribi Dinasti Murabitun. Sebuah dinasti Arab-Berber (Afrika Utara) yang pernah melahirkan penguasa-penguasa Andalusia (Spanyol) ketika berada di bawah kekuasaan umat Islam (750-1492).
Jejak-jejak kejayaan masa lalu Murabitun, masih tampak pada pasar tradisional yang menonjolkan nuansa budaya Berber, warung-warung penjual manisan khas Pegunungan Atlas, bangunan-bangunan tempat membuat gerabah "keramik biru" yang amat dikagumi penggemar pernik-pernik hiasan rumah, gerbang-gerbang kota yang kokoh dilengkapi pintu besi, menara-menara terbuat dari batu bata merah setengah jingga.
Bangunan-bangunan kuno yang masih terpelihara utuh, di antaranya Menara Kutubia bersama masjid jaminya, gerbang tua Babul Aquino, Souqul Madina (pasar kota).
Biro-biro wisata di Rabat atau Casablanca selalu mempromosikan Marakesh sebagai pusat seni budaya Arab Berber khas Afrika Utara yang masih bertahan dari serbuan modernisasi.
Di "Souqul Madina" umpamanya, bebagai corak perhiasan logam dari emas, platina, perunggu, kuningan, dan tembaga, menjadi ikon cendera mata.
Juga wangi-wangian yang dikemas dalam wadah-wadah unik menarik, baik botol kaca maupun keramik, menebarkan aroma parfum alam yang bersumber dari bunga-bungaan, rumput atau daun-daunan dan kayu-kayuan asli Pegunungan Atlas.
Sesak padat suasana pasar tak terasa berkat semilir angin dari lubang-lubang di atas atap tinggi. Ditambah denting mandolin dan gambus, mengiringi dendang lagu-lagu padang pasir.
Jika matahari sudah terbenam, acara "ngabuburit" yang riuh rendah mendadak sepi. Alun-alun Marakesh menjadi kosong karena semua orang berbondong-bondong ke masjid Kutibia, untuk ikut menyantap hidangan future (tajil) istimewa, berupa air teh campur bubuk "kardamon" (kapol) serta buah kurma segar setengah matang.
Usai salat magrib, baru berbuka makanan pokok yaitu "couscous" sejenis keripik terbuat dari gandum, dicelupkan ke kuah gulai daging kambing atau unta yang gurih berminyak. Menu utama ini, didampingi "kebab" berbentuk keratan daging ditusuk seperti sate.
Bumbunya terbuat dari tumbukan kacang tanah , kecap kental, perasan jeruk nipis. Disediakan pula yoghurt dicampur irisan tomat dan bawang merah, jika penyantap "kebab" menginginkan rasa dan selera lain.
"Ngabuburit" di Marakesh, memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi wisatawan yang cuma lewat semalam dua malam di kota kuno bersejarah itu.
Penulis, pemerhati wisata Timur Tengah)

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 20 Oktober 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Lucerne, Wajah Asli Swiss

Lucerne – ”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota kota di Swiss itu. Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan.Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini. Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan. ”Karena perang Irak dan juga sars, tahun ini turis yang datang tidak makin banyak,” tutur Angela Kaufmann dari kantor statistik kota ini. Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina. Desa Nelayan Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang. Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja. Namanya juga hobi, kendati hanya belasan ekor jumlahnya, tetap saja orang sini nekad memamerkannya. Memelihara ayam dan kelinci memang sebuah hobi yang sangat tipikal Swiss, seperti mengelus-elus keelokan perkutut bagi masyarakat Jawa.Jejak Mark TwainAda beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini. Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda. Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya. Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala. Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini.MuseumJika tertarik dengan benda kuno atau lukisan, Lucerne juga menyediakan tempatnya. Puluhan museum berada di kota ini. Namun yang paling menarik adalah Museum Transportasi dan Museum Pablo Picasso, pelukis aliran kubisme asal Italia. Museum Transportasi paling sesak dijubeli turis karena memang koleksinya paling lengkap dan besar. Namanya juga Museum Transportasi, isinya ya kendaraan, terutama kereta api di Swiss. Sementara Museum Pablo Picasso menyerap turis yang ingin menyaksikan lukisan serta foto-foto sang maestro semasa hidup. Selain tempatnya yang berada di jantung kota, museum ini juga terawat dengan sempurna.Bosan dengan museum atau suasana kota Lucerne, silahkan menikmati panorama Danau Lucerne. Banyak jadwal kapal yang akan mengangkut Anda untuk menikmati Danau Lucerne. Tinggal datang saja ke dermaga utama yang berada di dekat stasiun kereta api Lucerne ini, sejarak selemparan batu, dermaga itu sudah terlihat.Sementara bagi yang ingin menikmati keindahan Lucerne dari tempat yang agak luas, bisa memilih tur atau jalan sendiri ke Gunung Pilatus atau Gunung Rigi. Dua gunung ini sangat terkenal di Lucerne. Bahkan ada idiom jangan mengatakan pernah ke Lucerne jika belum pernah mencapai kedua puncak gunung itu.Namanya memang puncak gunung, tapi masyarakat Swiss sangat pintar untuk membuat sebuah tempat terpencil menjadi sangat gampang dijangkau. Maklum, ada kereta kabel gantung yang siap membawa turis ke kedua puncak gunung ini. Memang ada juga kereta biasa menuju ke kedua puncak itu, namun kereta ini akan tutup selama musim salju. Sementara kereta kabel gantung beroperasi sepanjang musim. Penulis Amerika Mark Twain yang pernah singgah di puncak kedua gunung ini, konon bisa sampai ke puncak dengan cara dipanggul di punggung orang lain. Maklum saja, zaman itu memang siapa saja yang ingin ke puncak Rigi atau Pilatus mesti jalan kaki, kecuali Mark Twain.

