Wednesday, August 22, 2007

Dari Agra dengan Cinta

Oleh: Arif B Sholihah
You allowed your kingly nation to vanish, Shah Jahan, but your wish was to make a tear drop of love in the cheek of eternity (R Tagore).

Kalimat indah Rabindranath Tagore yang dikutip buku panduan perjalanan di pangkuan terus saja terngiang di telinga. Begitulah sang pujangga menggambarkan Tajmahal yang akan segera kami ziarahi. Ia bagaikan tetesan air mata cinta pada pipi keabadian.
Agra masih empat jam lagi. Langit sudah mulai senja. Hamparan ladang mustard dengan bunga-bunga kuning cerianya terhampar di kanan-kiri jalan. Sesekali tampak perempuan desa berpakaian sari warna-warni membawa kendi air di kepala.
Menyusuri negeri Hindustan melalui jalan darat memang tidak selalu mudah. Begitu keluar dari jalan raya arah Jaipur, Rajasthan, perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang berlubang dan sempit menjadi tantangan tersendiri. Seperti saat ini.
Hari semakin gelap saja. Jendela bus mulai kami tutup. Sesegera setelah gelap datang, cuaca semakin berangin. Sopir mulai menyalakan hio dan lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pooja kepada mobile shrine yang terpajang di kaca depan bus kembali dilakukan. Kami pun ikut terbawa suasana ritual mereka yang syahdu. Ooh… Hindustani….
Pukul 21.00 waktu setempat kami tiba di Agra. Sebuah kota di gurun Uttar Pradesh yang masih tampak sangat hidup. Di kanan-kiri jalan baliho-baliho iklan terpampang tanpa penataan. Wajah-wajah akrab artis Bollywood seolah menghilangkan penat perjalanan.
Agra bukanlah kota besar, namun sejak beratus-ratus tahun lalu Agra telah terpilih menjadi ibu kota bagi Dinasti Sikandra, jauh sebelum Dinasti Mughal akhirnya berkuasa dari kota di tepi Sungai Yamuna. Oh Agra, kami sudah tiba.
Janji untuk melihat Tajmahal di langit malam Agra pupus begitu kami tiba di kamar hotel. Meski hotel melati, tetapi penat membuat kami bahkan melupakan makan malam. Harapan bermimpi tentang kecantikan Mumtaz Mahal dan kegagahan Shah Jahan menjadi pilihan. Seawal pukul 04.00 kami dibangunkan suara-suara orang berjalan dari koridor hotel. Kami pun ingin segera bergegas. Selamat pagi Agra.
Pukul 06.00. Kabut masih putih ketika kami menaiki puncak hotel. Sungguh di luar dugaan, Tajmahal berdiri dekat dengan kami. Sangat dekat. Meski dinding marmer putihnya masih dipeluk kabut, tetapi keindahannya membuat kami menahan napas. Cuaca dingin tidak lagi terasa begitu bangunan dengan proporsi sempurna itu tampak di hadapan. Ternyata hanya dengan berjalan 200 meter saja gerbang Tajmahal telah di depan mata.
Pengunjung dari seluruh dunia berduyun-duyun. Wajah-wajah memancarkan rasa keingintahuan yang besar pada Taj, sang legenda cinta. Kewujudannya adalah obsesi bagi Shah Jahan yang hidup pada era tahun 1592-1666 Masehi, meski dengan mengorbankan kerajaannya yang besar dan gemilang. Shah Jahan dikenal sebagai raja yang royal membangun bangunan megah, meski dengan menghabiskan harta negara. Dan, Tajmahal-lah puncaknya. Ia bukanlah istana kebesaran, tetapi pusara. Tempat sang kekasih Mumtaz dibaringkan melalui keabadian media arsitektur.
Taj sang arsitek
Seorang lelaki Rajasthani menjadi pemandu kami. Kumis tebalnya yang tampak sangar hilang begitu saja seketika ia menggambarkan keindahan Tajmahal. Selama 14 tahun Tajmahal dibangun dengan penuh energi dari sang raja.
Nama arsitek tidak pernah ada disebut dalam sejarah, para perajin berusaha menerjemahkan keinginan sang raja, sehingga dapat dikatakan dia sendirilah arsitek bangunan ini. Pada tahun 1644 Masehi bangunan Tajmahal sempurna berdiri. Terbuat dari marmer putih dari Gurun Rajasthan, berbagai ornamen ukiran meliputi seluruh dindingnya dengan bebatuan mulia di sekelilingnya.
Tajmahal dibangun oleh kebesaran cinta, kata pemandu kami. Itulah sebabnya ia selalu memancarkan keindahan yang berbeda-beda setiap saatnya. Pagi hari ia akan tampak kekuningan oleh matahari pagi dan semakin siang ia semakin putih. Marmer putihnya memancar pada cahaya yang sempurna. Dan malam hari, terutama purnama, bayang-bayang hitam Tajmahal dari Sungai Yamuna akan tampak seolah ia adalah bangunan kembar Tajmahal putih dan Tajmahal hitam di permukaan Yamuna.
Melangkah di atas lantai Tajmahal, ornamen mawar di seluruh dindingnya mulai tampak bersinar. Batu-batu mulia yang terselip di antaranya menjadikan dinding Tajmahal penuh warna.
Kutipan ayat-ayat Al Quran terhampar di atas gerbang ruang utama. Pusara Mumtaz mulai tampak dalam kegelapan. Kedudukannya yang simetris dengan bangunan sungguh terdesain sempurna. Di sisinya muncul pusara lain, yang tampak seperti elemen tambahan saja. Ia adalah pusara sang raja sendiri, Shah Jahan. Tidak salah lagi, hanya untuk sang ratulah bangunan indah ini dibangun.
Mumtaz Mahal (1592-1631) atau sebelumnya dikenal sebagai Arjamand Banu adalah istri kesayangan Shah Jahan. Nama Mumtaz Mahal yang berarti The Chosen One of the Palace diberikan kepadanya pada hari pernikahan mereka. Nama ini juga kemudian menjadi abadi dipusaranya sendiri, Tajmahal.
Mumtaz adalah keturunan Persia, menikah dan kemudian dikaruniai 14 orang anak, pada usia perkawinan mereka yang ke-19. Kelahiran anak yang ke-14 inilah yang membawanya ke alam keabadian. Mumtaz meninggal pada usia yang sangat muda, 39 tahun.
Berperahu
Ziarah kali ini terasa begitu bermakna ketika pemandu mengajak kami melalui jalan yang selalu digunakan Shah Jahan semasa tuanya untuk mengunjungi Tajmahal.
Upacara kebesaran melalui gerbang utama tidak selalu digunakan sang raja ketika ia sangat rindu kepada kekasihnya. Dia lebih memilih mendekati Tajmahal dengan berperahu dari istananya di Agra Fort ke Taj melalui Sungai Yamuna.
Apalagi setelah ia dipenjarakan oleh putranya sendiri sehingga tidak lagi dapat mengunjungi Tajmahal. Dia memilih berdiam sehingga meninggalnya (1666 M) di Muthumman Burj, sebuah ruang di puncak Agra Fort yang menghadap langsung ke Tajmahal.
Jika pada masa lalu Shah Jahan berperahu dari Agra Fort ke Tajmahal, kita pun dapat melakukannya. Paling tidak untuk ikut merasakan bagaimana sang pencinta ini bergerak mendekati Tajmahal. Melalui dermaga yang hanya dapat diakses keluarga kerajaan, Shah Jahan memasuki kompleks Tajmahal untuk masuk langsung menuju makam sang permaisuri yang terletak di tengah bangunan utama Taj.
Kini, dengan ongkos 20 rupee saja kita akan diajak menyeberangi sungai ini dan menikmati Tajmahal dari seberang sungai। Jangan lupa, mintalah kepada si pengemudi perahu untuk menyanyikan lagu memuji keindahan Sungai Yamuna dan bangunan Tajmahal ini. Sungguh tidak terlupakan.

