Thursday, July 26, 2007

Lucerne, Wajah Asli Swiss

Lucerne – ”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota kota di Swiss itu. Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan.Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini. Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan. ”Karena perang Irak dan juga sars, tahun ini turis yang datang tidak makin banyak,” tutur Angela Kaufmann dari kantor statistik kota ini. Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina. Desa Nelayan Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang. Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja. Namanya juga hobi, kendati hanya belasan ekor jumlahnya, tetap saja orang sini nekad memamerkannya. Memelihara ayam dan kelinci memang sebuah hobi yang sangat tipikal Swiss, seperti mengelus-elus keelokan perkutut bagi masyarakat Jawa.Jejak Mark TwainAda beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini. Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda. Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya. Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala. Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini.MuseumJika tertarik dengan benda kuno atau lukisan, Lucerne juga menyediakan tempatnya. Puluhan museum berada di kota ini. Namun yang paling menarik adalah Museum Transportasi dan Museum Pablo Picasso, pelukis aliran kubisme asal Italia. Museum Transportasi paling sesak dijubeli turis karena memang koleksinya paling lengkap dan besar. Namanya juga Museum Transportasi, isinya ya kendaraan, terutama kereta api di Swiss. Sementara Museum Pablo Picasso menyerap turis yang ingin menyaksikan lukisan serta foto-foto sang maestro semasa hidup. Selain tempatnya yang berada di jantung kota, museum ini juga terawat dengan sempurna.Bosan dengan museum atau suasana kota Lucerne, silahkan menikmati panorama Danau Lucerne. Banyak jadwal kapal yang akan mengangkut Anda untuk menikmati Danau Lucerne. Tinggal datang saja ke dermaga utama yang berada di dekat stasiun kereta api Lucerne ini, sejarak selemparan batu, dermaga itu sudah terlihat.Sementara bagi yang ingin menikmati keindahan Lucerne dari tempat yang agak luas, bisa memilih tur atau jalan sendiri ke Gunung Pilatus atau Gunung Rigi. Dua gunung ini sangat terkenal di Lucerne. Bahkan ada idiom jangan mengatakan pernah ke Lucerne jika belum pernah mencapai kedua puncak gunung itu.Namanya memang puncak gunung, tapi masyarakat Swiss sangat pintar untuk membuat sebuah tempat terpencil menjadi sangat gampang dijangkau. Maklum, ada kereta kabel gantung yang siap membawa turis ke kedua puncak gunung ini. Memang ada juga kereta biasa menuju ke kedua puncak itu, namun kereta ini akan tutup selama musim salju. Sementara kereta kabel gantung beroperasi sepanjang musim. Penulis Amerika Mark Twain yang pernah singgah di puncak kedua gunung ini, konon bisa sampai ke puncak dengan cara dipanggul di punggung orang lain. Maklum saja, zaman itu memang siapa saja yang ingin ke puncak Rigi atau Pilatus mesti jalan kaki, kecuali Mark Twain.

Sumber: Sinar Harapan 2003.









[+/-] Selengkapnya...

(Wisata Kota Weimar) Asal Muasal Republik Jerman

WEIMAR – Di kota tua nan cantik inilah Republik Jerman yang pertama berdiri, setelah kejatuhan sistem monarki (kerajaan). Tak aneh bila nama kota ini diabadikan sebagai Republik Weimar, tempat konstitusi Jerman dirancang dan disetujui pada tahun 1919. Kota tua ini terletak tak jauh dari Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thuringen. Kota di bekas wilayah Republik Demokrat Jerman (Jerman Timur) ini menjadi tempat kelahiran filsuf dan budayawan Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).
www.htwk-leipzig.deRumah penyair terkemuka Jerman Goethe dijadikan museum di kota Weimar, Jerman.
Memang dalam kurun waktu itu, sekitar 1800-an, Weimar menjadi pusat kehidupan intelektual Jerman, bahkan Eropa. Di kota ini pula Goethe menorehkan karya emasnya, termasuk karya termasyhurnya versi final ”Faust”.Weimar juga menjadi rumah bagi filsuf Friederich von Schiller (1787-1789 serta 1799-1805). Di sini Schiller menulis berbagai karya, di antaranya ”William Tell”.Kini Rumah Goethe (Goethe Wohnhaus) dan Kebun Goethe (Goethe Gartenhaus) menjadi salah satu museum yang menarik. Bangunan bergaya barok itu menjadi salah satu tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan, di samping Museum Nasional Goethe. Demikian pula dengan Rumah Schiller (Schiller Wohnhaus) yang terletak tak jauh dari sana. Sebagai kota kecil yang asri, jantung kota Weimar penuh dengan bangunan-bangunan tua yang tertata apik. Arsitektur gaya Rococco dan Barok kian mempercantik kota ini.

