Thursday, July 26, 2007

Menengok "Saudara" di Madagaskar


MADAGASKAR, pulau terbesar keempat di dunia setelah Greend Island, Irian, dan Kalimantan, terletak dekat benua Afrika. Dengan penduduk sekitar 16 juta orang, mayoritas berwajah Melanesia, bahkan cenderung Indonesia, memiliki kekhasan sendiri. Mereka merasa dekat dengan Indonesia, bahkan presidennya, Marc Malomanana, ketika menerima awak perahu Borobudur di istananya menyebutkan, "Kita adalah saudara".
Nah, inilah beberapa keadaan "saudara" kita.
Wartel Tenda
MODALNYA cukup tenda kafe yang ditanam di pinggir jalan dilengkapi dengan meja kecil untuk menaruh telepon seluler, buku catatan, dan dua stopwatch. Sebuah papan kecil bertuliskan nama perusahaan seluler berikut tarif menelepon lokal, interlokal, atau internasional disandarkan di meja. Siapa pun yang membutuhkan hubungan telepon bisa langsung disambungkan. Begitu hubungan tersambung, tangan kiri pemilik menyerahkan telepon seluler, tangan kanan memijit tombol penghitung waktu (stopwatch). Jika pembicaraan usai, pemakai tinggal membayar sesuai waktu penggunaannya.
Ini memang baru bisa dijumpai di Madagaskar, tepatnya di kota Antananarivo. Namun, idenya sungguh brilian. Bayangkan, membuka warung telepon cukup beratap tenda yang bisa pindah ke mana-mana. Bahkan, ada cara yang lebih sederhana lagi, seorang lelaki menyandang tas di depan dadanya, bertuliskan Taxi Phone. Tas itu berisi dua telepon genggam dan lelaki itu menjajakan jasanya masuk-keluar pasar. Siapa yang mau menelepon tinggal menyerahkan nomornya.
Di Madagaskar terdapat dua perusahaan seluler, Orange dan Madacom. Jika pelanggan menyerahkan nomor telepon, pemilik wartel itu segera mengenali SIM card keluaran mana dan ia pun akan menghubungi tujuan dengan telepon seluler ber-SIM card yang sama agar tarifnya lebih murah. Bagi pengguna telepon, untuk pembicaraan lokal per menit dikenai biaya FMG 1.000 setara Rp 1.250. Tarif untuk interlokal MFG 3.500 (Rp 4.500) dan hubungan internasional MFG 10.000 (Rp 12.500) per menit. Pemilik berlangganan pascabayar sehingga tarifnya tentu lebih murah.
Jadi, sebenarnya tak perlu susah-susah membuka warung telepon. Sederhana, tetapi praktis. (ms)
"Sanering" Diam-diam
MADAGASKAR baru saja mengakhiri pemerintahan sosialis dan berganti menjadi liberal. Selain melakukan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, pemerintahan PM Malomanana melakukan pemotongan nilai uang secara damai. Ini dilakukan selain untuk mengangkat nilai uangnya yang selama ini menggunakan franc Malagasi (FMG), juga mengurangi dominasi Perancis.
Kini, Pemerintah Madagaskar mengeluarkan mata uang aryary di samping FMG yang masih berlaku. Mata uang aryary bernilai lima kali lipat dibandingkan dengan FMG dan hal itu dicantumkan dalam lembar aryary. Pada awalnya tulisan aryary tercetak lebih kecil daripada MFG, namun pada lembar uang keluaran tahun 2003, justru tulisan aryary yang diperbesar.