Arif B Sholihah Dosen Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Peserta 3rd International Field School on Asian हेरिटेज.

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Oktober 2005.

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, July 26, 2007

Intramuros di Metroplitan Manila, Kota Tertua Penuh Sejarah


GERIMIS mengguyur Intramuros, ketika taksi yang membawa saya dari Quezon City berhenti di depan Gedung Biro Imigrasi Filipina, beberapa waktu lalu. Udara dingin menyergap dan angin menyapukan butiran air yang lembut ke wajah.
Kesejukan merupakan hadiah tahunan bagi penduduk di kawasan Metropolitan Manila. Lamanya hanya satu setengah bulan saja dalam satu tahun. Dimulai pada pertengahan Desember atau awal Januari. Berakhir pada pertengahan Februari atau awal Maret. Setelah itu Metro Manila akan kembali hangat. Suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius antara April sampai Desember.
Bukan perjalanan yang menyenangkan untuk bisa mencapai Intramuros. Dari Quezon City, lama perjalanan bisa mencapai dua jam karena lalu lintas macet di mana-mana. Sering saya lupa, kalau saya berada di Metropolitan Manila, tempat para pengemudi kendaraan terburuk di dunia.
Saya berdiri di tepi jalan Intramuros. Menikmati udara dingin dan air gerimis yang jatuh di wajah. Di hadapan sebuah patung patron saint bernama Felipe di perempatan Fabildo Street dan A. Soriano Avenue, untuk memulai jalan-jalan di hari kerja.
Menyeberang jalan, saya jambangi restoran Max's di A. Soriano Avenue, untuk sarapan dengan ayam goreng, chop suey, nasi, dan segelas lemon tea.
Sambil makan di tempat itu, pikiran menerawang, membayangkan Intramuros di masa lalu. Intramuros adalah salah satu kota tertua di Filipina. Kini, tempat itu hanya menjadi sebuah distrik saja di wilayah Manila City.
Berasal dari bahasa Spanyol "intra muros", yang berarti "di dalam benteng". Kota itu berdiri pada abad 14 dan kini Intramuros penuh sesak oleh sejarah.
Ada kisah tentang gemuruh teriak kemenangan di sini. Ada juga yang meratapi kekalahan. Ada pembunuhan seorang pejuang. Ada pembantaian keji dalam jatuh bangunnya kota ini.
Tembok benteng kota, yang dibangun Spanyol sebagai pagar pertahanan, masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kini benteng itu menjadi pemisah distrik Intramuros dari distrik lainnya di Manila City.
Bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun masih berdiri kukuh di situ. Nyaris seluruhnya dibangun oleh Spanyol sejak abad 15. Gedung-gedung itu, sekarang digunakan oleh pemerintah menjadi kantor biro atau departemen. Sebagian lagi dimiliki privat, dijadikan toko, hotel, restoran, rumah gadai, dan bank.
Berbeda dengan bagian lain di Metropolitan Manila yang terasa profan, di Intramuros suasananya lebih religius dan menggoda imajinasi untuk menerawang ke masa lalu, ketika terjadi berbagai penaklukan antarbangsa.
Ketika Intramuros ramai oleh tabuhan genderang perang, denting suara pedang, desingan peluru, dan dentuman meriam. Ketika aroma darah dan mesiu berpadu menjadi satu. Ketika fondasi kota ini dibangun dan bangunan-banguan tinggi mulai berdiri. Ketika hari demi hari kota ini menciptakan sejarah dan romantisme bagi penduduk dan pengunjungnya.
**
Gerimis berhenti, tapi angin mulai berhembus kencang saat saya memasuki benteng itu. Fort Santiago. Benteng pertahanan terakhir penduduk asli beragama Islam di Manila, dari serbuan bangsa Spanyol.
Benteng itu, sekarang menjadi jantung kegiatan wisata di Intramuros dan halamannya dihiasi taman penuh bunga. Lima ratus tahun ke belakang sampai pertengahan 1945, bau darah dan mesiu menyengat kawasan ini.
Fort Santiago awalnya terbuat dari kayu dan tanah, dibangun pada pertengahan 1500. Benteng itu dibangun saat masa kepemimpinan Rajah Sulayman, pemimpin masyarakat Melayu muslim di sekitar kawasan yang bernama Maynilad, yang artinya tempat di mana tanaman air berbunga seperti bintang tumbuh. Kata Maynilad kemudian berubah menjadi Manila.
Tahun 1570, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Martmn de Goiti, Juan de Salcedo, dan Miguel Lspez de Legazpi, datang ke Manila dan menyerang masyarakat muslim. Tahun 1571 pasukan Spanyol menang perang dan menjadikan Manila sebagai pusat pemerintahan kolonialnya. Spanyol terus melakukan pendudukan hingga menguasai nyaris seluruh wilayah Filipina sekarang.
Tidak hanya aneksasi wilayah yang terjadi, tapi juga aneksasi terhadap budaya dan kebiasaan. Spanyol berhasil membuat penduduk asli yang muslim beralih menjadi Katolik.
Hanya wilayah kepulauan bagian selatan yang terus bergolak dengan pemberontakan. Pergolakan di wilayah selatan bahkan terus berlangsung hingga saat ini.
Sebagian memberontak dan terus mempertahankan identitasnya sebagai muslim, sebagian lagi memberontak karena ingin mendirikan negara komunis.
Karena pergolakan yang terjadi sampai sekarang itu pula, orang muslim selalu dicurigai di sebagian wilayah Filipina, terutama di Manila. Jika ada orang Filipina yang memiliki nama muslim seperti Abdullah atau Ahmad, kecil kemungkinan dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di perkantoran.
Itu sebabnya pula, menurut seorang pengajar di Ateneo de Manila University, banyak orang Islam Filipina yang mengubah namanya menjadi berbau barat seperti Daniel, Michael, atau Jack, hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada pula yang salah paham dan malu dengan identitasnya sebagai muslim. Masih kata pengajar tadi, ada orang yang ditanya, apakah dia beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Ibumu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Bapakmu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Jadi kamu Muslim? Dia menjawab, "Bukan, saya orang Filipina."
**
Setelah menang perang, penguasa kolonial Spanyol memberi nama tanah jajahan barunya itu sebagai Philippine, diambil dari nama dan dipersembahkan untuk Raja Philip II, lelaki yang menjadi penguasa Kerajaan Spanyol saat itu.
Benteng bekas pertahanan Rajah Sulayman dibangun kembali. Kali ini dibangun dari batu. Mulai dibuat pada 1589 hingga 1592. Benteng itu diberi nama Santiago. Tapi hancur lagi pada 1645, oleh gempa bumi. Penguasa kolonial Spanyol memperbaiki kembali pada 1658 dan memperkuat struktur benteng pada 1663.
Hampir seratus tahun kemudian, pasukan Inggris datang menyerang, membabat habis angkatan laut Kerajaan Spanyol. Mereka merebut Filipina dari Spanyol pada 1762.
Fort Santiago dijadikannya sebagai pusat komando. Dua tahun kemudian, Filipina dikembalikan lagi kepada Spanyol. Pada 12 Juni 1898, bangsa Filipina menyatakan kemerdekaannya dari Spanyol, setelah penguasa kolonial itu kalah perang dari Amerika Serikat.