Di tengah kota ini pula, Anda dapat menikmati keindahan taman serta kafe-kafe dengan bangku-bangku di pinggir jalan yang menebarkan aroma kopi sedap menggoda. Maklum di sana tidak ada polusi dan wilayah ini menjadi tempat pejalan kaki (pedestrian) sehingga tak ada kendaraan berlalu-lalang. Belanja tentu tak masalah. Weimar terkenal dengan keindahan porselennya. Terutama di Schillerstrasse Anda bisa mendapati porselen-porselen cantik ini. Sebagai kota kelahiran para intelektual, beberapa toko buku terdapat di pusat kota ini. Tidak ketinggalan berbagai toko cenderamata yang menjual berbagai pernik menarik bernuansa Goethe maupun Schiller. Salah satu cenderamata khas kota Weimar adalah tanaman Ginko Billoba. Mulai dari bijinya sampai berbagai souvenir daun berbentuk mirip jantung hati itu dijual di sana. Tanaman ini dipercaya sebagai pemberi pengharapan, di samping diyakini menguatkan ingatan dan daya konsentrasi. Weimar juga memiliki Theater Nasional Jerman yang memainkan karya-karya Goethe, dan Johann Sebastian Bach. Anda yang menyukai musik klasik tentu dapat memanjakan telinga dengan karya-karya komponis besar dunia. Satu lagi jangan lewatkan Istana Musim Panas Schloss Belvedere. Dengan gaya Rococco, keelokan bangunan istana ini dapat dinikmati sepanjang musim panas. Biasanya orang tak akan melewatkan bekas Kamp Konsentrasi Buchenwald yang jauhnya kira-kira hanya 30 menit dari pusat kota Weimar. Kendati demikian, tentu Anda harus cukup kuat mental untuk menanggung perasaan mencekam bekas kamp konsentrasi itu.
Sumber: Sinar Harapan

[+/-] Selengkapnya...

Bentang Ladang di Poros Brussels-Paris (Perjalanan di Eropa)