Sumber: Sinar Harapan 2003.









[+/-] Selengkapnya...

(Wisata Kota Weimar) Asal Muasal Republik Jerman

WEIMAR – Di kota tua nan cantik inilah Republik Jerman yang pertama berdiri, setelah kejatuhan sistem monarki (kerajaan). Tak aneh bila nama kota ini diabadikan sebagai Republik Weimar, tempat konstitusi Jerman dirancang dan disetujui pada tahun 1919. Kota tua ini terletak tak jauh dari Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thuringen. Kota di bekas wilayah Republik Demokrat Jerman (Jerman Timur) ini menjadi tempat kelahiran filsuf dan budayawan Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).
www.htwk-leipzig.deRumah penyair terkemuka Jerman Goethe dijadikan museum di kota Weimar, Jerman.
Memang dalam kurun waktu itu, sekitar 1800-an, Weimar menjadi pusat kehidupan intelektual Jerman, bahkan Eropa. Di kota ini pula Goethe menorehkan karya emasnya, termasuk karya termasyhurnya versi final ”Faust”.Weimar juga menjadi rumah bagi filsuf Friederich von Schiller (1787-1789 serta 1799-1805). Di sini Schiller menulis berbagai karya, di antaranya ”William Tell”.Kini Rumah Goethe (Goethe Wohnhaus) dan Kebun Goethe (Goethe Gartenhaus) menjadi salah satu museum yang menarik. Bangunan bergaya barok itu menjadi salah satu tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan, di samping Museum Nasional Goethe. Demikian pula dengan Rumah Schiller (Schiller Wohnhaus) yang terletak tak jauh dari sana. Sebagai kota kecil yang asri, jantung kota Weimar penuh dengan bangunan-bangunan tua yang tertata apik. Arsitektur gaya Rococco dan Barok kian mempercantik kota ini.

Di tengah kota ini pula, Anda dapat menikmati keindahan taman serta kafe-kafe dengan bangku-bangku di pinggir jalan yang menebarkan aroma kopi sedap menggoda. Maklum di sana tidak ada polusi dan wilayah ini menjadi tempat pejalan kaki (pedestrian) sehingga tak ada kendaraan berlalu-lalang. Belanja tentu tak masalah. Weimar terkenal dengan keindahan porselennya. Terutama di Schillerstrasse Anda bisa mendapati porselen-porselen cantik ini. Sebagai kota kelahiran para intelektual, beberapa toko buku terdapat di pusat kota ini. Tidak ketinggalan berbagai toko cenderamata yang menjual berbagai pernik menarik bernuansa Goethe maupun Schiller. Salah satu cenderamata khas kota Weimar adalah tanaman Ginko Billoba. Mulai dari bijinya sampai berbagai souvenir daun berbentuk mirip jantung hati itu dijual di sana. Tanaman ini dipercaya sebagai pemberi pengharapan, di samping diyakini menguatkan ingatan dan daya konsentrasi. Weimar juga memiliki Theater Nasional Jerman yang memainkan karya-karya Goethe, dan Johann Sebastian Bach. Anda yang menyukai musik klasik tentu dapat memanjakan telinga dengan karya-karya komponis besar dunia. Satu lagi jangan lewatkan Istana Musim Panas Schloss Belvedere. Dengan gaya Rococco, keelokan bangunan istana ini dapat dinikmati sepanjang musim panas. Biasanya orang tak akan melewatkan bekas Kamp Konsentrasi Buchenwald yang jauhnya kira-kira hanya 30 menit dari pusat kota Weimar. Kendati demikian, tentu Anda harus cukup kuat mental untuk menanggung perasaan mencekam bekas kamp konsentrasi itu.
Sumber: Sinar Harapan

[+/-] Selengkapnya...

Bentang Ladang di Poros Brussels-Paris (Perjalanan di Eropa)

Putu Fajar Arcana
Kami tiba di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda, pada Kamis (16/11) kira-kira pukul 07.00. Cuaca di musim dingin membuat pagi seperti terlambat. Selama pesawat menuju terminal kedatangan, dari jendela terlihat lampu-lampu kendaraan di jalanan. Amsterdam tengah memulai kesibukan lagi meski gelap belum sepenuhnya berlalu. Pada pertengahan November, daratan Eropa (Belanda, Belgia, Luksemburg, Jerman, dan Perancis—negara-negara yang akan saya kunjungi) tengah memasuki musim dingin.