Di pasar-pasar tradisional luar kota Antananarivo, ibu kota Madagaskar, harga-harga ditetapkan dalam aryary, sedangkan di dalam kota orang masih menggunakan FMG sebagai patokan. Menurut ketentuan pemerintah, pada tahun 2004 mendatang, mata uang MFG secara berangsur akan ditarik dan akhirnya tidak akan digunakan lagi.
Pemerintah menetapkan 1 dollar AS nilainya setara 6.000 FMG, namun di pasar gelap orang berani menukar hingga 64.000 MFG. Hanya saja pasar gelap memang benar-benar gelap, tidak terang-terangan seperti di Indonesia dulu. Jika penjual dan pembeli tertangkap sedang transaksi, hukumannya cukup berat. (ms)
Detergen untuk Cuci Rambut
PRODUK Indonesia banyak beredar di Madagaskar dan menjadi kesenangan masyarakat. Selain harganya murah, nama Indonesia (apalagi Soekarno) tidak asing bagi mereka. Sabun detergen So Klin, misalnya, dijajakan di banyak tempat hingga pelosok kota. Setiap sachet isi 50 gram dijual sekitar Rp 200 dan tidak hanya digunakan untuk mencuci pakaian, tetapi juga mencuci rambut.
Di pasar-pasar, kita akan menjumpai mi instan, alat-alat elektronik, dan barang pecah belah buatan Indonesia. Harganya bisa separuh dibandingkan buatan Perancis. Ini sangat membantu rakyat yang penghasilan rata-ratanya hanya 250 dollar AS. Namun, kini barang Cina mulai masuk, tentu harganya lebih murah lagi.
Walaupun barang produk Indonesia begitu banyak beredar, tetapi tak tercatat di kantor perwakilan Indonesia. "Barang- barang itu dibawa inang-inang, mereka membawa satu kontainer berisi bermacam barang," kata Kepala Perwakilan Tetap RI di Madagaskar, Richard Simbolon.
Nama Pasar Mangga Dua dan Tanah Abang sangat dikenal pengusaha Madagaskar yang sering ke Indonesia. Sayang sekali data lain tentang Indonesia termasuk obyek wisata sangat minim. Salim Joonas, Konsul Jenderal RI di Mauritius, negara tetangga Madagaskar, mengeluhkan kurangnya informasi tersebut. Padahal menurut pengakuannya, setiap tahun ia mengeluarkan 250 visa wisata ke Indonesia.
"Potensi ada, tetapi supporting tak ada," katanya sambil menunjukkan TV di ruang tamunya yang memutar VCD tentang Bali tahun 1975. (ms)
Hotel = Warung
ORANG yang baru mengunjungi Madagaskar, apalagi di luar kota, pasti terkecoh dengan banyaknya hotel di negara itu. Di sepanjang jalan banyak kita jumpai papan nama hotel, yang sebenarnya hanyalah warung makan. Hanya di kota besar semacam Antananarivo, Mahajanga, hotel memanglah tempat untuk bermalam.
Menu warung makan di pinggir jalan tak ubahnya di Indonesia, tentu saja namanya berbeda. Singkong rebus dicampur kacang-kacangan ditambah daging sudah menjadi menu yang cukup enak. Jika mau tampak lebih menarik, singkong direbus dengan kulit kayu tertentu atau pewarna yang membuat singkong itu berwarna kemerahan.
Harga daging sapi jauh lebih murah dibandingkan dengan ayam.
Satu kilogram daging sapi bisa dibeli dengan 20.000 MFG setara Rp 25.000, tetapi seekor ayam potong bisa lebih dari Rp 40.000. Itulah sebabnya di pinggir jalan banyak penjual daging sapi lengkap dengan sosisnya yang bulatannya sebesar bola tenis.