Putu Fajar Arcana
Kami tiba di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda, pada Kamis (16/11) kira-kira pukul 07.00. Cuaca di musim dingin membuat pagi seperti terlambat. Selama pesawat menuju terminal kedatangan, dari jendela terlihat lampu-lampu kendaraan di jalanan. Amsterdam tengah memulai kesibukan lagi meski gelap belum sepenuhnya berlalu. Pada pertengahan November, daratan Eropa (Belanda, Belgia, Luksemburg, Jerman, dan Perancis—negara-negara yang akan saya kunjungi) tengah memasuki musim dingin.
Rombongan dari Sanggar Bajra Sandhi dan delegasi Bali Tourism Board, ditemani Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Hubungan Antarlembaga Firmansyah Rahim serta Deputi Bidang Koordinasi Agama, Budaya, dan Pariwisata Menko Kesra Risman Musa, memilih Kota Brussels, Belgia, sebagai home base selama berada di Eropa. Brussels tak hanya terletak di jantung Eropa, tetapi juga menjadi ibu kota berbagai institusi penting, seperti Komisi Eropa dan Parlemen Eropa serta NATO.
Sepagi itu, menurut ukuran kami, Bandara Schipol sibuk bukan main. Tak sampai selang lima menit, pesawat dari berbagai belahan dunia mendarat atau lepas landas dari sini. Ketika kami keluar dari terminal kedatangan dan menuju area parkir, transportasi umum seperti bus juga bergerak tak henti. Bus yang akan membawa rombongan dari Schipol menuju Brussels dikendarai seorang berdarah Belgia, yang kami kenal bernama Bruno.
Persoalan "kecil" menghadang ketika rombongan Bajra Sandhi akan mengeluarkan seluruh peralatan pentas, seperti gamelan, pakaian, serta instrumen pentas lain yang beratnya mencapai puluhan ton. Petugas-petugas pabean di Schipol memang seramnya bukan main. Jelas mereka tak bisa diajak kompromi. Beruntung dalam rombongan turut serta Al Purwa yang menjadi konsul kehormatan untuk Kerajaan Belanda dan Belgia di Bali. Dengan bahasa Belanda yang fasih, ia menceritakan bahwa seluruh peralatan itu untuk kepentingan pentas dalam rangka menjalin persahabatan Belanda dan Indonesia (Bali).
Diplomasi itu terbukti cukup ampuh. Mungkin karena orang Belanda menyimpan rasa malu terhadap "perilaku" leluhur mereka terhadap Indonesia di masa lalu. Namun, itu cuma dugaan saya.
Menuju Belgia
Kira-kira dalam waktu satu jam, kami sudah melaju di jalan bebas hambatan (dan ini perlu diketahui tak ada jalan tol yang bayar di Eropa) menuju Brussels. Perjalanan ke Brussels ditempuh dalam waktu tak kurang dari tiga jam. Terhamparlah lanskap khas negeri subtropik.
Yanti, salah seorang pemandu kami yang anak seorang diplomat di Belgia, menginformasikan bahwa tahun ini musim dingin sedikit terlambat. Maka, di sepanjang sisi jalan pohon-pohon belum sepenuhnya menggugurkan daunnya. Masih tampak pucuk-pucuk berwarna coklat tua, semak belukar kekuningan, daun-daun yang memerah, serta hamparan rerumputan yang hijau. Sepintas tadi di Schipol, saya melirik penunjuk suhu menunjukkan angka 10 derajat Celsius. Cukup dingin untuk ukuran orang-orang dari daerah tropis.
Sebelum Al Purwa menyambar mikrofon di dalam bus, saya segera menandai bahwa sungguh mengagumkan, sepanjang highway ini ladang-ladang begitu luas menghijau. Dalam dingin cuaca dari kejauhan, saya melihat gerombolan sapi dan domba dibiarkan "liar" di atas padang rumput yang hijau.
"Pemerintah-pemerintah di Eropa, termasuk Belanda, sangat melindungi tanah-tanah pertanian. Dilarang keras mengubah lahan pertanian menjadi perumahan," cerita Al Purwa. Ia menambahkan, petani di Eropa rata-rata memiliki lebih dari satu hektar tanah pertanian. "Dan yang menonjol, mereka membangun green house, maka pohon tropis pun bisa ditanam di sini," katanya.
Dalam jarak ratusan kilometer yang ditempuh kira-kira dalam tiga jam perjalanan, kami hanya menemui bentangan ladang yang hijau. Pemandangan itu tak hanya di dataran-dataran negeri Kincir Angin, tetapi berlanjut sampai ke Belgia. Sejak Uni Eropa terbentuk, hampir tak ada tanda di perbatasan setiap negara. "Kalau jalanannya sudah kasar, itu tandanya kita sudah di Belgia," kata Bruno. Kami kira tadinya ini pernyataan yang sinis. Ternyata, bus yang kami tumpangi memang lebih bergetar ketika melintas di permukaan jalan di negara Belgia ketimbang di Belanda.
Kehijauan yang luas
Kami menginap di Tulip Innm beralamat di Avenue du Boulevard 17, B-1210 Brussels, 16-27 November 2006. Dari Brussels seluruh perjalanan darat dimulai. Ketika bus bergerak menuju kota Garnich, Luksemburg, pada Jumat (17/11), diteruskan Sabtu menuju Sluiskil, Belanda, kemudian melaju ke Koln, Jerman pada Senin (20/11), dan terakhir ke Paris, Perancis, Selasa (21/11), pemandangan serupa menghampar di depan mata. Kehijauan seperti tak habis-habisnya.
Poros Brussels-Paris yang ditempuh dalam waktu tak kurang dari empat jam memperlihatkan pesona Eropa sejati. Diam-diam saya membayangkan Tanah Air yang (konon) penuh hamparan sawah hijau, dan karena itu masih dicap mengusung kultur agraris. Jangan salah, sawah hijau itu sebagian besar sudah bukan milik petani. Umumnya sawah di negara kita sudah menjadi milik para tuan tanah, yang kapan pun bisa mengalahfungsikan lahan pertanian menjadi perumahan. Tak jarang plang jalur hijau rontok diserobot nafsu membangun kota, yang konon juga demi mengejar pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, Eropa yang selama ini diberi label sebagai agen tumbuh dan berkembangnya kapitalisme "menyisakan" ladang-ladang yang mahaluas. Ladang-ladang itulah yang menjadi lumbung makanan selama ini. Maka, sungguh jarang kita dengar mereka kekurangan pangan. Sebaliknya, di negara kita, meski kaya sawah, di berbagai pelosok sering kali (dan ini berulang) terjadi kekurangan pangan. Bahkan, sering pula kita dengar banyak bayi yang kekurangan gizi….
Bukan hendak memuja Eropa, "Tetapi, kita mesti introspeksilah. Ini kan bukan negeri agraris, mengapa ladang mereka begitu luas?" begitu Firmansyah Rahim retorik dalam perjalanan Brussels-Sluiskil. Tentu dia juga kagum pada peradaban bangsa Eropa yang barangkali berabad- abad lebih maju dari kita. Bahkan, saya kira sangat muskil untuk disamai dalam waktu 10-20 tahun ke depan.
Perjalanan ini memang bukan hanya "pengembaraan" kesenian oleh Bajra Sandhi ke berbagai kota, melainkan juga perjalanan menyusuri peradaban. Sebuah peradaban yang benar-benar mengerti makna "adab" sebagai muara dari kehalusan, kebaikan budi pekerti, serta yang terpenting adalah tingkat kecerdasan yang tinggi.
Di hamparan padang rumput yang mahaluas itulah Eropa memperlihatkan keadabannya. Tidak saja pada peninggalan masa lalu berupa gedung bergaya gotik atau neoklasik, seperti terlihat di Paris, Koln, Garnich, dan Brussels. Tidak salah jika di sini kami merasa begitu "primitif". Cuma satu hal yang bisa kita banggakan bahwa kita lebih santai dan lebih murah senyum ketimbang orang-orang Eropa yang selalu tampak serius dan marah….
Sumber: Kompas, Jumat, 15 Desember 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, July 25, 2007

