Pascal S bin Saju
Kabut tipis masih menyelimuti Bogota, Kolombia, ketika Air France yang membawa kami dari Paris menyentuh landasan pacu Bandar Udara (Aeropuerto) El Dorado di tepi selatan kota itu, Sabtu (19/8) petang. Udara dingin dengan suhu 16 derajat Celsius menyergap begitu kami keluar dari pesawat.
Bogota menjadi kiblat kota Jakarta dalam membangun transportasi perkotaan yang berkelanjutan, terutama jalur bus khusus (busway) transjakarta. Dalam rangka studi banding tentang pelaksanaan transportasi perkotaan itulah Kompas mengunjungi kota berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa tersebut.
Taksi yang kami tumpangi melaju pelan melewati jalan-jalan yang lebar dan lapang ke arah Hotel Cosmos 100. Median jalan yang cukup lebar juga ditumbuhi rumput yang terpangkas rapi dan pepohonan hijau pun menghiasi seluruh sisi jalan, memberi kesan asri.
Lajur pejalan kaki terbuka lebar dengan jalur sepeda (ciclovias) terlihat di sisi dalam dan tengahnya. Tidak ada pedagang kaki lima di sana, kecuali pedagang asongan dengan jumlah sangat terbatas. Hanya ada satu atau dua pedagang dalam 1 atau 2 kilometer.
Pemandangan itu terekam hanya sekejap di sepanjang jalan dari bandar udara ke hotel. Lelah akibat penerbangan yang menguras waktu seluruhnya 31,5 jam dari Jakarta (dengan transit di Singapura dan Paris masing-masing empat jam), wajah kota baru bisa dinikmati lagi keesokan harinya.
Hari Minggu pagi langit Bogota benar-benar cerah dan sejuk dengan suhu 13-15 derajat Celsius. Aktivitas pertama setelah sarapan adalah berjalan kaki mengitari sejumlah ruas jalan di sekitar Avenida 68 Calle 100, Calle 96-98, dan kawasan La Floresta, La Alborada, dan Carrera 70.
Di hampir semua sudut, sisi dan median jalan pasti terdapat taman yang tidak saja ditumbuhi pepohonan hijau, tetapi juga tanaman hias dan aneka bunga. Ada taman yang juga dilengkapi bangku, tong sampah, dan arena bermain anak-anak seperti perosotan dan ayunan.
Sekitar pukul 10.00 kami memilih naik sepeda onthel dari hotel menyusuri sejumlah ruas jalan yang lapang dan lebar, sejauh 3 kilometer, menuju Kedutaan Besar RI di Bogota di Carrera 11. Sama seperti hari Minggu lain dan hari libur, ruas jalan tertentu hanya untuk sepeda dan tertutup bagi mobil.
Menjelang siang, langit cerah tiba-tiba berubah mendung. Cuaca di kota yang dibangun oleh Gonzalo Jimenes de Quesada, 6 Agustus 1536, dengan nama Santa Fe de Bogota itu memang susah ditebak. Berada di ketinggian antara 2.600 meter dan 2.764 meter di atas permukaan laut, cuaca kota itu tidak menentu.
Gerimis tiba-tiba turun, memaksa pesepeda agar lebih cepat mengayuh sampai ke tujuan. Memang sulit membedakan musim dingin dan panas di sini. Pada musim panas udara lebih hangat, tetapi itu pun selalu ditingkahi angin berhawa dingin dan hujan yang bisa tercurah setiap saat.
Pepohonan berdaun rimbun dengan taman-taman kecil memberi napas yang menyegarkan di sepanjang ruas jalan sepeda menuju kantor Kedutaan Besar RI. Ruang terbuka hijau terdapat di mana-mana dan kami akhirnya tiba melewati jalan yang membelah sebuah kawasan hutan kota yang cukup luas.
Entah berapa luas hutan kota itu. Yang jelas, kawasan itu terbentang dari Carrera 7 di utara kota atau tepatnya di kaki gunung, mengikuti sisi kanal Rio Negro yang bermuara ke Rio Bogota. Puluhan pesepeda berhenti sejenak menghirup udara di sana sambil bercengkerama.