Sumber: Kompas, Senin, 3 November 2003.

[+/-] Selengkapnya...

Taman-taman Nasional, Wisata Andalan AS

Amerika Serikat terkenal sebagai negara maju. Penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi terkemuka di dunia. Negara super power yang mampu mengekspor produk-produk industri. Tapi sekaligus mampu menarik para wisatawan untuk mengagumi keindahan alam yang terpelihara. Sebagai negara industri terbesar di muka bumi, yang identik dengan kerusakan lingkungan, limbah dan polusi, AS dapat mengimbangiya dengan memelihara sumber daya alam dan konservasi kawasan-kawasan lindung.
Di berbagai negara bagian AS, terdapat beberapa taman nasional. Kawasan yang dilindungi UU, namun terbuka untuk dikunjungi para wisatawan domestik atau mancanegara. Ketika berada di tengah keindahan taman-taman nasional itu, para pengunjung benar-benar dapat menikmati kedamaian dan ketenangan. Lupa sama sekali terhadap kondisi AS yang ingar-bingar dengan kota-kota metropolitan. Lupa terhadap sikap AS yang dianggap arogan. Suka menyerang negara-negara lain, seperti Afganistan dan Irak, serta bertindak seperti "polisi dunia".
Di tengah keheningan dan kebeningan langit, hutan, air, dan cuaca taman-taman nasional, AS benar-benar menampakkan diri sebagai negara yang patut dikagumi umat manusia.
Beberapa taman nasional terkenal di AS yang sempat ditelusuri, mulai dari arah barat, adalah Yosemith National Park di Arizona. Terkenal dengan lembahnya yang luas dan menawan. Para wisatawan dapat berkendaraan mengelilingi dasar lembah, yang terdiri dari lapisan batu granit, diselingi air terjun dan menara-menara karang tinggi lancip. Tidak jauh dari Taman Nasional Yosemith, terhampar Danau Mammoth yang luas dan berair jernih. Pasangan obyek wisata yang amat serasi.
Dari California melintas ke Arizona. Taman Nasional Grand Canyon merupakan tujuan utama. Kawasan yang sering dijadikan latar belakang film-film koboi tempo dulu. Hamparan batu karang mirip karpet warna-warni. Sebagian rata, sebagian merupakan tonjolan-tonjolan acak. Namun tampak harmonis. Apalagi dipandang dari South Rim, sebuah tempat perhentian khusus untuk menikmati panorama unik dan menarik hiasan batu karang Grand Canyon.
Dari Poenix, ibu kota Arizona di selatan, menuju Grand Canyon di utara, para wisatawan dapat menikmati pemandangan sepanjang jalan. Antara padang kaktus raksasa Saguaro, Istana Montezuma (pemimpin Indian Mexico yang dibantai pasukan Spanyol abad 17), lembah dahan oak di kota Sedona, dan puncaknya Grand Canyon tadi. Lembah batu karang penuh warna yang di tengahnya mengalir lembut Sungai Colorado.
Di sebelah utara Taman Nasional Grand Canyon, di negara bagian Utah, paling banyak terdapat taman nasional. Antara lain Taman Nasional Zion, yang berdekatan dengan Taman Nasional Bryce Canyon, Taman Nasional Capitol, Taman Nasional Arches, dan Danau Powell. Juga kawasan wisata lain, seperti Monumen Nasional Escalante. Kota-kota dan tempat di negara bagian ini, erat kaitannya dengan sejarah Brigham Young, pencetus ajaran agama baru, sempalan agama Nasrani. Rumah musim dingin Brigham Young terletak di lingkungan Taman Nasional Zion, dinamakan St. George.
Di Taman Nasional Capitol Reef, menjulang pegunungan Henry. Salah satu pegunungan yang dianggap suci oleh Indian Navajo dan Anasazi. Di bagian lembah pegunungan itu, terbentang Danau Powell yang sangat menarik untuk dijadikan tempat pesiar menggunakan perahu.
Sedangkan Taman Nasional Arches lebih banyak didominasi gundukan batu-batu besar. Kumpulan batu berwarna hitam dan abu-abu terbesar dan terbanyak di dunia, barangkali. Berbeda dengan Bryce Canyon yang warna batu-batunya merah atau jingga, membentuk jajaran mirip pohon, tiang, lorong, yang luas dan panjangnya tak terkira. Para koboi tempo dulu menyebut Bryce Canyon sebagai "Neraka Penelan Sapi". Sebab sapi yang tersesat ke sini, tak diharapkan dapat diketemukan lagi dalam keadaan hidup dan utuh.
Melaju terus ke utara, ke negara bagian Wyoming. Taman Nasional Yellowstone telah menunggu, sebuah lokasi yang menawarkan panorama geyser, di lembah pegunungan Grand Teton yang megah. Ke sebelah utara lagi, Montana, yang berbatasan dengan Kanada, terdapat Taman Nasional Glacier yang memiliki berbagai macam keunikan tersendiri dibanding taman-taman nasional lainnya.
Di Pensiylvania, terdapat cagar budaya kaum Amish, yaitu orang-orang Yahudi Ortodoks yang mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak berimigrasi ke AS, hingga abad milenium ini. Letaknya tidak jauh dari kota metropolitan Lancaster. Kaum Amish ini, dapat dibandingkan dengan orang Baduy di Banten, atau orang Tengger di Jawa Timur. Kehidupan dan adat istiadat mereka yang "bertentangan" dengan dunia moderen Amerika, mendapat perlindungan ketat dari pemerintah AS. Sehingga hak-hak mereka atas tanah adat dan ulayat dan kebiasaan hidup sehari-hari tak pernah terganggu.
Tentu saja kita tak dapat melewatkan air terjun Niagara, yang sebagian berada di negara bagian New York, sebagian lagi di Ontario, Kanada. Air terjun terbesar di dunia itu, merupakan tumpahan air Sungai St. Lawrence. Kawasan sekeliling air terjun, baik yang ada di New York, AS, maupun Kanada, merupakan taman nasional dan kawasan lindung yang terjaga ketat keaslian habitatnya. Tempat ini tidak pernah berubah, walaupun setiap hari disesaki ribuan pengunjung. Ini karena pengawasannya sangat ketat di samping kesadaran wisatawan cukup tinggi. Mereka tidak pernah iseng mengganggu kondisi asli Niagara, selain menikmati keindahan air terjun dan panorama di sekitarnya.
AS sebagai negara industri kelas satu, mampu melestarikan alam dan lingkungannya. Benar-benar patut dicontoh. (H.Usep Romli H.M.)


Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 4 September 2004.

[+/-] Selengkapnya...