Tapi mereka tidak tahu, di tahun yang sama Spanyol menandatangani perjanjian damai dengan Amerika di Paris, Perancis.
Berdasarkan kesepakatan yang tercantum di Paris Treaty, Spanyol setuju untuk menjual seluruh kepulauan Filipina, beserta Guam dan Puerto Rico kepada Amerika, hanya seharga 20 juta dolar saja. Perjanjian itu ditandatangani pada 10 Desember 1898.
Lalu pasukan kolonial Amerika datang untuk menduduki kepulauan yang telah dibelinya. Bangsa Filipina, yang baru menikmati kemerdekaan selama tujuh bulan, kembali takluk di bawah kaki kolonial. Fort Santiago dan seluruh wilayah Intramuros, dijadikan sebagai pusat komando pasukan Amerika di Filipina.
Beberapa dekade kemudian, pasukan Kekaisaran Jepang menghancurleburkan pertahanan Amerika di Filipina dan merebut kepulauan itu pada 1942. Fort Santiago kembali berpindah tangan. Kali ini dari penguasa berkulit putih ke penguasa berkulit kuning. Bangsa taklukan berkulit cokelat tak bisa berbuat banyak dan kekejaman terhadap mereka tak juga berhenti.
Hanya tiga tahun Jepang menduduki Filipina. Tapi, seperti yang juga dialami oleh bangsa Asia lainnya, penderitaan selama tiga tahun itu sungguh tak terperi. Penyiksaan dan pembunuhan nyaris terjadi setiap hari di kamar-kamar bawah tanah di Fort Santiago.
Di akhir masa pendudukannya di Filipina, sekitar bulan Februari 1945, pasukan Jepang menangkap dan memenjarakan tak kurang dari 600 orang Filipina dan Amerika di Fort Santiago.
Ketika Fort Santiago kembali direbut pasukan Amerika, 600 orang itu telah tewas terbantai. Mayat mereka ditemukan di ruang-ruang bawah tanah sebuah gedung, di dalam lingkungan Fort Santiago. Nama gedung itu Baluarte de Santa Barbara.
Fort Santiago dan Intramuros, tak mungkin dilupakan oleh orang Filipina. Karena di tempat itulah seorang lelaki yang dianggap sebagai pembebas bangsa Filipina dipenjarakan dan akhirnya dihukum mati.
Dia adalah Josi Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda (19 Juni 1861-30 Desember 1896), atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Jose Rizal, intelektual dan pentolan kelompok rahasia penganjur kemerdekaan, "Katipunan."
Jose Rizal lulusan dari Ateneo Municipal de Manila (sekarang berubah menjadi Ateneo de Manila University), sebuah perguruan tinggi yang dijalankan dan dibiayai oleh kelompok Jesuit.
Sejak masih duduk di bangku kuliah, Jose Rizal selalu gelisah melihat ketidakadilan pemerintah kolonial Spanyol. Dia mengembara ke Eropa, menguasai 10 bahasa asing, meraih gelar doktor di University of Paris dan University of Heidelberg, mengabdi sebagai dokter di Kuba, lalu kembali ke Filipina, untuk memberi pencerahan kepada masyarakatnya.
Dia rajin menulis artikel dan novel, juga membuat patung. Dua novelnya yang terkenal adalah "Noli me Tangere" dan "El Filibusterismo".
Semuanya ditulis dengan nama samaran. Isinya: kritikan pedas terhadap korupsi, yang dilakukan pejabat kolonial dan petinggi gereja Katolik di Filipina. Patung karyanya yang sampai sekarang masih ada berjudul "The Victory of Science Over Death."
Pada 3 November 1896, Jose Rizal ditangkap dan dipenjarakan di Fort Santiago. Gedung tempat Rizal ditahan, kini diberi nama "The Shrine of Rizal."
Pagi hari tanggal 29 Desember 1896, Jose Rizal dihadapkan ke pengadilan kolonial. Tuduhan yang diajukan kepadanya, adalah pemberontakan, penghasutan, dan membentuk perkumpulan terlarang. Hakim menyatakannya bersalah dan menjatuhinya hukuman mati.
Jose Rizal kemudian dibawa ke sebuah kapel di gedung penjara Fort Santiago. Dia ditahan di kapel itu sampai esok harinya. Pagi hari, 30 Desember 1896, Rizal dibawa keluar dari ruang penahanannya. Dia digiring oleh sepasukan tentara Spanyol, keluar dari Fort Santiago menuju Luneta, Bagubayan Field, Manila. Tepat jam 7.03 pagi, Rizal ditembak mati oleh pasukan eksekutor. Di hadapan masyarakat yang berbondong menontonnya.
Sejak eksekusi itu, pemerintah kolonial Spanyol melarang nama Jose Rizal untuk diucapkan oleh orang-orang Filipina. Karena larangan itu, orang-orang Filipina menggunakan sandi "Dia yang Telah Mati" saat mereka membicarakan tentang Rizal. Baru setelah 12 Juni 1898 nama Jose Rizal diagung-agungkan sebagai pahlawan nasional.
Sekarang, pengunjung Fort Santiago bisa melakukan napak tilas Jose Rizal menuju kematian. Pengelola Fort Santiago sengaja membuat tapak-tapak kaki terbuat dari kuningan, yang ditempel di atas jalan beraspal. Tapak kaki itu bermula dari "The Rizal Shrine" hingga pintu keluar kawasan wisata Fort Santiago.
Di "The Rizal Shrine" juga tersimpan koleksi benda-benda pribadi Jose Rizal. Satu koleksi yang paling menarik adalah potongan tulang rusuknya, yang bolong oleh tembakan peluru.
Tulang rusuk itu diambil, saat sisa tubuh Jose Rizal diangkat dari kuburannya yang pertama, untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
Pemindahan jenazah Rizal, dilakukan beberapa hari setelah bangsa Filipina memproklamirkan kemerdekaannya. Potongan tulang Rizal, kini disimpan di atas kap lampu minyak, di dalam sebuah kotak kaca, di lantai dua "The Rizal Shrine."
Menikmati Intramuros saat ini adalah seni menikmati sejarah dan arsitektur kuno, sambil berjalan kaki di atas trotoar atau menggunakan kereta kuda di jalan raya yang terbuat dari batu akan terasa sangat mengasyikan.
Mungkin anda akan tertarik memasuki gereja-geraja tua seperti San Agustin Church. Atau gedung-gedung bersejarah seperti, Clamshell I (Old Ateneo), Plaza Santo Tomas, Plaza San Ignacio, Baluarte Plano Luneta de Sta. Isabel, Bahay Tsinoy/Kaisa Heritage Center, Plaza San Luis/Casa Manila/Hotel Intramuros, Baluarte de San Diego and Gardens, dan Baluarte de San Gabriel.
Duduklah sesaat di Plaza de Roma, sambil menikmati kemegahan Manila Cathedral di Postigo Street. Rasakan betapa tenangnya suasana kota itu. Atau berjalan kakilah menyusuri General Luna Street sampai ke perempatan Victoria Street.
Singgah dan rasakan suasana masa lalu di sekitar perempatan Real Street dan perempatan Sancta Potentiana Street, yang jalannya masih tetap berupa susunan batu tanpa aspal.
Intramuros memang berbeda. Dibandingkan dengan Quezon City atau Manila City misalnya. Di dua kota itu, orang-orang akan lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat di mana dunia menjadi gemerlap.
Tempat masrat untuk berhura-hura bisa disalurkan. Tapi ada sesuatu yang khas yang menjadi benang merah di wilayah Metropolitan Manila: kota itu penuh dengan perempuan cantik.