Rombongan dari Sanggar Bajra Sandhi dan delegasi Bali Tourism Board, ditemani Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Hubungan Antarlembaga Firmansyah Rahim serta Deputi Bidang Koordinasi Agama, Budaya, dan Pariwisata Menko Kesra Risman Musa, memilih Kota Brussels, Belgia, sebagai home base selama berada di Eropa. Brussels tak hanya terletak di jantung Eropa, tetapi juga menjadi ibu kota berbagai institusi penting, seperti Komisi Eropa dan Parlemen Eropa serta NATO.
Sepagi itu, menurut ukuran kami, Bandara Schipol sibuk bukan main. Tak sampai selang lima menit, pesawat dari berbagai belahan dunia mendarat atau lepas landas dari sini. Ketika kami keluar dari terminal kedatangan dan menuju area parkir, transportasi umum seperti bus juga bergerak tak henti. Bus yang akan membawa rombongan dari Schipol menuju Brussels dikendarai seorang berdarah Belgia, yang kami kenal bernama Bruno.
Persoalan "kecil" menghadang ketika rombongan Bajra Sandhi akan mengeluarkan seluruh peralatan pentas, seperti gamelan, pakaian, serta instrumen pentas lain yang beratnya mencapai puluhan ton. Petugas-petugas pabean di Schipol memang seramnya bukan main. Jelas mereka tak bisa diajak kompromi. Beruntung dalam rombongan turut serta Al Purwa yang menjadi konsul kehormatan untuk Kerajaan Belanda dan Belgia di Bali. Dengan bahasa Belanda yang fasih, ia menceritakan bahwa seluruh peralatan itu untuk kepentingan pentas dalam rangka menjalin persahabatan Belanda dan Indonesia (Bali).
Diplomasi itu terbukti cukup ampuh. Mungkin karena orang Belanda menyimpan rasa malu terhadap "perilaku" leluhur mereka terhadap Indonesia di masa lalu. Namun, itu cuma dugaan saya.
Menuju Belgia
Kira-kira dalam waktu satu jam, kami sudah melaju di jalan bebas hambatan (dan ini perlu diketahui tak ada jalan tol yang bayar di Eropa) menuju Brussels. Perjalanan ke Brussels ditempuh dalam waktu tak kurang dari tiga jam. Terhamparlah lanskap khas negeri subtropik.
Yanti, salah seorang pemandu kami yang anak seorang diplomat di Belgia, menginformasikan bahwa tahun ini musim dingin sedikit terlambat. Maka, di sepanjang sisi jalan pohon-pohon belum sepenuhnya menggugurkan daunnya. Masih tampak pucuk-pucuk berwarna coklat tua, semak belukar kekuningan, daun-daun yang memerah, serta hamparan rerumputan yang hijau. Sepintas tadi di Schipol, saya melirik penunjuk suhu menunjukkan angka 10 derajat Celsius. Cukup dingin untuk ukuran orang-orang dari daerah tropis.
Sebelum Al Purwa menyambar mikrofon di dalam bus, saya segera menandai bahwa sungguh mengagumkan, sepanjang highway ini ladang-ladang begitu luas menghijau. Dalam dingin cuaca dari kejauhan, saya melihat gerombolan sapi dan domba dibiarkan "liar" di atas padang rumput yang hijau.
"Pemerintah-pemerintah di Eropa, termasuk Belanda, sangat melindungi tanah-tanah pertanian. Dilarang keras mengubah lahan pertanian menjadi perumahan," cerita Al Purwa. Ia menambahkan, petani di Eropa rata-rata memiliki lebih dari satu hektar tanah pertanian. "Dan yang menonjol, mereka membangun green house, maka pohon tropis pun bisa ditanam di sini," katanya.
Dalam jarak ratusan kilometer yang ditempuh kira-kira dalam tiga jam perjalanan, kami hanya menemui bentangan ladang yang hijau. Pemandangan itu tak hanya di dataran-dataran negeri Kincir Angin, tetapi berlanjut sampai ke Belgia. Sejak Uni Eropa terbentuk, hampir tak ada tanda di perbatasan setiap negara. "Kalau jalanannya sudah kasar, itu tandanya kita sudah di Belgia," kata Bruno. Kami kira tadinya ini pernyataan yang sinis. Ternyata, bus yang kami tumpangi memang lebih bergetar ketika melintas di permukaan jalan di negara Belgia ketimbang di Belanda.
Kehijauan yang luas
Kami menginap di Tulip Innm beralamat di Avenue du Boulevard 17, B-1210 Brussels, 16-27 November 2006. Dari Brussels seluruh perjalanan darat dimulai. Ketika bus bergerak menuju kota Garnich, Luksemburg, pada Jumat (17/11), diteruskan Sabtu menuju Sluiskil, Belanda, kemudian melaju ke Koln, Jerman pada Senin (20/11), dan terakhir ke Paris, Perancis, Selasa (21/11), pemandangan serupa menghampar di depan mata. Kehijauan seperti tak habis-habisnya.