Dari Atraksi Sulap Hingga Tajil Istimewa

”Ngabuburit” di Kota Marakesh

Oleh H.Usep Romli HM
"NGABUBURIT" alias menunggu waktu berbuka puasa, ternyata bukan hanya di Indonesia. Di Marakesh, sebuah kota tua di Kerajaan Maroko, Afrika Utara, juga sama.
Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, sore hari beramai-ramai berkumpul di pusat kota. Terutama di sebuah lapangan luas, atau alun-alun, yang berada di dekat Masjid Kutubia, masjid jami terbesar di Marakesh.
Di situ, para pejalan kaki, pedagang kaki lima, serta para penyaji berbagai atraksi, berkumpul hingga keadaan hiruk-pikuk. Suara teriakan, obrolan, nyanyian, berbaur dengan tabuhan bermacam-macam alat musik pengiring aneka ragam pertunjukan. Ada sulap, akrobat, badut, dan banyak lagi. Semuanya menarik untuk ditonton.
Para penyaji atraksi "seni rakyat" tersebut, bukan hanya penduduk asli Marakesh, atau berasal dari kota-kota lain di Maroko, seperti Rabat, atau Casablanca. Tapi juga dari luar negeri. Antara lain; Senegal, Mauritania, Nigeria, Tunisia, Aljazair. Pokoknya multietnis dan multibangsa.
Yang paling banyak mendapat perhatian adalah tukang sulap. Menggunakan tambang katun, rotan, ular kobra hidup dan peti kayu tertutup kain hitam.
Menggunakan keahlian memainkan tangan dan kepasihan, tukang sulap itu mengubah tali atau rotan menjadi ular kobra. Begitu pula sebaliknya, ular dimasukkan ke dalam peti dan keranjang, sudah berubah menjadi tali.
Sesekali pesulap meminta penonton menebak, apakah yang ada dalam peti, ular atau Tali. Baik ular asli, atau ular "kajajaden" yang semula tali, dapat melakukan tarian meliuk-liuk, mengikuti irama "terebang" yang dipadukan dengan suara terompet. Mirip seni "nagin" di India.
Sesekali pesulap, meminta penonton memasukan tangan ke dalam peti. Banyak yang menolak, karena takut yang teraba ular betulan. Ada satu dua orang yang berani mencoba. Ternyata yang terpegang seutas tambang atau rotan.
Tapi tak jarang pula memegang ular ! Sehingga orang tersebut terkejut. Melompat ke belakang, tak peduli jejeran rapat penonton lain, yang tertawa dan bersorak-sorai menyaksikan kejadian lucu itu.
Terdorong rasa penasaran, penulis pernah mencoba menanyakan, apakah atraksinya itu sulap atau sihir ? Pemain sulap asli Marakesh itu, menjawab sambil tersenyum, mungkin sulap, mungkin saja sihir. "Anda tahu, negara kami dinamakan Maghribi. Sejak dulu terkenal dengan sihirnya, sihir Maghribi,"jawabnya penuh gurau.
Maghribi adalah sebutan populer Maroko di kalangan masyarakat Arab, karena letaknya berada di ujung barat laut benua Afrika. Sedangkan Marakesh, merupakan kota ketiga terbesar di Maroko, setelah metropolitan modern Casablanca, dan ibu kota Rabat.
Berada di lereng barat daya Pegunungan Atlas, kira-kira 150 km sebelah selatan Rabat. Karena cukup jauh dari ibu kota, Marakesh kadang-kadang terlewat dari agenda perjalanan wisata singkat.
Padahal Marakesh sangat kaya oleh peninggalan sejarah, karena pada abad ke-11 pernah menjadi ibu kota Kerajaan Maghribi Dinasti Murabitun. Sebuah dinasti Arab-Berber (Afrika Utara) yang pernah melahirkan penguasa-penguasa Andalusia (Spanyol) ketika berada di bawah kekuasaan umat Islam (750-1492).
Jejak-jejak kejayaan masa lalu Murabitun, masih tampak pada pasar tradisional yang menonjolkan nuansa budaya Berber, warung-warung penjual manisan khas Pegunungan Atlas, bangunan-bangunan tempat membuat gerabah "keramik biru" yang amat dikagumi penggemar pernik-pernik hiasan rumah, gerbang-gerbang kota yang kokoh dilengkapi pintu besi, menara-menara terbuat dari batu bata merah setengah jingga.
Bangunan-bangunan kuno yang masih terpelihara utuh, di antaranya Menara Kutubia bersama masjid jaminya, gerbang tua Babul Aquino, Souqul Madina (pasar kota).
Biro-biro wisata di Rabat atau Casablanca selalu mempromosikan Marakesh sebagai pusat seni budaya Arab Berber khas Afrika Utara yang masih bertahan dari serbuan modernisasi.
Di "Souqul Madina" umpamanya, bebagai corak perhiasan logam dari emas, platina, perunggu, kuningan, dan tembaga, menjadi ikon cendera mata.
Juga wangi-wangian yang dikemas dalam wadah-wadah unik menarik, baik botol kaca maupun keramik, menebarkan aroma parfum alam yang bersumber dari bunga-bungaan, rumput atau daun-daunan dan kayu-kayuan asli Pegunungan Atlas.
Sesak padat suasana pasar tak terasa berkat semilir angin dari lubang-lubang di atas atap tinggi. Ditambah denting mandolin dan gambus, mengiringi dendang lagu-lagu padang pasir.
Jika matahari sudah terbenam, acara "ngabuburit" yang riuh rendah mendadak sepi. Alun-alun Marakesh menjadi kosong karena semua orang berbondong-bondong ke masjid Kutibia, untuk ikut menyantap hidangan future (tajil) istimewa, berupa air teh campur bubuk "kardamon" (kapol) serta buah kurma segar setengah matang.
Usai salat magrib, baru berbuka makanan pokok yaitu "couscous" sejenis keripik terbuat dari gandum, dicelupkan ke kuah gulai daging kambing atau unta yang gurih berminyak. Menu utama ini, didampingi "kebab" berbentuk keratan daging ditusuk seperti sate.
Bumbunya terbuat dari tumbukan kacang tanah , kecap kental, perasan jeruk nipis. Disediakan pula yoghurt dicampur irisan tomat dan bawang merah, jika penyantap "kebab" menginginkan rasa dan selera lain.
"Ngabuburit" di Marakesh, memang memiliki kesan tersendiri. Terutama bagi wisatawan yang cuma lewat semalam dua malam di kota kuno bersejarah itu.
Penulis, pemerhati wisata Timur Tengah)