Velo'v, "Onthel" ala Lyon

Oleh: Prasetyo Eko
Di kaki bukit Fourvière, Lyon, Perancis, yang di puncaknya berdiri sebuah basilika indah, Notre-Dame de Fourvière, berjejer rapi sekitar 20 sepeda yang terpasang pada sebuah stasiun atau rak parkir. Di salah satu ujung tempat parkir terdapat satu kotak mirip mesin anjungan tunai mandiri.
Seorang perempuan memasukkan sebuah kartu dan mulai memencet sejumlah tombol di mesin tersebut. Setelah itu, dia menghampiri salah satu sepeda, menariknya keluar dari rak, lantas menggenjot sepeda itu melaju di jalur sepeda yang telah disediakan.
Perempuan tersebut merupakan salah satu dari ribuan warga Lyon yang sedang menggunakan jasa Velo’v, salah satu moda transportasi kota Lyon, selain tramway, metro, dan bus, yang murah, sehat, dan hemat energi. Velo’v merupakan penyewaan sepeda otomatis ala Lyon yang menjadi salah satu cerita sukses pengembangan kota ini.
"Lyon ingin mengembangkan diri menjadi kota hijau yang ramah lingkungan, sehat, dan hemat energi. Salah satunya adalah dengan program Velo’v," kata Endra Atmawidjaja, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar tentang urbanisme di Universitas Lumiere, Lyon.
Selain buat pejalan kaki, kota Lyon juga merupakan salah satu surga bagi para pengguna sepeda. Jalur khusus bagi sepeda tersedia di jalan-jalan kota. Menyusuri bagian kota tua Lyon yang dipenuhi bangunan kuno dan ditetapkan PBB sebagai salah satu situs warisan dunia memang lebih nyaman menggunakan sepeda.
Hal ini sudah pasti berbeda jauh dengan Jakarta yang, jangankan jalur sepeda, trotoar yang menjadi hak pejalan kaki saja secara sewenang-wenang dikuasai pengendara sepeda motor, dipenuhi warung, bengkel, dan lainnya. Meskipun pada beberapa tahun terakhir mulai muncul pencinta sepeda, seperti komunitas bike to work, tuntutan mereka untuk memiliki jalur sendiri di Jakarta layaknya busway masih menjadi impian.
Sejak diluncurkan tahun 2005, Velo’v telah menjadi cerita sukses. Pada Juni 2006, setidaknya terdapat 22.000 kali penyewaan per hari yang dilakukan oleh lebih dari 52.000 orang yang terdaftar sebagai pemakai. Velo’v sendiri merupakan sepeda yang didesain secara ergonomis agar nyaman dipakai, memiliki tiga tingkat kecepatan, serta keranjang untuk menaruh barang pengguna di atas roda depan.


Stasiun parkir
Selain di Fourvière, ada ratusan tempat lain di Lyon yang memiliki stasiun Velo’v, seperti di Gerland. Stasiun biasanya didirikan di tempat yang ramai dikunjungi warga.
Mulai awal tahun 2007, sepeda, yang pada awalnya hanya 1.500 unit, dan stasiun parkir direncanakan ditingkatkan jumlahnya. Sepeda akan ditambah menjadi 4.000 dan lebih dari 400 stasiun di seluruh penjuru kota. Diharapkan, dalam setiap jarak 300 meter akan ada satu stasiun Velo’v.
Velo’v memiliki sistem yang sederhana dan murah, yaitu menggunakan kartu prabayar. Untuk mendapatkannya, hanya dibutuhkan 1 euro atau Rp 12.000 untuk kartu dengan masa pakai selama satu pekan atau 5 euro untuk kartu dengan masa pakai satu tahun. Adapun untuk sewa sepeda, peminat hanya mengeluarkan sekitar 1 euro per satu jam dengan 30 menit pertama gratis.
Namun, untuk dapat menyewa Velo’v, pengguna harus memenuhi batas nilai kartu kredit minimum sebagai jaminan. Dalam praktiknya, menurut The Guardian, penggunaan Velo’v lebih banyak gratis karena sekitar 90 persen pengguna hanya melakukan perjalanan kurang dari 30 menit.