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 18 Mei 2007.

[+/-] Selengkapnya...

Lupakan London......

"Forget London, Now in Dubai (Lupakan London, Sekarang (Semua) Ada di Dubai)”, begitu bunyi iklan Harvey Nichols di perempatan City Centre Deira, jantung kota Dubai. Menyadari cadangan minyaknya menipis, Dubai menata diri untuk menjadi surga belanja di Timur Tengah.
Malam di pengujung hari Kamis itu semakin larut. Satu jam lagi masuk tengah malam. Namun, suasana di Mal City Centre Deira yang menempel dengan bangunan Hotel Sofitel tempat kami menginap masih hiruk-pikuk, padat oleh warga Dubai. Bagi warga kota itu, Kamis malam adalah malam akhir pekan.
Di salah satu sudut di mal tersebut, Ermina masih sibuk melayani pelanggannya. Jam di toko itu sudah menunjukkan pukul 23.15, tetapi belum ada tanda ia akan menutup gerainya. ”Setiap malam akhir pekan mal ini tutup pukul 24.00. Kalau pada hari-hari biasa, tutupnya pukul 22.00,” kata pelayan toko The Watch House itu.
”Meski jam buka ditambah pada akhir pekan, tidak ada tambahan upah,” ujar perempuan yang mengaku asal Filipina itu, berusaha tersenyum. Di akhir pekan itu, dari sore hingga malam pusat perbelanjaan tiga lantai itu penuh sesak oleh warga yang berbelanja.
Antrean panjang terlihat di depan sekitar 30 kasir di pintu keluar Carrefour, yang tetap dipenuhi pengunjung meski—menurut rekan wartawan—pelayanannya menyedihkan. Menurut pemandu wisata kami, mal-mal di Dubai rata-rata buka hingga tengah malam pada akhir pekan. Di malam akhir pekan, jalanan kota Dubai pun selalu macet.
”Booming” mal
”Dubai is a shopper’s paradise”, begitu isi brosur wisata Pemerintah Dubai. Untuk membuktikannya, mal-mal dibangun di mana-mana. Seperti terlihat di Mall of the Emirates, Jalan Sheikh Zayed; atau Mal City Centre Deira, mal-mal di Dubai rata-rata dibuat sangat besar dan luas.
Mall of the Emirates yang dibangun di lahan seluas 223.000 meter persegi, misalnya, menampung sekitar 400 toko dari berbagai merek terkemuka di dunia (Harvey Nichols, Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Roberto Cavalli, dan lain-lain), bioskop 14 layar, dua food court yang bisa menampung 2.300 orang sekaligus, dan arena ski es.
Saat berjalan-jalan di mal itu, Rabu (15/3) petang, dua jam berkeliling rasanya belum cukup merambah separuh isi mal yang konon terbesar di Timur Tengah dan terluas di luar Amerika Utara. Meski tidak sepadat Mall City Centre Deira pada Kamis malam, mal itu cukup ramai.
Pria-wanita—dari yang berpakaian dishdasha (jubah putih untuk pria) dan abaya (jubah hitam untuk wanita) lengkap dengan burqa (cadar) hingga mereka yang cuma bercelana pendek dan berbaju ketat semiterbuka—berjalan mondar-mandir. Dan seperti lazimnya di mal, harga barang di tempat itu tetap tinggi meski Dubai dikenal sebagai kota bebas pajak.
Ambisi Dubai membangun mal yang lebih besar tak pernah terpuaskan. Saat ini, bersamaan dengan pembangunan Burj Dubai—bakal gedung tertinggi di dunia—juga dibangun Dubai Mall. Menempati lahan 50 kali lebih luas daripada lapangan sepak bola, mal itu antara lain akan dilengkapi 1.000 toko khusus dan 7,8 hektar untuk gerai pakaian. Ditargetkan, tahun pertama beroperasinya Dubai Mall mampu menjaring lebih dari 35 juta pengunjung.
Bagi mereka yang ingin harga miring, pasar-pasar tradisional (souk) jawabannya. Harga barang di pasar umumnya bisa ditawar. Salah satu pasar tradisional yang terkenal berlokasi di Deira. Dari pengamatan di pasar emas tradisional Gold Souk di Deira, tak jauh dari Terminal Bus Gold Souk, kondisi pasar-pasar itu sangat bersih dan tertata rapi. Tak ada sampah tercecer.