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 20 Oktober 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Lucerne, Wajah Asli Swiss

Lucerne – ”Truely Switzerland,” begitu komentar seorang turis Australia tentang kota ini. Dan memang kota kecil ini berpenduduk 60.000 jiwa mencerminkan wajah asli Swiss. Bangunan tua serta dialek bahasa Swiss-Jerman (salah satu bahasa resmi Swiss) yang agak melodius kerap terdengar. Sementara di Zuerich, meski berbahasa Swiss-Jerman, dialeknya agak militeristik alias kaku nyaris seperti di Jerman.Lucerne memang dikenal salah satu trade mark Swiss. Kota kecil yang terletak di pinggir danau berbeda dengan Zuerich, kota terbesar di negeri ini, berpenduduk 350 ribu jiwa. Dari penduduknya Lucerne juga kalah jauh dibandingkan Basel, Jenewa atau Bern. Tapi untuk urusan pariwisata, kota kecil di Swiss Tengah ini bisa melompati kemegahan kota kota di Swiss itu. Lucerne memang dikenal sebagai salah satu tujuan tetirah di ranah Eropa. Saban ada tur ke Swiss, kunjungan ke Lucerne seperti tak pernah dilewatkan.Begitu menginjak stasiun kereta api kota ini dan menyeberang jalan menuju kawasan Altstadt (kota tua), ratusan dan mungkin juga bisa ribuan turis asal Asia seperti disemburkan dari bus-bus besar khusus pariwisata itu, menyesaki ruas-ruas jalan kota indah ini. Industri pariwisata di Lucerne bersaing ketat dengan industri jasa paling terkenal di Swiss lainnya, semacam bank atau asuransi. Setahun, Lucerne mampu menarik sedikitnya 5 juta wisatawan. ”Karena perang Irak dan juga sars, tahun ini turis yang datang tidak makin banyak,” tutur Angela Kaufmann dari kantor statistik kota ini. Dan jangan kaget, data dari biro statistik Lucerne menunjukkan, turis asal Indonesia mencapai 4.237 untuk tahun 2001 serta meningkat menjadi 5.396 untuk tahun kemarin. Memang jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan jumlah turis asal negeri makmur macam Amerika, Korea Selatan, Jepang atau Cina. Desa Nelayan Sebelum terkenal seperti sekarang ini, Lucerne hanyalah desa nelayan. Masyarakat setempat memanfaatkan Danau Lucerne sebagai salah satu sumber penghidupan, di samping menjadi petani dan peternak tentunya. Tapi sejak jalur di pegunungan Alpen di San Gotthardo dibuka yang menghubungkan Swiss Tengah dan Italia tahun 1220, kota nelayan kecil ini lambat laun berkembang seperti sekarang. Sayang, entah apa sebabnya, Danau Lucerne bukan danau yang ideal untuk memancing. Ikan-ikan di danau berwarna jernih ini tidak sebanyak ikan di danau kanton (provinsi) tetangganya, seperti Danau Zug. Ada yang menyebutkan, ganggangnya tak sebagus atau sebanyak di Danau Zug.Lucerne yang dipandang sebelah mata akhirnya tumbuh menjadi kota kecil yang menawan. Baik karena budayanya yang relatif masih Swiss, juga karena landskap kota ini yang masih kuno dan alamnya yang terpelihara amat rapi. Di beberapa kota satelitnya seperti Meggen, Kriens, Emmen, Kuessnach, Littau hingga Ebikon, kerap ditemukan masyarakat Swiss yang memelihara ayam atau kelinci. Tak jarang, saban akhir pekan terdapat pameran kelinci dan ayam yang jumlahnya sekitar 50 ekor saja. Namanya juga hobi, kendati hanya belasan ekor jumlahnya, tetap saja orang sini nekad memamerkannya. Memelihara ayam dan kelinci memang sebuah hobi yang sangat tipikal Swiss, seperti mengelus-elus keelokan perkutut bagi masyarakat Jawa.Jejak Mark TwainAda beragam panorama sekaligus kegiatan yang membuat Lucerne menarik bagi turis. Antara lain jembatan kayu kuno Lucerne, bangunan bangunan atau gedung-gedung masa lalu, puluhan museum, Danau Lucerne serta dua pucuk Pegunungan Alpen yang memiliki panorama sangat indah, yakni Gunung Rigi dan Pilatus. Mark Twain, penulis mashyur asal Amerika sampai perlu menulis buku kecil tentang