Poros Brussels-Paris yang ditempuh dalam waktu tak kurang dari empat jam memperlihatkan pesona Eropa sejati. Diam-diam saya membayangkan Tanah Air yang (konon) penuh hamparan sawah hijau, dan karena itu masih dicap mengusung kultur agraris. Jangan salah, sawah hijau itu sebagian besar sudah bukan milik petani. Umumnya sawah di negara kita sudah menjadi milik para tuan tanah, yang kapan pun bisa mengalahfungsikan lahan pertanian menjadi perumahan. Tak jarang plang jalur hijau rontok diserobot nafsu membangun kota, yang konon juga demi mengejar pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, Eropa yang selama ini diberi label sebagai agen tumbuh dan berkembangnya kapitalisme "menyisakan" ladang-ladang yang mahaluas. Ladang-ladang itulah yang menjadi lumbung makanan selama ini. Maka, sungguh jarang kita dengar mereka kekurangan pangan. Sebaliknya, di negara kita, meski kaya sawah, di berbagai pelosok sering kali (dan ini berulang) terjadi kekurangan pangan. Bahkan, sering pula kita dengar banyak bayi yang kekurangan gizi….
Bukan hendak memuja Eropa, "Tetapi, kita mesti introspeksilah. Ini kan bukan negeri agraris, mengapa ladang mereka begitu luas?" begitu Firmansyah Rahim retorik dalam perjalanan Brussels-Sluiskil. Tentu dia juga kagum pada peradaban bangsa Eropa yang barangkali berabad- abad lebih maju dari kita. Bahkan, saya kira sangat muskil untuk disamai dalam waktu 10-20 tahun ke depan.
Perjalanan ini memang bukan hanya "pengembaraan" kesenian oleh Bajra Sandhi ke berbagai kota, melainkan juga perjalanan menyusuri peradaban. Sebuah peradaban yang benar-benar mengerti makna "adab" sebagai muara dari kehalusan, kebaikan budi pekerti, serta yang terpenting adalah tingkat kecerdasan yang tinggi.
Di hamparan padang rumput yang mahaluas itulah Eropa memperlihatkan keadabannya. Tidak saja pada peninggalan masa lalu berupa gedung bergaya gotik atau neoklasik, seperti terlihat di Paris, Koln, Garnich, dan Brussels. Tidak salah jika di sini kami merasa begitu "primitif". Cuma satu hal yang bisa kita banggakan bahwa kita lebih santai dan lebih murah senyum ketimbang orang-orang Eropa yang selalu tampak serius dan marah….
Sumber: Kompas, Jumat, 15 Desember 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Dua Havana

Joseph Osdar
Ini cerita perjalanan kedua sebuah rombongan wartawan Indonesia ke Havana, Kuba. Yang pertama berlangsung pada musim semi, April 2000 selama empat hari. Yang kedua selama tiga hari pada musim panas, September 2006.
Bandar udara internasional Havana, Jose Marti, seperti kotak panjang berwarna biru tua. Jose Marti adalah pahlawan nasional Kuba. Ia politisi, wartawan, dan penulis puisi. Lahir di Havana tahun 1853 dan meninggal dalam pertempuran dengan tentara Spanyol tahun 1895, ucapannya yang terkenal, "Perjuangan kemerdekaan bukanlah dengan fisik, tetapi pembangunan budaya yang cerdas."
Dalam perjalanan kedua, September 2006, yang panas, pintu kedatangan di Bandara Jose Marti dijaga lima perempuan muda berseragam biru-biru. Ada yang berkulit hitam legam, merah, putih, dan kuning. Mereka adalah bagian dari warna-warni 11,3 juta orang penduduk Kuba. Mereka menggunakan bahasa Spanyol. Ramah dan tidak terlalu ketat memeriksa pendatang.
Masalah ras di Kuba tidak menonjol. Di tepi-tepi jalan raya bisa disaksikan orang kulit hitam berpelukan dan berciuman dengan kulit putih. Ini pemandangan sangat langka di Amerika Serikat atau Eropa Barat.
Dalam perjalanan dari bandara ke pusat Kota Havana, sesekali ada orang yang berdiri di tepi jalan melambaikan tangan untuk menumpang. Setiap kendaraan di sini adalah kendaraan umum, siapa saja boleh naik. Ini bagian dari hal biasa di negeri ini sejak Fidel Castro mengumandangkan komunisme pada 1961. Hanya artis dan olahragawan saja yang diperkenankan pemerintah memiliki kendaraan pribadi. Maka, banyak orang Kuba yang berusaha menjadi penyanyi, penari, atau pekerja seni lainnya.


Dua Havana
Havana terdiri dari Havana Baru dan Havana Tua (Old Havana atau Habana la Vieja). Havana tua dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1978.
Dalam perjalanan kedua ketika menginap di hotel di Havana Baru, tidak dijumpai lagi orang-orang dengan seragam karyawan hotel yang tiba-tiba mengetuk pintu dan minta satu dollar.
Tahun 2000 hotel-hotel besar di Havana belum semua punya restoran atau tempat makan mutakhir. Untuk makan di luar kamar, para tamu hotel makan di bangsal makan bersama seperti dalam asrama sekolah atau akademi militer.
Di ruang itu ada sejumlah meja panjang dengan deretan kursi. Di situ para tamu makan berjajar-jajar. Untuk mendapatkan jus jambu kelutuk merah harus antre panjang. Jus jambu itu dibuat secara sangat manual oleh karyawan/karyawati hotel. Pada tahun 2006, yang seperti itu tidak lagi ada di hotel-hotel berbintang empat atau lima.
Di Havana Tua, tampak deretan rumah susun penduduk dan bersisian dengan gedung-gedung tua yang dibangun pada masa penjajahan Spanyol. Hampir semua kantor pejabat pemerintah ada di kawasan ini.