Eduardo Plata, karyawan swasta di Bogota yang banyak mengetahui seluk-beluk busway dan ruang bawah tanah di Jakarta, mengatakan, hutan sepanjang 22 kilometer itu dinamai Porque El Virrey (porque artinya taman). Konon pula di Jakarta dahulu, antara Blok M dan Kota pernah dirancang sebagai hutan kota, tetapi gagal.
Taman kota yang jauh lebih luas lagi di Bogota terdapat di seputaran persimpangan Carrera 48, Carrera 36ª dan Carrera 36ª hingga Temple Eucaristico. Kawasan itu merupakan gabungan tiga taman besar, yakni Simon Bolivar, El Solitre, dan El Lago. Ribuan orang membanjiri kawasan itu setiap hari Minggu atau hari libur.
Di tengah kawasan hutan itu terdapat tiga danau kecil dan juga museum, serta pusat rekreasi warga kota lainnya. Sama seperti taman-taman kota lainnya, kawasan itu tidak dipagari seperti yang terlihat di taman hutan kota di Monas, Jakarta Pusat. Wajah kota selalu bersih tanpa sampah atau kotoran lainnya.
Bambang Heru Noto Dewo, anggota staf Kedutaan Besar RI di Bogota yang sudah menetap 12 tahun di sana, mengatakan, taman tersebar di seluruh kawasan perkotaan. Taman atau hutan kota menjadi ciri utama yang banyak disebut orang di Bogota.
Banyaknya ruang terbuka hijau yang tertata rapi, indah, dan terpelihara memberi karakter tersendiri bagi kota Bogota dan penduduknya. Tidak ada kesan semrawut, jorok, atau kotor. Tidak pula tercium bau apek sampah. Kota ini benar-benar dibangun dengan konsep manusiawi sekali (berwawasan ekologis dan ekonomis).
Eduardo menuturkan, hingga tujuh tahun silam kota ini termasuk paling jorok dan kumuh di dunia. Kemudian rumah-rumah dirobohkan dan permukiman liar diratakan, lalu pemerintah menatanya menjadi lebih manusiawi. Kebanyakan permukiman liar itu dihuni warga dari daerah yang terhanyut arus urbanisasi.
Ada juga warga kota dengan identitas jelas yang menempati kawasan terlarang. Kata Eduardo, mereka semua digusur. Warga kota yang memiliki identitas sebagai warga kota diberi hak relokasi ke tempat yang telah disediakan, atau pemerintah akan membangun perumahan murah untuk mereka.
"Sedangkan penduduk liar atau pendatang yang tanpa memiliki identitas lengkap dipulangkan petugas ke daerah asal mereka masing-masing. Itu sebabnya tidak terlihat lagi pedagang kaki lima yang menyesaki jalan. Memang ada yang harus dikorbankan dalam pembangunan ini," ujar Eduardo.
Pascapenggusuran itu, kata Eduardo, dimulailah penataan kota dengan wajah baru. "Kota ditata lebih manusiawi, seperti jalan raya diperlebar, dibangun pula jalur pedestrian dan sepeda. Taman dalam kota pun diperbanyak. Saat ini setidaknya terdapat lebih dari 1.000 taman dalam kota mulai yang besar sampai kecil (pocket park)," tutur Eduardo.
Kota dengan lebih dari 1.000 taman itu menjadi kiblat utama pembangunan transportasi kota di Jakarta, terutama untuk jalur bus khusus transjakarta. Dari kota yang dikepung deretan Pegunungan Andes itu, Jakarta mendapat inspirasi menata kota.
Saat ini Bogota menjadi kota terbaik di Amerika Selatan yang menerapkan sistem transportasi massal. Jakarta pun harus lebih banyak lagi belajar, mulai dari persoalan kemacetan dan kesemrawutan hingga penataan kotanya. Juga soal penggusuran?
Oleh: Pascal S Bin Saju, dari Bogota, Kolombia
Sumber: Kompas, Rabu, 23 Agustus 2006.


0 Comments:
Post a Comment