Canggih
Meskipun tak beda dengan sepeda biasa, mengandalkan tenaga manusia untuk menggerakkannya, sebenarnya sepeda Velo’v memiliki teknologi yang cukup canggih, yakni adanya komponen elektronik untuk identifikasi dan statistik yang rinci mengenai penggunaan sepeda tersebut.
Setiap kali sepeda dipasang di tempat parkirnya, sistem akan mengecek keseluruhan fisik sepeda, termasuk tekanan ban, lampu, dan rem, serta mengumpulkan data seperti jarak dan waktu pemakaian. Seandainya ada salah satu komponen rusak, sistem tidak akan mengizinkan sepeda tersebut disewakan sehingga pengguna tidak mungkin mengalami rem blong.
Untuk pembangunan Velo’v pihak kota bekerja sama dengan JC Decaux, sebuah perusahaan periklanan. Perusahaan ini menginvestasikan dan mengoperasikan Velo’v dengan imbalan mendapatkan hak untuk menjual lahan iklan di sejumlah moda transportasi lainnya. Tidak disebutkan berapa dana yang dibutuhkan untuk investasi Velo’v.
Kesuksesan Velo’v membuat sejumlah kota tertarik untuk mengaplikasikannya. Yang paling bersemangat adalah Amsterdam, yang disebut-sebut sebagai ibu kota sepeda dunia. Dengan sistem transportasi yang semrawut, jangan berharap ada Velo’v di Jakarta.


Sumber: Kompas, Kamis, 26 Juli 2007.

[+/-] Selengkapnya...

Tuesday, May 29, 2007

Bekas Tembok Berlin, Kini Salah Satu Objek Wisata Menarik

REUNIFIKASI atau penggabungan dua negara besar Jerman Barat dan Jerman Timur sudah berlangsung 16 tahun. Tak ada lagi persoalan rumit yang menjadi ganjalan antara keduanya, kecuali sekadar demo kelompok Neonazi yang mengingatkan kejayaan Hitler, setiap awal Mei. Itu pun tak perlu sampai mengakibatkan peristiwa berdarah-darah, apalagi ada yang meninggal. Tidak ada lagi batas wilayah yang dijaga ketat oleh tentara dengan senjata terkokang. Bahkan kini hanya ada satu Jerman yang jaya.
Namun begitu, sisa-sisa peristiwa dramatik berupa perpisahan dua negara tersebut, satu beraliran komunis di bawah bendera Uni Soviet dan satu lagi negara liberal demokratik Jerman Barat, masih abadi. Tembok Berlin, meski hanya sisa-sisa, masih berdiri kukuh. Pintu gerbang masuk yang menjulang, dengan patung Maria di atasnya, juga masih berdiri tegak.
Itulah Jerman. Indahnya kebersamaan, telah dirasakan mereka. Kini negara itu menjadi salah satu termaju di segala bidang. Kemajuan yang tidak pernah terjadi ketika mereka berpisah semenjak 1961, ketika masing-masing pemimpin negeri itu, memutuskan pilihan afiliasinya.
Jerman Timur memilih bergabung ke timur dan menjadikan Berlin sebagai ibukota. Sedangkan Jerman Barat yang beraliran liberal demokratis memilih Bonn sebagai ibukota negara. Tembok pun dibangun oleh pemerintahan Jerman Timur, sebagai pembatas. Siapapun yang mencoba melintasi, harus siap diberondong senjata, terkena peluru tajam, dan merelakan nyawanya melayang.
Perbandingan taraf hidup yang cukup menonjol menjadi salah satu penyebab warga yang ingin melompat ke wilayah lainnya. Begitu pula, keinginan bertemu sanak saudara, mendorong mereka nekad melompati tembok pembatas. Terutama yang berada di timur ingin melompat ke barat. Penjagaan ketat serdadu 24 jam, tak bisa disepelekan. Akibatnya hampir tidak pernah ada seorang pun yang lolos melintas. Dan sudah dipastikan nyawanya tak tertolong lagi.
Ribuan nisan menjadi saksi betapa kejamnya sebuah perbedaan, kini bisa ditemui di depan bekas tembok yang sudah dirobohkan. Betapa buasnya sebuah kepentingan, yang mungkin sebenarnya hanya dirasakan oleh para elite politik, namun tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat di bawah.
Jerman Barat tumbuh dengan pesat. Industri, kekayaan alam, teknologi, pendidikan, semuanya maju. Seakan kejayaan Hitler di masa lalu, hanya diwarisi oleh mereka saja. Karena itu wajar jika penduduk yang ada di wilayah timur, merasa iri. Kenapa mereka yang memiliki nenek moyang sama, tidak bisa menikmati kejayaan Hitler ? Kenapa mereka yang memiliki moto, senang dinikmati bersama, susah dirasakan bersama, ternyata hanya bisa kebagian susahnya saja ?
Karena itulah tidak ada pilihan lain, kecuali melompati pembatas, berburu manisnya gula di Jerman Barat. Namun, sekali lagi, nyawa yang selembar itu, seakan menjadi barang tak berharga, ketika pelor para tentara negeri beruang putih, tak pernah mau berkompromi. Dor ! Robohlah sang pelintas batas yang hanya bonek, berbekal nekat.