Setiap hari di kawasan ini berseliweran wisatawan asing dari seluruh dunia. Jumlah turis yang masuk ke Kuba tahun 2005 sekitar 2,3 juta orang (hampir sama dengan penduduk Havana). Tahun 2001 wisatawan asing yang datang sekitar 1,77 juta orang.
Bisnis wisatawan asing ini menyumbang sekitar 41 persen pendapatan negara. Pemasukan ke negara di bidang wisata ini telah mengesampingkan pendapatan dari ekspor gula, tembakau, dan cerutu.
Di Havana Baru dan Havana Tua ada yang tetap sama. Puluhan taman dan hutan kota dengan pepohonan yang rimbun (banyak yang sudah hidup puluhan tahun) tidak diganggu pemerintah.
Seorang teman yang sedang menikmati pemandangan taman-taman dan hutan-hutan dari jendela kamar hotelnya tiba-tiba berteriak, "Hai-hai-hai, lihat di sana banyak pasangan muda-muda yang sedang bercinta."
Jalan-jalan raya di Havana baru dan lama jarang terjadi kemacaetan lalu lintas. Tidak pula pernah terdengar suara sirine mobil pengawal para pejabat negara. Bahkan, Castro pun jarang sekali keluar dari tempat tinggal atau istananya dengan pengawalan seperti itu. Di Havana jarang diketemukan gambar Fidel Castro di tempat umum. Katanya, ia tidak mau dikultusindividukan seperti pemimpin di Pyongyang, Korea Utara.
Di salah satu bagian dari pantai di Havana menempel jalan raya dan tembok beton. Tembok beton itu bisa untuk jalan kaki atau berlari-lari. Dari pantai itu bisa dilihat benteng kuno dari masa penjajahan Spanyol, Castillo Del Morro de La Habana.
Dekat benteng itu ada rumah makan sederhana. Di situ ada kelompok musik dan penyanyi Havana Soul. Mereka menyanyi dan menari tanpa pengeras suara. Kelompok musik seperti itu sangat banyak di Kuba. Mereka bukan hanya mengamen, tetapi juga jual VCD atau kaset hasil rekaman mereka.
Ketika beberapa wartawan Indonesia olahraga lari pagi, meledaklah tawa mereka. Di tepi jalan pantai itu berserakan kondom-kodom bekas yang tampak belum lama dipakai.
Tidak jauh dari tempat itu ada panggung yang menghadap ke pantai Florida di Amerika Serikat. Pada saat-saat tertentu, di tempat itu orang-orang pemerintah berpidato mencaci maki pemimpin Amerika Serikat. Ini juga acara rutin nasional.
Pabrik cerutu
Di antara deretan gedung-gedung kuno bersejarah di Havana Tua, selain ada puluhan kafetaria yang aromanya pesing sekali, juga ada gedung pabrik cerutu berwarna merah tua, Patagas Real Fabrica. Di seluruh Kuba ada sekitar 40 pabrik cerutu. Cerutu kini bukan sekadar ikon Kuba, tetapi sebagai salah satu daya tarik wisatawan.
Patagas Real Fabrica, berdiri tahun 1845, atau 161 tahun lalu. Pabrik ini sekarang punya 700 pekerja yang setiap hari bekerja dari pagi hingga petang.
Ketika wartawan Indonesia masuk ke salah satu lantai gedung cerutu itu, tiba-tiba sebagian besar pekerja itu tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata mereka bekerja sambil mendengarkan pembacaan buku Da Vinci Code karangan Dan Brown. Mereka tertawa karena ada adegan lucu dari buku itu.
Tiap hari dengan pengeras suara yang ada di setiap lantai gedung bertingkat empat itu, diperdengarkan suara seorang pekerja yang bertugas membacakan buku. Ini adalah acara rutin. Buku yang dibacakan berganti-ganti.
Siang hari mereka dibacakan novel, pagi hari dibacakan koran terbitan hari itu, dan setelah jam istirahat atau menjelang pulang pada sore hari diperdengarkan musik (segala macam jenis musik). Ketika itu yang bertugas membaca seorang pegawai yang telah 17 tahun punya tugas membaca untuk para karyawan di situ.
"Ini mengagumkan. Ini realisasi ucapan Jose Marti tentang membangun manusia Kuba. Kuba bisa menang menghadapi Amerika bukan karena perang fisik, tetapi karena budaya cerdas yang yang terbangun," ujar Nenden Novianti Fathiastuti, wartawati Indonesia asal Bandung.
Selain ke pabrik cerutu, rombongan wartawan juga masuk ke kafetaria di pusat penjualan suvenir. Di kafetaria di Havana Tua itu, Santi, penyiar radio di Jakarta, didekati pemuda keturunan Afrika. Ia memandang lama Santi yang mengenakan jilbab.
Pemuda itu langsung berkata dengan suara yang tertangkap telinga Indonesia seperti ini, "You are Java? Very good. American bomed your country in Hiroshima and Nagasaki, ha? F... American...You are Osama bin Laden, ha? Very, very, good,..." Kata java itu ternyata maksudnya Japan atau Jepang.