Seolah tiada kekhawatiran bakal dirampok, berbagai perhiasan emas berupa gelang, kalung, cincin, dan lain-lain dipajang mencolok dari balik lemari kaca. Hanya satu-dua polisi yang tampak santai. ”Angka kriminal di kota ini nyaris nol. Dubai kota yang sangat aman,” kata Ilka Becker, pemandu wisata di Gold Souk.
Seperti terlihat di papan reklame di atas gerbang Gold Souk, Dubai mendapat pengakuan World Gold Council sebagai kota emas (city of gold). Dalam buku Dubai, Gateway to The Gulf disebutkan, kota di tepi Teluk Arab merupakan kota ketiga terbesar di dunia sebagai pusat perdagangan emas setelah London dan Zurich. Di Gold Souk, ada sekitar 200 toko emas, masing-masing mempunyai stok hingga 50 kilogram emas, dari 18 karat hingga 24 karat.
Dubai Duty Free
Naluri berbelanja di Dubai sudah dirangsang saat pengunjung baru saja mendarat di Bandara Internasional Dubai dengan kompleks perbelanjaan bernama Dubai Duty Free. Menempati lahan seluas 5.400 meter persegi di Terminal Sheikh Rashid dan 1.400 meter persegi di terminal yang lain, Dubai Duty Free menawarkan beragam belanjaan: fashion, perhiasan, parfum, barang elektronik, kamera, suvenir, dan sebagainya.
Situs bandara tersibuk di Timur Tengah itu mencatat, penjualan di Dubai Duty Free tahun 2004 menembus rekor 500 juta dollar AS. Ketika bandara tersebut diperluas dengan investasi 4,1 miliar dollar AS, seperti berlangsung saat ini, area ritel tempat berbelanja itu diperluas dengan tambahan lahan seluas 10.000 meter persegi.
”Jangan lupa bawa dua koper kosong jika ke Dubai,” kata Ilonka Leiwakabessy, Manajer Penjualan Emirates-Indonesia, meski setengah bercanda, menggambarkan Dubai sebagai pusat belanja. Dengan segala kemewahannya, sejumlah anggota DPR yang Desember 2005 mengaku studi banding ke Mesir pun tergiur mampir ke Dubai.
Posisinya yang di perlintasan Benua Eropa-Asia-Afrika menyebabkan Dubai sangat strategis menjadi bandara pengumpul (hub port). Dengan kelengkapan fasilitasnya sebagai kota destinasi, Dubai sering dijadikan tempat singgah klub-klub sepak bola Eropa saat mereka tur ke Asia. Kegiatan olahraga kelas dunia, seperti Dubai Desert Classic (golf) dan Dubai Terbuka (tenis), menjadi kalender rutin tahunan di kota ini.
Ibarat pepatah ada gula ada semut, Dubai pun memikat pendatang dari berbagai negara. Sekitar 80 persen penduduk kota itu bukan warga asli Uni Emirat Arab. ”Di sini tempatnya enak, tidak ada pajak. Standar gaji lumayan. Cuma di sini saja yang kurang bagus,” tutur Nur, perempuan Jakarta yang bekerja di restoran, kawasan Jumeirah Beach dan digaji 850 dirham (Rp 2,2 juta) per bulan.
Untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan ke kota itu, Dubai memperkenalkan istilah ”Dubai Stopovers”. Menurut Vice President Arabian Adventure Frederic Bardin, ini ditujukan bagi mereka yang dalam perjalanan lintas benua ingin singgah di Dubai. Cukup 65 dollar AS, mereka bisa mampir ke kota itu lengkap dengan akomodasi hotel, antar-jemput ke bandara, dan bebas biaya visa empat hari.
Setahun sekali, sejak tahun 1996, Dubai juga menggelar Dubai Shopping Festival sebulan penuh, tanggal 4 Januari-4 Februari. Festival tahunan itu biasanya menyediakan hadiah spektakuler, seperti mobil mewah Rolls Royce atau berkilo-kilogram emas.
Media internasional menjuluki kota itu dengan ragam sebutan: ”Las Vegas-nya Arab” (Newsweek), ”Singapura-nya Timur Tengah” (Time), ”Singapura-nya Arab” (New York Times), atau ”Dunia impian Arab” (The Economist). Seperti bunyi iklan di perempatan City Centre Deira, mereka pun percaya diri untuk berkata, ”Forget London, Now in Dubai....” (SAM)

Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Dubai, Surga Wisata di Negeri Teluk