Sungai
Sungai Rhine, persis berada di sebelah tembok, seakan menjadi saksi mengucurnya darah merah sang pelintas. Sungai yang kini menjadi salah satu andalan wisata air di hampir seluruh negeri di Eropa, termasuk di Berlin, kala itu seolah selalu bersedih karena menyaksikan nyawa meregang.
Namun kini, segalanya telah berubah. Tahun 1989, seluruh rakyat bertekad untuk bersatu memulihkan persaudaraan sesama bangsa Arya. Seluruh rakyat di dua wilayah menyatukan langkah membangun persahabatan dan menciptakan persatuan.
Tahun itu pula, seluruh rakyat turun ke jalan, merayakan kemenangan, ketika tangan warga di sebelah timur diulurkan, mendapat sambutan dengan dekapan hangat penduduk di sebelah barat. Karena itulah di tengah sungai Rhine di pusat kota Berlin, terdapat beberapa patung orang berangkulan, simbol persahabatan, simbol persatuan sesama warga Jerman. "Kami bersaudara, kami bersatu." Begitu, mungkin, teriak mereka.

SISA TEMBOK : Sisa tembok pembatas di Berlin yang kini menjadi ajang bagi penggemar grafiti untuk mencorat-coret secara artistik.

Secara bersama-sama, mereka meruntuhkan tembok yang selama ini menjadi momok menakutkan, yang memisahkan dua warga bersaudara tersebut. Seluruh anggota parlemen dua negara, beserta pemimpin mereka pun saling bergantian memberikan sambutan dan rangkulan bahagia. Tak ada lagi perbedaan antara bangsa timur dan barat. Bahkan, Berlin dijadikan ibu kota Jerman. Warga barat merelakan kota terbesar di timur itu sebagai kota utama mereka, karena di sanalah awal dimulainya sebuah persahabatan.
Para warga di barat pun merelakan saudaranya di timur untuk datang menuntut ilmu, melamar pekerjaan dan bergabung menikmati kemajuan. Mereka pun memaklumi ketika saudara mereka dari timur itu, untuk beberapa hal masih kalah jauh, dan perlu pembelajaran lagi.


Ilmuwan
"Dulu, kawasan ini sangat terbelakang. Bukan bermaksud membandingkan, namun perbedaannya terasa sangat jauh antara di barat dan timur. Karena itu, kami harus memaklumi ketika seluruh dana dari barat dicurahkan untuk membangun kota-kota di timur," kata Dr Lothar Mahnke, profesor ekonomi dari Regionomica, Jerman, salah satu lembaga swasta yang menjadi konsultan pembangunan ekonomi kawasan Jerman.
Banyak potensi di kawasan timur, namun karena kondisi dan situasi politik yang ada, mengakibatkan segalanya tak bisa dimaksimalkan. Sebutlah Kota Dresden. Di kota itu, terdapat perguruan tinggi ternama. Ribuan ilmuwan dicetak di situ. Bahkan, di situ pula Marthin Luther menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Jerman. Tentu jika bukan karena landasan keilmuwan yang tinggi, tidak mungkin ada ide tersebut.
Wajar jika khasanah keilmuan berkembang pesat di Dresden.
Siapa tak kenal Anglo Saxon ? Pelopor sistem pendidikan yang berbasis riset dan pengajaran. Karena itulah kota Dresden disebut Saxony, kotanya Anglo Saxon. Di situlah riset dikembangkan. Di kota itulah kini ilmuwan Jerman memfokuskan seluruh perhatiannya untuk mengembangkan negerinya, agar tetap menjadi kampiun dalam teknologi.
Ada pusat riset bioteknologi, ada riset aeronautika, dan sebagainya.
Di situ pula terdapat perusahaan mobil VW yang khusus memproduksi mobil mewah jenis Phaeton. Perusahaan yang membuka diri menjadi obyek turisme. Turis bisa menyaksikan bagaimana mobil dibuat, mulai dari awal sampai jadi. Hanya 24 jam, mobil pun siap diantar ke konsumen yang memesan.
Mau main ski ? Cukup pergi dengan kendaraan satu jam saja ke arah utara kota. Di situ, di kawasan Saxon Switzerland, di area pegunungan yang diliputi salju tebal setiap musim dingin. Salju putih, seperti meneguhkan putihnya warga timur yang ingin bersatu membentuk Jerman yang jaya.
"Dresden memiliki motto pengembangan Riset, Turisme, dan Tradisional. Kami tidak ingin meninggalkan suasana tradisional. Kami masih mempertahankan kota ini seperti semula. Kami menghormati gereja, kami punya Martin Luther yang berjasa menerjemahkan Injil," kata dia.
Suasana kota yang teduh, hijau, diliputi warna-warni lampu penghias kota yang semburat di antara kubah gereja Katedral, serta pelabuhan air sungai Rhine, sungguh indah dipandang mata.
"Datanglah ke sini jika ingin menikmati kenyamanan hidup," imbuh Mahnke.
Tak hanya Dresden, pembangunan kawasan lainnya di wilayah timur pun terus bergerak dengan cepat. Privatisasi dijalankan untuk mengundang investor masuk.
Di kota Halle jadi pusat petrokimia terbesar di Jerman yang sekaligus juga mampu menyangga sebagian kebutuhan kimiawi di berbagai belahan Eropa. Brandenburg yang indah dengan wisata air, dikembangkan menjadi pusat pabrik pemasok komponen otomotif. Pokoknya tak ada lagi sisa kesusahan yang dulu dirasakan warga di kawasan timur. Yang ada adalah persamaan derajat dan kenyamanan hidup.
Bagaimana dengan Berlin ? Kota itu menjadi kota utama di Jerman. Sangat jauh bedanya antara kini dengan 25 tahun lalu, ketika masih dipisahkan tembok besar. Dulu meski jadi ibukota Jerman Timur, namun kotanya terlihat kuno. Bahkan disebut kota hitam, karena tingkat kejahatan dan kerawanan sosial yang tinggi.
Namun, Berlin kini menjadi pusat peradaban. Universitas-universitas yang menjadi pusat riset, tinggalan masa lalu, kini semakin maju. Ada 9 universitas besar di Berlin, yang menjadi tumpuan riset dan pengembangan teknologi. Humbolt University, Berlin Institute of Technology, dan sebagainya.
Sisa tembok itupun hingga kini pun masih berdiri, sama dengan gerbang megah yang tetap tegak menjulang.