Nenden dan Santi bingung menyaksikan Havana. "Di pabrik cerutu saya merasakan ada perjuangan hidup. Di luar itu adalah pesta, menari, menyanyi," ujar Nenden. Santi berkata lain lagi, "Kalau bicara politik orang muda Kuba lantang mengutuk Amerika, tetapi kalau berbusana berkiblat ke Amerika."
Di setiap sudut jalan Havana baru dan lama, orang menyanyi dan menari. Hidup di sana seperti dalam pesta. Pengarang novel dan pemenang Nobel kesusasteraan asal AS, Ernest Hemingway, yang pernah tinggal di Havana 22 tahun (1939-1961), pernah mengatakan, Havana adalah tempat tinggalnya yang sejati. "Havana adalah salah satu kota terindah di dunia, lebih indah dari Venesia atau Paris," ujarnya yang dimuat dalam buku wisata La Cultura Cubana.
Sumber: Kompas, Minggu, 17 Desember 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Intramuros di Metroplitan Manila, Kota Tertua Penuh Sejarah


GERIMIS mengguyur Intramuros, ketika taksi yang membawa saya dari Quezon City berhenti di depan Gedung Biro Imigrasi Filipina, beberapa waktu lalu. Udara dingin menyergap dan angin menyapukan butiran air yang lembut ke wajah.
Kesejukan merupakan hadiah tahunan bagi penduduk di kawasan Metropolitan Manila. Lamanya hanya satu setengah bulan saja dalam satu tahun. Dimulai pada pertengahan Desember atau awal Januari. Berakhir pada pertengahan Februari atau awal Maret. Setelah itu Metro Manila akan kembali hangat. Suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius antara April sampai Desember.
Bukan perjalanan yang menyenangkan untuk bisa mencapai Intramuros. Dari Quezon City, lama perjalanan bisa mencapai dua jam karena lalu lintas macet di mana-mana. Sering saya lupa, kalau saya berada di Metropolitan Manila, tempat para pengemudi kendaraan terburuk di dunia.
Saya berdiri di tepi jalan Intramuros. Menikmati udara dingin dan air gerimis yang jatuh di wajah. Di hadapan sebuah patung patron saint bernama Felipe di perempatan Fabildo Street dan A. Soriano Avenue, untuk memulai jalan-jalan di hari kerja.
Menyeberang jalan, saya jambangi restoran Max's di A. Soriano Avenue, untuk sarapan dengan ayam goreng, chop suey, nasi, dan segelas lemon tea.
Sambil makan di tempat itu, pikiran menerawang, membayangkan Intramuros di masa lalu. Intramuros adalah salah satu kota tertua di Filipina. Kini, tempat itu hanya menjadi sebuah distrik saja di wilayah Manila City.
Berasal dari bahasa Spanyol "intra muros", yang berarti "di dalam benteng". Kota itu berdiri pada abad 14 dan kini Intramuros penuh sesak oleh sejarah.
Ada kisah tentang gemuruh teriak kemenangan di sini. Ada juga yang meratapi kekalahan. Ada pembunuhan seorang pejuang. Ada pembantaian keji dalam jatuh bangunnya kota ini.
Tembok benteng kota, yang dibangun Spanyol sebagai pagar pertahanan, masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kini benteng itu menjadi pemisah distrik Intramuros dari distrik lainnya di Manila City.
Bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun masih berdiri kukuh di situ. Nyaris seluruhnya dibangun oleh Spanyol sejak abad 15. Gedung-gedung itu, sekarang digunakan oleh pemerintah menjadi kantor biro atau departemen. Sebagian lagi dimiliki privat, dijadikan toko, hotel, restoran, rumah gadai, dan bank.
Berbeda dengan bagian lain di Metropolitan Manila yang terasa profan, di Intramuros suasananya lebih religius dan menggoda imajinasi untuk menerawang ke masa lalu, ketika terjadi berbagai penaklukan antarbangsa.
Ketika Intramuros ramai oleh tabuhan genderang perang, denting suara pedang, desingan peluru, dan dentuman meriam. Ketika aroma darah dan mesiu berpadu menjadi satu. Ketika fondasi kota ini dibangun dan bangunan-banguan tinggi mulai berdiri. Ketika hari demi hari kota ini menciptakan sejarah dan romantisme bagi penduduk dan pengunjungnya.
**
Gerimis berhenti, tapi angin mulai berhembus kencang saat saya memasuki benteng itu. Fort Santiago. Benteng pertahanan terakhir penduduk asli beragama Islam di Manila, dari serbuan bangsa Spanyol.
Benteng itu, sekarang menjadi jantung kegiatan wisata di Intramuros dan halamannya dihiasi taman penuh bunga. Lima ratus tahun ke belakang sampai pertengahan 1945, bau darah dan mesiu menyengat kawasan ini.
Fort Santiago awalnya terbuat dari kayu dan tanah, dibangun pada pertengahan 1500. Benteng itu dibangun saat masa kepemimpinan Rajah Sulayman, pemimpin masyarakat Melayu muslim di sekitar kawasan yang bernama Maynilad, yang artinya tempat di mana tanaman air berbunga seperti bintang tumbuh. Kata Maynilad kemudian berubah menjadi Manila.