MH SAMSUL HADI

Empat hari menyusuri ratusan kilometer jalan yang mengiris-iris kota Dubai, kota kedua di Uni Emirat Arab setelah Abu Dhabi, bukan hamparan padang pasir yang terbentang. Yang menonjol justru gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel mewah, mal-mal, dan berbagai arena wisata.
Inilah kota kosmopolitan baru di Asia yang berambisi menyaingi Singapura dan Hongkong sebagai destinasi utama.
”Ini kunjungan pertama Anda ke Dubai?” begitu sapa banyak orang kepada kami, tiga wartawan cetak dan dua wartawan televisi dari Indonesia, selama berada di kota tersebut. Sapaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan obrolan pembuka untuk membicarakan suasana kota Dubai saat ini.
Kota seluas 4.114 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 1,071 juta jiwa (tahun 2004) itu tidak hanya membuat decak kagum para pendatang, tetapi juga mencengangkan penduduk setempat. Mereka seperti tidak percaya, Dubai berubah secepat ini: dari hamparan padang pasir di pinggiran Teluk Arab menjadi bangunan-bangunan beton menjulang ke angkasa.
Itu terlihat jelas, terutama di sepanjang Sheikh Zayed Road dari Pelabuhan Jebel Ali di ujung selatan Dubai hingga kawasan Deira di bagian utara kota itu. Seolah tidak ada batas ambisi untuk menyulap Dubai menjadi kota kosmopolitan dunia, pembangunan properti terus berlangsung secara fantastis.
Burj Dubai, gedung pencakar langit setinggi 700 meter untuk 189 lantai, akan menjadi bangunan tertinggi di dunia. Saat kami mengunjungi lokasi itu, 14 Maret, pembangunannya sampai pada lantai 33. ”Satu lantai rata-rata selesai dalam lima hari. Burj Dubai diperkirakan selesai tahun 2009,” ujar Greg Sung, salah satu insinyur dalam proyek pembangunan gedung tersebut.
Bukan itu saja, ribuan hektar pantai Teluk Arab direklamasi untuk dibangun kawasan resor seperti pulau artifisial, yakni Palm Island (Jebel Ali), Palm Island (Jumeirah), Palm Island (Deira)—ketiganya menyerupai pohon palem yang konon bisa terlihat dari Bulan seperti halnya Tembok Raksasa China—dan The World (250 pulau buatan berbentuk peta dunia).
Fantasi Dubai pada hal-hal spektakuler masih berlanjut dengan dibangunnya Hydropolis, hotel di bawah laut pertama di dunia pada kedalaman 20 meter dan berjarak 300 meter dari pantai. Ini melengkapi kemewahan Dubai yang sejak tahun 1999 terwakili dengan berdirinya Hotel Burj Al Arab, hotel tertinggi di dunia (321 meter) yang melebihi tinggi Menara Eiffel di Paris, Perancis.
”Mereka yang tinggal di sini, lalu pergi dua tahun saja, begitu kembali ke Dubai, akan terkejut karena gedung-gedung bermunculan. Waktu menyetir, kadang-kadang saya berpikir, dari mana munculnya gedung-gedung itu,” ujar Clive Reed, Vice President Training and Development Emirates, yang sudah lama tinggal di Dubai.
Pembangunan proyek-proyek fantastis dan ambisius itu berpijak pada cita-cita menjadikan Dubai sebagai pusat turisme dunia, perdagangan, dan bisnis keuangan. Ambisi ini ditopang dengan pembebasan pajak (free tax) dan kebijakan langit terbuka (open-sky policy).

Menggarap turisme
Apa yang bisa dinikmati di Dubai? Dari brosur wisata Department of Tourism and Commerce Marketing Pemerintah Dubai, pariwisata di kota itu berusaha mengombinasikan warisan alam, kekayaan tradisional, dan karya arsitektur superfantastik.
Untuk wisata alam, Dubai menawarkan kekayaan lautan padang pasir, antara lain untuk menggelar reli mobil ala Paris-Dakkar plus suguhan tari perut sebagai penutup. Di kawasan Al Maha, mereka bangun resor eksklusif dengan menjual ketenangan dan ”keindahan padang pasir”.
”Anda bisa lihat, warna padang pasir itu berubah-ubah. Kadang-kadang merah, kadang-kadang kuning, kadang-kadang kehijauan. Pemandangan padang pasir itu bisa berubah tujuh warna,” kata Vaneet, warga India, sopir kami saat reli padang pasir di Saud Arabian Desert.
Kekayaan tradisional disuguhkan melalui wisata ”makan malam” di atas kapal tradisional (dhow dinner) dengan menyusuri Sungai Dubai, kampung tradisional (heritage village), museum yang didesain secara live menggambarkan Dubai tempo dulu, pasar emas tradisional (gold souk), serta pacuan unta.
Untuk wisata keindahan arsitek Dubai, wisatawan diajak mengagumi kemegahan gedung-gedung dan lokasi, seperti diungkap di awal tulisan ini. Tak ketinggalan, juga kawasan elite Jumeirah dengan ”hotel bintang tujuh” Burj Al Arab dan resor bergaya arsitektur mediterania dengan kanal memesona di antara rumah-rumah hunian.
Soal infrastruktur jalan, hal itu tak usah diragukan. Selama diajak berkeliling ke tempat-tempat wisata oleh Arabian Adventure—biro wisata milik maskapai Emirates—semua ruas jalan dalam kondisi mulus. Tak satu pun jalan berlubang atau tidak rata. Memacu mobil di atas kecepatan 120 kilometer per jam pun serasa tidak menapak bumi.
Jalanan kota Dubai semakin indah dengan hamparan bunga berwarna-warni di kiri-kanan jalan. Enaknya lagi, dengan kondisi jalan yang jauh lebih mulus daripada jalan tol Jakarta dan sekitarnya, pengendara tidak dikenai tarif tol.
”Tidak ada tarif tol di sini. Parkir di mal-mal atau hotel juga gratis. Hanya bayar kalau parkir di tempat parkir umum, dua dirham setelah dua jam,” kata Ali (26), warga Pakistan, sopir kami selama di Dubai. Dirham adalah mata uang Uni Emirat Arab (1 dollar AS = 3,67 dirham UAE).
Trotoar, terminal, halte, pasar, telepon umum, dan tempat-tempat publik lainnya sangat bersih. Sangat sulit menemukan ceceran kertas atau sampah plastik di kota yang 80 persen warganya berasal dari luar Uni Emirat Arab itu. Di beberapa ruas jalan, seperti di Jumeirah Street, terlihat trotoar jalan disemprot dengan air. Tidak cukup disapu!
Transportasi publik juga memadai. Selain bus yang semuanya dilengkapi alat pengatur suhu (air conditioner/AC), juga tersedia taksi-taksi dalam kondisi bagus yang bisa ditawar ongkosnya. Hampir semua taksi selalu menyiapkan kuitansi tanda pembayaran.
Angkutan sungai—biasa disebut abra—menjadi alat transportasi di Sungai Dubai (Dubai Creek) sepanjang 13 kilometer dengan lebar 100-500 meter. Ongkosnya cuma 50 pence atau setengah dirham. Meski juga dilalui kapal-kapal pengangkut barang dagangan, sungai itu tetap bening dan bersih. Tidak hitam, berbau, dan penuh sampah, seperti sungai-sungai di Jakarta.
Burung-burung camar pun kerasan bermain-main di permukaan sungai tersebut, menambah keindahan pemandangan bagi pengguna abra. Yang terpenting lagi, keamanan dan kenyamanan tinggal di kota itu terjamin. ”Saya bisa jalan-jalan ke luar kapan saja dengan aman, di malam hari sekalipun,” ujar Sheba Koonan, perempuan asal India, Media Relations Manager Emirates.
Kawasan Timur Tengah yang satu ini memberikan toleransi yang cukup leluasa bagi turis untuk ”tampil apa adanya”. Di mal-mal sering terlihat perempuan mondar-mandir sambil merokok, sementara di Pantai Jumeirah turis laki-laki dan perempuan membaur saat berjemur—tentu saja—dengan bikini.