CHECKPOINT : Tempat pemeriksaan bagi pelintas batas yang ingin masuk atau keluar Berlin saat masih dipisahkan tembok. Kini jadi kenangan dan digunakan pengunjung untuk latar belakang foto.


Check-point, tempat pemeriksaan siapapun yang meminta ijin melintasi perbatasan, masih utuh dan dibiarkan seperti aslinya. Tempat kamp tentara berjaga juga dibiarkan utuh, sebagai kenang-kenangan.
Ribuan orang tiap hari mendatangi lokasi bekas tembok yang dirobohkan, dan kini menjadi jalan mulus yang lebar, menghubungkan kawasan barat dan timur.
Di depan tembok ada ribuan nisan tempat menguburkan tokoh pejuang yang mempertaruhkan nyawanya sebagai tumbal persatuan. Ada yang beridentitas lengkap, namun tidak sedikit yang tanpa nama.
Kini, semuanya tinggal kenangan. Yang ada adalah masa depan bersama, masa depan Jerman yang jaya. Semuanya merasakan, betapa indah kebersamaan itu.

Bekas Pabrik pun Jadi Objek
PABRIK VW : Pabrik mobil mewah VW Phaeton yang diproduksi di Dresden, menjadi salah satu objek turis yang menarik di bidang teknologi otomotif.