Tahun 1570, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Martmn de Goiti, Juan de Salcedo, dan Miguel Lspez de Legazpi, datang ke Manila dan menyerang masyarakat muslim. Tahun 1571 pasukan Spanyol menang perang dan menjadikan Manila sebagai pusat pemerintahan kolonialnya. Spanyol terus melakukan pendudukan hingga menguasai nyaris seluruh wilayah Filipina sekarang.
Tidak hanya aneksasi wilayah yang terjadi, tapi juga aneksasi terhadap budaya dan kebiasaan. Spanyol berhasil membuat penduduk asli yang muslim beralih menjadi Katolik.
Hanya wilayah kepulauan bagian selatan yang terus bergolak dengan pemberontakan. Pergolakan di wilayah selatan bahkan terus berlangsung hingga saat ini.
Sebagian memberontak dan terus mempertahankan identitasnya sebagai muslim, sebagian lagi memberontak karena ingin mendirikan negara komunis.
Karena pergolakan yang terjadi sampai sekarang itu pula, orang muslim selalu dicurigai di sebagian wilayah Filipina, terutama di Manila. Jika ada orang Filipina yang memiliki nama muslim seperti Abdullah atau Ahmad, kecil kemungkinan dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di perkantoran.
Itu sebabnya pula, menurut seorang pengajar di Ateneo de Manila University, banyak orang Islam Filipina yang mengubah namanya menjadi berbau barat seperti Daniel, Michael, atau Jack, hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada pula yang salah paham dan malu dengan identitasnya sebagai muslim. Masih kata pengajar tadi, ada orang yang ditanya, apakah dia beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Ibumu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Bapakmu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Jadi kamu Muslim? Dia menjawab, "Bukan, saya orang Filipina."
**
Setelah menang perang, penguasa kolonial Spanyol memberi nama tanah jajahan barunya itu sebagai Philippine, diambil dari nama dan dipersembahkan untuk Raja Philip II, lelaki yang menjadi penguasa Kerajaan Spanyol saat itu.
Benteng bekas pertahanan Rajah Sulayman dibangun kembali. Kali ini dibangun dari batu. Mulai dibuat pada 1589 hingga 1592. Benteng itu diberi nama Santiago. Tapi hancur lagi pada 1645, oleh gempa bumi. Penguasa kolonial Spanyol memperbaiki kembali pada 1658 dan memperkuat struktur benteng pada 1663.
Hampir seratus tahun kemudian, pasukan Inggris datang menyerang, membabat habis angkatan laut Kerajaan Spanyol. Mereka merebut Filipina dari Spanyol pada 1762.
Fort Santiago dijadikannya sebagai pusat komando. Dua tahun kemudian, Filipina dikembalikan lagi kepada Spanyol. Pada 12 Juni 1898, bangsa Filipina menyatakan kemerdekaannya dari Spanyol, setelah penguasa kolonial itu kalah perang dari Amerika Serikat.
Tapi mereka tidak tahu, di tahun yang sama Spanyol menandatangani perjanjian damai dengan Amerika di Paris, Perancis.
Berdasarkan kesepakatan yang tercantum di Paris Treaty, Spanyol setuju untuk menjual seluruh kepulauan Filipina, beserta Guam dan Puerto Rico kepada Amerika, hanya seharga 20 juta dolar saja. Perjanjian itu ditandatangani pada 10 Desember 1898.
Lalu pasukan kolonial Amerika datang untuk menduduki kepulauan yang telah dibelinya. Bangsa Filipina, yang baru menikmati kemerdekaan selama tujuh bulan, kembali takluk di bawah kaki kolonial. Fort Santiago dan seluruh wilayah Intramuros, dijadikan sebagai pusat komando pasukan Amerika di Filipina.
Beberapa dekade kemudian, pasukan Kekaisaran Jepang menghancurleburkan pertahanan Amerika di Filipina dan merebut kepulauan itu pada 1942. Fort Santiago kembali berpindah tangan. Kali ini dari penguasa berkulit putih ke penguasa berkulit kuning. Bangsa taklukan berkulit cokelat tak bisa berbuat banyak dan kekejaman terhadap mereka tak juga berhenti.
Hanya tiga tahun Jepang menduduki Filipina. Tapi, seperti yang juga dialami oleh bangsa Asia lainnya, penderitaan selama tiga tahun itu sungguh tak terperi. Penyiksaan dan pembunuhan nyaris terjadi setiap hari di kamar-kamar bawah tanah di Fort Santiago.
Di akhir masa pendudukannya di Filipina, sekitar bulan Februari 1945, pasukan Jepang menangkap dan memenjarakan tak kurang dari 600 orang Filipina dan Amerika di Fort Santiago.
Ketika Fort Santiago kembali direbut pasukan Amerika, 600 orang itu telah tewas terbantai. Mayat mereka ditemukan di ruang-ruang bawah tanah sebuah gedung, di dalam lingkungan Fort Santiago. Nama gedung itu Baluarte de Santa Barbara.
Fort Santiago dan Intramuros, tak mungkin dilupakan oleh orang Filipina. Karena di tempat itulah seorang lelaki yang dianggap sebagai pembebas bangsa Filipina dipenjarakan dan akhirnya dihukum mati.
Dia adalah Josi Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda (19 Juni 1861-30 Desember 1896), atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Jose Rizal, intelektual dan pentolan kelompok rahasia penganjur kemerdekaan, "Katipunan."