kedahsyatan keindahan dua gunung ini. Jalan-jalan di ruas kota Lucerne cukup menyenangkan, apalagi jika menginjak musim panas. Kotanya bersih seperti umumnya kota-kota di Swiss. Transportasi sangat bagus dan rapi. Tapi paling menawan sekaligus nyaman jika berkeliling Lucerne dengan jalan kaki saja. Mobil atau kendaraan bermotor akan berhenti setiap ada orang yang akan menyeberang jalan di jalur zebra cross. Lalu lintas Lucerne memang dikenal sebagai lalu lintas yang sangat menghormati pejalan kaki atau pesepeda. Beberapa jalanan yang dipenuhi bangunan kuno gaya arsitek era Renaisance juga memiliki jalan yang khusus hanya untuk pejalan kaki. Sepeda pun, di kawasan semacam ini, dilarang masuk. So, jalan kaki sambil menjelajah kota ini dengan bayang-bayang bangunan kuno atau sekadar duduk di taman bermandi matahari sambil memberi makan angsa atau itik di pinggir danau, menjadi sebuah kegiatan yang begitu mahal untuk bisa dilakukan di Jakarta, misalnya. Jangan pernah melewatkan untuk menjelajah Kapellbruecke, sebuah jembatan kayu dengan sebuah menara air yang begitu terkenal di kota ini. Dibangun tahun 1333, Kapellbruecke menjadi land mark kota ini. Hampir setiap kartu pos kota Lucerne sering menyertakan gambar Kapellbruecke dengan menara air beratap oktagonal itu. Kapellbruecke ini pernah separuh hangus dilalap api, termasuk lukisan kuno yang menggantung di atapnya pada tahun 1993. Namun diperbaiki lagi dan sekarang berfungsi seperti sedia kala. Saban hari, ratusan turis dan masyarakat kota ini melewati jembatan kuno ini. Sayang, di beberapa tiang dan dinding jembatan kuno ini, terlihat vandalisme melalui coretan tangan dengan spidol atau ball point. Rata-rata sih ini ulah wisatawan karena terlihat seperti ingin menancapkan sebuah kenangan di kota ini.MuseumJika tertarik dengan benda kuno atau lukisan, Lucerne juga menyediakan tempatnya. Puluhan museum berada di kota ini. Namun yang paling menarik adalah Museum Transportasi dan Museum Pablo Picasso, pelukis aliran kubisme asal Italia. Museum Transportasi paling sesak dijubeli turis karena memang koleksinya paling lengkap dan besar. Namanya juga Museum Transportasi, isinya ya kendaraan, terutama kereta api di Swiss. Sementara Museum Pablo Picasso menyerap turis yang ingin menyaksikan lukisan serta foto-foto sang maestro semasa hidup. Selain tempatnya yang berada di jantung kota, museum ini juga terawat dengan sempurna.Bosan dengan museum atau suasana kota Lucerne, silahkan menikmati panorama Danau Lucerne. Banyak jadwal kapal yang akan mengangkut Anda untuk menikmati Danau Lucerne. Tinggal datang saja ke dermaga utama yang berada di dekat stasiun kereta api Lucerne ini, sejarak selemparan batu, dermaga itu sudah terlihat.Sementara bagi yang ingin menikmati keindahan Lucerne dari tempat yang agak luas, bisa memilih tur atau jalan sendiri ke Gunung Pilatus atau Gunung Rigi. Dua gunung ini sangat terkenal di Lucerne. Bahkan ada idiom jangan mengatakan pernah ke Lucerne jika belum pernah mencapai kedua puncak gunung itu.Namanya memang puncak gunung, tapi masyarakat Swiss sangat pintar untuk membuat sebuah tempat terpencil menjadi sangat gampang dijangkau. Maklum, ada kereta kabel gantung yang siap membawa turis ke kedua puncak gunung ini. Memang ada juga kereta biasa menuju ke kedua puncak itu, namun kereta ini akan tutup selama musim salju. Sementara kereta kabel gantung beroperasi sepanjang musim. Penulis Amerika Mark Twain yang pernah singgah di puncak kedua gunung ini, konon bisa sampai ke puncak dengan cara dipanggul di punggung orang lain. Maklum saja, zaman itu memang siapa saja yang ingin ke puncak Rigi atau Pilatus mesti jalan kaki, kecuali Mark Twain.

Sumber: Sinar Harapan 2003.









[+/-] Selengkapnya...