ADA perbedaan mencolok antara gedung parlemen di Jerman dengan gedung DPR di Indonesia. Kalau gedung parlemen Jerman menjadi objek turisme, karena banyak kenangan sejarah yang tak terlupakan, gedung parlemen Indonesia (DPR) juga banyak dibanjiri masyarakat, namun mereka berdemo karena ingin mengadukan sesuatu masalah.
Hebat, memang. Gedung parlemen yang berada di pusat kota Berlin itu tiap hari diantre masyarakat, yang akan masuk dan menyaksikan dari dekat, bagaimana rupanya. Mereka rela antre berjam-jam untuk bisa masuk secara gratis. Ya, harus antre, sebab untuk masuk ke gedung parlemen itu, mereka menjalani pemeriksaan berlapis layaknya akan masuk ke istana negara. Harus melalui sejumlah pemeriksaan detektor.
Di gedung itu dulu, Hitler sering berpidato di depan para senator. Termasuk menjelang Perang Dunia II, yang kemudian mengakibatkan kota Berlin dan Eropa Timur lainnya dibumihanguskan Amerika. Tempat itu juga menjadi saksi ketika senator Jerman Timur ikut memutuskan peristiwa robohnya tembok Berlin, saat desakan reunifikasi terjadi.
Karena banyak peristiwa bersejarah, masyarakat pun ingin melihat langsung bagaimana sebenarnya gedung itu. Bagaimana pula para senator bersidang, dan apa isi gedung tersebut. Untuk itu, staf ada yang ditugasi memandu dan menceritakan hal ihwal kepada pengunjung.
Saat rombongan dari Indonesia dan rombongan GTZ lainnya masuk, staf yang bertugas memandu rombongan, bercerita bagaimana riwayat gedung yang dibangun awal tahun 1800-an tersebut.
Banyak yang ingin tahu, seperti apa isi dalamnya. Seperti apa kursinya, di mana ketua parlemen dan perdana menteri duduk, dan sebagainya.
Harus diakui, di samping kekunoan gedung berlantai 8, yang arsitekturnya tampak seperti gereja katedral , juga daya tarik kesejarahan, yang menjadikan kenapa turis berkunjung. Di lokasi itu pula para anggota senator yang meninggal diabadikan namanya, di sebuah batu berukir di halaman depan.
Kreativitas pengelola pariwisata di Berlin memang patut dipuji, karena mereka bisa mempromosikan dan menjadikan gedung sebagai obyek wisata, di saat gedung itu tidak dipakai bersidang. Setiap dua minggu sekali, para senator di Jerman bersidang di tempat itu selama seminggu penuh. Tentu pada saat itu masyarakat umum tidak bisa masuk.
Pabrik Batubara
Ada lagi yang menarik untuk dikunjungi, yakni pabrik batubara di Duisberg. Pabrik yang dibangun tahun 1872 itu tak lagi berproduksi sejak tahun 1986. Wilayah barat Jerman (Westphalia) itu memang kaya dengan bahan tambang. Tak hanya batubara, juga logam. Karena itu industri berat banyak ditempatkan di sana. Ada pabrik baja terbesar, pabrik alat dapur Sollingen yang terkenal, Dupont, dan sebagainya. Di samping kekayaan alam berupa batubara yang juga sudah dieksploitasi sejak lama.
Menurut Dr Mayastama dari Mesopartner, lembaga konsultan pembangunan ekonomi kawasan Westphalia, pabrik itu setiap hari memproduksi 12 juta ton barubara. Karena dibangun dengan dana yang diperoleh dari Amerika, maka saat tentara sekutu membombardir kawasan Jerman, lokasi pabrik itu tidak ada yang hancur. "Amerika memang pintar sejak dulu. Kepentingannya di manapun, tak pernah diganggu, meski negara itu dihancurkan. Termasuk pabrik mobil Opel yang juga didanai bank AS, tidak rusak secuilpun," kata dia.
Setelah sekian puluh tahun digali, akhirnya bahan batubara yang tersisa di kedalaman 1.000 meter di dalam perut bumi pun tidak layak lagi. Biaya operasional tidak memadai dengan harga jualnya, sehingga pabrik tersebut dihentikan operasinya.
Namun, berhentinya pabrik, bukan berarti nilai jualnya habis. Pabrik pun dilestarikan bangunannya, dan dijadikan objek turisme. "Yang dijual adalah keaslian mesin, , dan juga berbagai bangunan yang tetap terpelihara sampai sekarang," kata dia.
Untuk melestarikan dan merawat pabrik itu, pemerintah federal Jerman mengalokasikan dana 50 juta euro selama lima tahun, atau sekitar 10 juta euro selama setahun. Jika dirupiahkan, mencapai Rp 600 miliar. Sangat besar, namun mungkin itulah komitmen yang ditunjukkan pemerintah pada dunia turisme.
Ada cerita menarik yang disebarkan kepada pengunjung. Di samping soal keaslian pabrik dengan mesin buatan Siemen, ternyata akibat eksplorasi batu bara itu, tanah di sekitar kota menjadi labil. Bahkan pabrik yang dulu dibangun dengan ketinggian bangunan mencapai 100 meter, ambles sampai 25 meter.
"Amblesnya bangunan itu memang berjalan sekitar 100 tahun lebih. Tidak terasa, namun sungguh luar biasa akibat yang dirasakan. Bangunan lainnya di kota ini pun tidak ada yang berdiri tegak. Semuanya berubah, ada yang miring ke kanan, ke kiri, pokokya labil tanahnya akibat eksploitasi tambang."
Pabrik itu kini tinggal monumen. Di bagian mesin utama justru berdiri restoran termahal, dengan arsitek unik karena mesin-mesin masih terpampang di kanan dan kini meja yang digunakan makan. Unik dan sekaligus juga menarik.Bupati Karanganyar Rina Iriani kini sedang mencoba meniru. Bekas pabrik gula Colomadu dijajaki untuk dijual ke swasta, dimanfaatkan sebagai obyek turisme. Mungkin konsepnya bisa meniru pelestarian pabrik batubara di Disberg itu.

Sumber: Suara Merdeka.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Die Welt Ist Schoen: EUROPE | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---