Kebijakan langit terbuka
Saat ini turisme menjadi salah satu sektor andalan Dubai. Kesadaran itu sudah lama muncul, terutama setelah cadangan minyak di kota itu menipis. Minyak dan gas di Dubai, yang ditemukan tahun 1966, kini hanya menyumbang 6 persen pendapatan domestik bruto (PDB) kota itu dan akan habis kira-kira sepuluh tahun lagi.
Untuk menggenjot angka kunjungan turis, Dubai mengeluarkan berbagai kebijakan, antara lain kebijakan langit terbuka. ”Tidak ada batasan bagi maskapai penerbangan untuk datang dan pergi dari Dubai, menurunkan dan menaikkan penumpang, kapan saja,” kata Frederic Bardin, Vice President Arabian Adventure.
Tahun 1985 Dubai membangun maskapai penerbangan sendiri, Emirates. Kini, 21 tahun setelah berdiri, Emirates dengan 90 pesawat menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia dengan melayani penerbangan ke 81 kota dari 56 negara. Dua hal itu berdampak signifikan bagi kunjungan wisata ke Dubai.
Tahun 2005 sebanyak 24,7 juta penumpang singgah di Dubai; 5,5 juta penumpang di antaranya sengaja datang berekreasi di kota itu. Tahun ini angka penumpang yang singgah di Dubai diperkirakan melonjak lebih dari 28 juta penumpang dan tahun 2010 menjadi 60 juta penumpang.
Sementara angka kunjungan turis ditargetkan melonjak tiga kali lipat pada tahun 2015 atau sekitar 15 juta turis. Itu sudah diantisipasi dengan pembangunan tahap II Bandara Internasional Dubai dengan kapasitas menampung 70 juta penumpang per tahun.
Membangun berbagai infrastruktur, menyiapkan bandar udara yang memadai, dan menciptakan kemudahan, ini semua untuk menunjukkan: Asia bukan hanya Singapura dan Hongkong, tetapi juga Dubai.
Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Gambaran Kehidupan Damai



MANUSIA Iran punya harapan dan cita-cita seperti manusia lain di belahan benua yang lain. Harapan dan cita-citanya tercermin dalam karya-karya klasik mereka, baik dalam bentuk lukisan yang dianyam dalam karpet maupun di atas kanvas. Hal itu dijelaskan seorang pemandu wisata di Museum Karpet Iran sambil menunjukkan gambar-gambar yang ada pada karpet.
Gambar-gambar karpet selain mengambil dari cerita yang terkandung dalam kitab suci, juga mengambil penggalan mitologi yang paling menarik, serta harapan-harapan hidup damai dan bahagia. Dalam sebuah karya karpet berukuran 1,60 x 1,15 meter yang dibuat di Tabriz akhir abad ke-20 mengambil gambar dari penggalan cerita Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya.
Di atas tumpukan kayu, Nabi Ibrahim yang sudah siap mengorbankan anaknya, tiba-tiba datang malaikat Jibril dan seekor kambing yang akan menggantikan Ismail anak kesayangan Ibrahim yang saat itu akan disembelih sebagai korban. Karpet yang bergambar Nabi Ibrahim itu dianyam dari bahan katun dan wol.
Ada juga karpet dari katun yang dianyam pada awal abad di daerah Kashan berukuran 1,96 x 1,30 meter, dengan mengambil gambar dari penggalan cerita dari Shah Nameh, buku cerita tentang kerajaan. Salah satu gambarnya adalah penunggang kuda berpanah berlatar belakang sebuah kota. Cerita-cerita dari buku Shah Nameh ternyata sangat berpengaruh dalam gambar-gambar karpet Persia.
Gambar lain yang terekam dalam karpet kebanyakan gambar burung dan taman yang indah, serta kehidupan damai keluarga biasa maupun raja-raja. Gambar kehidupan nikmat itu terekam dalam salah satu karpet yang dianyam pada pertengahan abad ke-20 di Tabriz.
Pada karpet sepanjang 2 x 1,41 meter itu pada empat sudutnya terdapat gambar empat penyair terkenal Iran, yakni Hafiz dari Shiraz, Sheikh Saa’di Moulana Mowlavi-e-Roumi, dan Ferdowsi. Kemudian di antara gambar terdapat puisi yang bermakna sebagai berikut:
Duduk di taman dengan sorotan bulan bagaikan gadis cantik. Dengan selembar roti gandum, dan sebuah gelas besar anggur dan paha daging domba. Anda merasakan kehidupan yang nyaman, seperti tidak ada raja di dunia ini yang bisa menikmati kehidupan seperti itu.
Pada bagian tengah karpet terdapat gambar seorang pria duduk bersama seorang perempuan di sebuah taman. Di depannya terdapat paha domba dan roti, serta minuman. Inilah karya seni karpet yang merekam kehidupan nyaman dan damai yang diharapkan bangsa Iran. Bukan pertempuran!
KEUNIKAN karya-karya seni Iran juga tampak pada seni musik, musik agama, dan arsitektur yang terdapat unsur Asia dan Eropa. Kebudayaan yang berkembang di Iran memang dipengaruhi kebudayaan dari benua lain, mulai dari kawasan Sungai Nil hingga Eropa.
Di tanah Iran inilah terjadi pertemuan lingkaran peradaban Asia, Eropa, dan Afrika. Peradaban tersebut saling memengaruhi dan saling menyangkal satu sama lain. Hasil percampurannya menjadi suatu bentuk yang unik. Tidak habis-habisnya bentuk interaksi budaya ini menjadi lahan penelitian.
Dari segi mitologi, peneliti budaya Iran, Mania Sa’dinejad, mengatakan bahwa mitologi Iran merupakan kombinasi antara budaya-budaya yang lebih maju, antara Asia bagian barat dan budaya-budaya yang dimiliki bangsa Aria.
Ketika bangsa Aria masuk ke Iran, mereka mengembangkan dan mengintegrasikan budayanya ke budaya lokal sehingga terjadi perubahan besar dalam pemahaman tentang dewa-dewa yang dianggap sebagai pengatur kehidupan yang serasi.
Sejumlah arkeolog mencatat 10.000 tahun sebelum Masehi sudah ada kehidupan manusia yang berbudaya di Iran yang kini terhampar di atas dataran tinggi seluas 1.648.000 kilometer persegi tersebut. Catatan arkeolog itu berdasarkan pada penemuan benda-benda seni dan peralatan-peralatan di berbagai goa, seperti di Goa Pabda di dataran tinggi Chaharmahal dan Provinsi Bakhtiari.
Di daerah Pegunungan Zagross juga ditemukan benda-benda seni yang terbuat dari metal. Penemuan ini menunjukkan di kawasan tersebut pada tahun 3000 sebelum Masehi manusia sudah mengetahui bagaimana memanfaatkan benda metal dalam dunia seni.(nas)