(Wisata Kota Weimar) Asal Muasal Republik Jerman

WEIMAR – Di kota tua nan cantik inilah Republik Jerman yang pertama berdiri, setelah kejatuhan sistem monarki (kerajaan). Tak aneh bila nama kota ini diabadikan sebagai Republik Weimar, tempat konstitusi Jerman dirancang dan disetujui pada tahun 1919. Kota tua ini terletak tak jauh dari Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thuringen. Kota di bekas wilayah Republik Demokrat Jerman (Jerman Timur) ini menjadi tempat kelahiran filsuf dan budayawan Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).
www.htwk-leipzig.deRumah penyair terkemuka Jerman Goethe dijadikan museum di kota Weimar, Jerman.
Memang dalam kurun waktu itu, sekitar 1800-an, Weimar menjadi pusat kehidupan intelektual Jerman, bahkan Eropa. Di kota ini pula Goethe menorehkan karya emasnya, termasuk karya termasyhurnya versi final ”Faust”.Weimar juga menjadi rumah bagi filsuf Friederich von Schiller (1787-1789 serta 1799-1805). Di sini Schiller menulis berbagai karya, di antaranya ”William Tell”.Kini Rumah Goethe (Goethe Wohnhaus) dan Kebun Goethe (Goethe Gartenhaus) menjadi salah satu museum yang menarik. Bangunan bergaya barok itu menjadi salah satu tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan, di samping Museum Nasional Goethe. Demikian pula dengan Rumah Schiller (Schiller Wohnhaus) yang terletak tak jauh dari sana. Sebagai kota kecil yang asri, jantung kota Weimar penuh dengan bangunan-bangunan tua yang tertata apik. Arsitektur gaya Rococco dan Barok kian mempercantik kota ini.

Di tengah kota ini pula, Anda dapat menikmati keindahan taman serta kafe-kafe dengan bangku-bangku di pinggir jalan yang menebarkan aroma kopi sedap menggoda. Maklum di sana tidak ada polusi dan wilayah ini menjadi tempat pejalan kaki (pedestrian) sehingga tak ada kendaraan berlalu-lalang. Belanja tentu tak masalah. Weimar terkenal dengan keindahan porselennya. Terutama di Schillerstrasse Anda bisa mendapati porselen-porselen cantik ini. Sebagai kota kelahiran para intelektual, beberapa toko buku terdapat di pusat kota ini. Tidak ketinggalan berbagai toko cenderamata yang menjual berbagai pernik menarik bernuansa Goethe maupun Schiller. Salah satu cenderamata khas kota Weimar adalah tanaman Ginko Billoba. Mulai dari bijinya sampai berbagai souvenir daun berbentuk mirip jantung hati itu dijual di sana. Tanaman ini dipercaya sebagai pemberi pengharapan, di samping diyakini menguatkan ingatan dan daya konsentrasi. Weimar juga memiliki Theater Nasional Jerman yang memainkan karya-karya Goethe, dan Johann Sebastian Bach. Anda yang menyukai musik klasik tentu dapat memanjakan telinga dengan karya-karya komponis besar dunia. Satu lagi jangan lewatkan Istana Musim Panas Schloss Belvedere. Dengan gaya Rococco, keelokan bangunan istana ini dapat dinikmati sepanjang musim panas. Biasanya orang tak akan melewatkan bekas Kamp Konsentrasi Buchenwald yang jauhnya kira-kira hanya 30 menit dari pusat kota Weimar. Kendati demikian, tentu Anda harus cukup kuat mental untuk menanggung perasaan mencekam bekas kamp konsentrasi itu.
Sumber: Sinar Harapan

[+/-] Selengkapnya...

Bentang Ladang di Poros Brussels-Paris (Perjalanan di Eropa)