Jose Rizal lulusan dari Ateneo Municipal de Manila (sekarang berubah menjadi Ateneo de Manila University), sebuah perguruan tinggi yang dijalankan dan dibiayai oleh kelompok Jesuit.
Sejak masih duduk di bangku kuliah, Jose Rizal selalu gelisah melihat ketidakadilan pemerintah kolonial Spanyol. Dia mengembara ke Eropa, menguasai 10 bahasa asing, meraih gelar doktor di University of Paris dan University of Heidelberg, mengabdi sebagai dokter di Kuba, lalu kembali ke Filipina, untuk memberi pencerahan kepada masyarakatnya.
Dia rajin menulis artikel dan novel, juga membuat patung. Dua novelnya yang terkenal adalah "Noli me Tangere" dan "El Filibusterismo".
Semuanya ditulis dengan nama samaran. Isinya: kritikan pedas terhadap korupsi, yang dilakukan pejabat kolonial dan petinggi gereja Katolik di Filipina. Patung karyanya yang sampai sekarang masih ada berjudul "The Victory of Science Over Death."
Pada 3 November 1896, Jose Rizal ditangkap dan dipenjarakan di Fort Santiago. Gedung tempat Rizal ditahan, kini diberi nama "The Shrine of Rizal."
Pagi hari tanggal 29 Desember 1896, Jose Rizal dihadapkan ke pengadilan kolonial. Tuduhan yang diajukan kepadanya, adalah pemberontakan, penghasutan, dan membentuk perkumpulan terlarang. Hakim menyatakannya bersalah dan menjatuhinya hukuman mati.
Jose Rizal kemudian dibawa ke sebuah kapel di gedung penjara Fort Santiago. Dia ditahan di kapel itu sampai esok harinya. Pagi hari, 30 Desember 1896, Rizal dibawa keluar dari ruang penahanannya. Dia digiring oleh sepasukan tentara Spanyol, keluar dari Fort Santiago menuju Luneta, Bagubayan Field, Manila. Tepat jam 7.03 pagi, Rizal ditembak mati oleh pasukan eksekutor. Di hadapan masyarakat yang berbondong menontonnya.
Sejak eksekusi itu, pemerintah kolonial Spanyol melarang nama Jose Rizal untuk diucapkan oleh orang-orang Filipina. Karena larangan itu, orang-orang Filipina menggunakan sandi "Dia yang Telah Mati" saat mereka membicarakan tentang Rizal. Baru setelah 12 Juni 1898 nama Jose Rizal diagung-agungkan sebagai pahlawan nasional.
Sekarang, pengunjung Fort Santiago bisa melakukan napak tilas Jose Rizal menuju kematian. Pengelola Fort Santiago sengaja membuat tapak-tapak kaki terbuat dari kuningan, yang ditempel di atas jalan beraspal. Tapak kaki itu bermula dari "The Rizal Shrine" hingga pintu keluar kawasan wisata Fort Santiago.
Di "The Rizal Shrine" juga tersimpan koleksi benda-benda pribadi Jose Rizal. Satu koleksi yang paling menarik adalah potongan tulang rusuknya, yang bolong oleh tembakan peluru.
Tulang rusuk itu diambil, saat sisa tubuh Jose Rizal diangkat dari kuburannya yang pertama, untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
Pemindahan jenazah Rizal, dilakukan beberapa hari setelah bangsa Filipina memproklamirkan kemerdekaannya. Potongan tulang Rizal, kini disimpan di atas kap lampu minyak, di dalam sebuah kotak kaca, di lantai dua "The Rizal Shrine."
Menikmati Intramuros saat ini adalah seni menikmati sejarah dan arsitektur kuno, sambil berjalan kaki di atas trotoar atau menggunakan kereta kuda di jalan raya yang terbuat dari batu akan terasa sangat mengasyikan.
Mungkin anda akan tertarik memasuki gereja-geraja tua seperti San Agustin Church. Atau gedung-gedung bersejarah seperti, Clamshell I (Old Ateneo), Plaza Santo Tomas, Plaza San Ignacio, Baluarte Plano Luneta de Sta. Isabel, Bahay Tsinoy/Kaisa Heritage Center, Plaza San Luis/Casa Manila/Hotel Intramuros, Baluarte de San Diego and Gardens, dan Baluarte de San Gabriel.
Duduklah sesaat di Plaza de Roma, sambil menikmati kemegahan Manila Cathedral di Postigo Street. Rasakan betapa tenangnya suasana kota itu. Atau berjalan kakilah menyusuri General Luna Street sampai ke perempatan Victoria Street.
Singgah dan rasakan suasana masa lalu di sekitar perempatan Real Street dan perempatan Sancta Potentiana Street, yang jalannya masih tetap berupa susunan batu tanpa aspal.
Intramuros memang berbeda. Dibandingkan dengan Quezon City atau Manila City misalnya. Di dua kota itu, orang-orang akan lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat di mana dunia menjadi gemerlap.
Tempat masrat untuk berhura-hura bisa disalurkan. Tapi ada sesuatu yang khas yang menjadi benang merah di wilayah Metropolitan Manila: kota itu penuh dengan perempuan cantik.

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 18 Mei 2007.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Die Welt Ist Schoen: 2007 | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---