Sumber: Kompas, Rabu, 23 Februari 2005.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, May 29, 2007

Penuh Monumen Kejayaan Masa Lalu

Waktu menunjukkan pukul 06.30 ketika pesawat kami mendarat di Bandara Bukhara setelah menempuh perjalanan satu jam dari Tashkent, ibu kota Uzbekistan.
Penumpang langsung diarahkan ke luar pagar bandara, tempat penjemput sudah menunggu. Masih bingung mencari mobil Nexia putih yang katanya akan menjemput, tiba-tiba seorang pria tinggi besar menghampiri. "Selamat pagi, selamat datang di Bukhara," kata pria bernama Muzafar.
Beberapa saat kemudian, pria lain bergigi emas, yang kemudian memperkenalkan diri bernama Boter, mengatakan siap mengantar. Ternyata Muzafar hanya menjemput, Boter yang selanjutnya akan mengantar keliling Bukhara.
Persoalan muncul karena Boter hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Uzbek dan sedikit bahasa Rusia. Sementara pemandu berbahasa Inggris, katanya, baru akan bergabung pukul 08.30.
Sambil menunggu, kami minum teh panas dan roti di sebuah warung terbuka di kawasan kota tua Lyabi Hauz.
Tempat ini dibangun tahun 1620, mengelilingi kolam. Di bagian utara Lyabi Hauz terletak bekas madrasah Kukeldash, yang pernah m
enjadi perguruan terbesar di Asia Tengah. Di antara rimbunan pohon-pohon murbei, terdapat patung pria di atas keledai. Dialah Nasrudin Hoja, tokoh penutur dalam cerita-cerita ajaran sufisme yang sangat terkenal.
Untungnya pemandu yang dinanti datang lebih awal dari yang dijanjikan. "Kami mempunyai banyak program. Sebaiknya saya ingin tahu, apa yang Anda minati, tempat-tempat mana yang ingin Anda lihat," kata Zinnat Ashurova, menawarkan.
"Setiap orang mempunyai minat sendiri-sendiri. Saya perlu menanyakan ini supaya Anda puas, kami pun senang," ujar Zinnat Ashurova menambahkan.
Sebenarnya saya maunya pasrah saja karena tak punya pengetahuan cukup detail tentang Bukhara, kecuali bahwa di kota ini merupakan salah satu kota tertua di Asia Tengah, berusia sekitar 2.500 tahun. Bahwa Bukhara merupakan kota penting yang dilewati rute jalan sutra, tempat kelahiran imam besar, Imam al-Buchory, ahli hadis ternama.
Setelah berdiskusi, kami akhirnya menyusun program bersama, menetapkan tempat-tempat yang akan kami datangi sampai sore hari.



Sisa kejayaan
Bukhara ternyata begitu memesona. Menyesal saya hanya menyisihkan waktu sehari saja. Ditemani oleh Zinnat yang tak pernah berhenti bercerita, saya seperti dibawa ke masa lalu, ketika kota ini menjadi salah satu saksi kejayaan Islam. Memiliki lebih dari 400 monumen, kota ini mempunyai museum terbuka terbanyak.
Madrasah atau tempat para pemuda menuntut ilmu sebagian kini digunakan untuk tempat kunjungan wisata. Di kawasan Lyabi Hauz, misalnya, ruang yang dulu digunakan untuk mahasiswa belajar, kini digunakan untuk toko-toko cendera mata. Sementara ruang terbuka di bagian tengah kini digunakan untuk restoran sekaligus pagelaran seni musik pada malam hari.
Sambil membayangkan suasana belajar dulu dalam gedung yang cantik, konsentrasi terpecah dengan tawaran bermacam cendera mata yang memenuhi sekeliling eks madrasah-madrasah di Lyabi Hauz.
Jika saja saya membawa banyak uang, niscaya banyak tentengan yang akan dibawa dari sini. Sayangnya, Bukhara dan juga tempat-tempat lain di Uzbekistan, kartu kredit nyaris belum menjadi alat pembayar yang diterima. Semua harus serba kontan. Maka, keinginan untuk belanja terpaksa harus ditahan.
Padahal, suzana—begitu sulaman khas Uzbek dinamakan— karpet sutra, boneka, lukisan, dan aksesori benar-benar menggiurkan.
Belum lagi pernik-pernik serba cantik yang ditawarkan oleh para pemilik toko yang ramah.
Sumber: Kompas, Jumat, 25 Mei 2007.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Die Welt Ist Schoen: ASIAN | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---