Putu Fajar Arcana
Kami tiba di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda, pada Kamis (16/11) kira-kira pukul 07.00. Cuaca di musim dingin membuat pagi seperti terlambat. Selama pesawat menuju terminal kedatangan, dari jendela terlihat lampu-lampu kendaraan di jalanan. Amsterdam tengah memulai kesibukan lagi meski gelap belum sepenuhnya berlalu. Pada pertengahan November, daratan Eropa (Belanda, Belgia, Luksemburg, Jerman, dan Perancis—negara-negara yang akan saya kunjungi) tengah memasuki musim dingin.
Rombongan dari Sanggar Bajra Sandhi dan delegasi Bali Tourism Board, ditemani Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Hubungan Antarlembaga Firmansyah Rahim serta Deputi Bidang Koordinasi Agama, Budaya, dan Pariwisata Menko Kesra Risman Musa, memilih Kota Brussels, Belgia, sebagai home base selama berada di Eropa. Brussels tak hanya terletak di jantung Eropa, tetapi juga menjadi ibu kota berbagai institusi penting, seperti Komisi Eropa dan Parlemen Eropa serta NATO.
Sepagi itu, menurut ukuran kami, Bandara Schipol sibuk bukan main. Tak sampai selang lima menit, pesawat dari berbagai belahan dunia mendarat atau lepas landas dari sini. Ketika kami keluar dari terminal kedatangan dan menuju area parkir, transportasi umum seperti bus juga bergerak tak henti. Bus yang akan membawa rombongan dari Schipol menuju Brussels dikendarai seorang berdarah Belgia, yang kami kenal bernama Bruno.
Persoalan "kecil" menghadang ketika rombongan Bajra Sandhi akan mengeluarkan seluruh peralatan pentas, seperti gamelan, pakaian, serta instrumen pentas lain yang beratnya mencapai puluhan ton. Petugas-petugas pabean di Schipol memang seramnya bukan main. Jelas mereka tak bisa diajak kompromi. Beruntung dalam rombongan turut serta Al Purwa yang menjadi konsul kehormatan untuk Kerajaan Belanda dan Belgia di Bali. Dengan bahasa Belanda yang fasih, ia menceritakan bahwa seluruh peralatan itu untuk kepentingan pentas dalam rangka menjalin persahabatan Belanda dan Indonesia (Bali).
Diplomasi itu terbukti cukup ampuh. Mungkin karena orang Belanda menyimpan rasa malu terhadap "perilaku" leluhur mereka terhadap Indonesia di masa lalu. Namun, itu cuma dugaan saya.
Menuju Belgia
Kira-kira dalam waktu satu jam, kami sudah melaju di jalan bebas hambatan (dan ini perlu diketahui tak ada jalan tol yang bayar di Eropa) menuju Brussels. Perjalanan ke Brussels ditempuh dalam waktu tak kurang dari tiga jam. Terhamparlah lanskap khas negeri subtropik.
Yanti, salah seorang pemandu kami yang anak seorang diplomat di Belgia, menginformasikan bahwa tahun ini musim dingin sedikit terlambat. Maka, di sepanjang sisi jalan pohon-pohon belum sepenuhnya menggugurkan daunnya. Masih tampak pucuk-pucuk berwarna coklat tua, semak belukar kekuningan, daun-daun yang memerah, serta hamparan rerumputan yang hijau. Sepintas tadi di Schipol, saya melirik penunjuk suhu menunjukkan angka 10 derajat Celsius. Cukup dingin untuk ukuran orang-orang dari daerah tropis.
Sebelum Al Purwa menyambar mikrofon di dalam bus, saya segera menandai bahwa sungguh mengagumkan, sepanjang highway ini ladang-ladang begitu luas menghijau. Dalam dingin cuaca dari kejauhan, saya melihat gerombolan sapi dan domba dibiarkan "liar" di atas padang rumput yang hijau.
"Pemerintah-pemerintah di Eropa, termasuk Belanda, sangat melindungi tanah-tanah pertanian. Dilarang keras mengubah lahan pertanian menjadi perumahan," cerita Al Purwa. Ia menambahkan, petani di Eropa rata-rata memiliki lebih dari satu hektar tanah pertanian. "Dan yang menonjol, mereka membangun green house, maka pohon tropis pun bisa ditanam di sini," katanya.
Dalam jarak ratusan kilometer yang ditempuh kira-kira dalam tiga jam perjalanan, kami hanya menemui bentangan ladang yang hijau. Pemandangan itu tak hanya di dataran-dataran negeri Kincir Angin, tetapi berlanjut sampai ke Belgia. Sejak Uni Eropa terbentuk, hampir tak ada tanda di perbatasan setiap negara. "Kalau jalanannya sudah kasar, itu tandanya kita sudah di Belgia," kata Bruno. Kami kira tadinya ini pernyataan yang sinis. Ternyata, bus yang kami tumpangi memang lebih bergetar ketika melintas di permukaan jalan di negara Belgia ketimbang di Belanda.
Kehijauan yang luas
Kami menginap di Tulip Innm beralamat di Avenue du Boulevard 17, B-1210 Brussels, 16-27 November 2006. Dari Brussels seluruh perjalanan darat dimulai. Ketika bus bergerak menuju kota Garnich, Luksemburg, pada Jumat (17/11), diteruskan Sabtu menuju Sluiskil, Belanda, kemudian melaju ke Koln, Jerman pada Senin (20/11), dan terakhir ke Paris, Perancis, Selasa (21/11), pemandangan serupa menghampar di depan mata. Kehijauan seperti tak habis-habisnya.
Poros Brussels-Paris yang ditempuh dalam waktu tak kurang dari empat jam memperlihatkan pesona Eropa sejati. Diam-diam saya membayangkan Tanah Air yang (konon) penuh hamparan sawah hijau, dan karena itu masih dicap mengusung kultur agraris. Jangan salah, sawah hijau itu sebagian besar sudah bukan milik petani. Umumnya sawah di negara kita sudah menjadi milik para tuan tanah, yang kapan pun bisa mengalahfungsikan lahan pertanian menjadi perumahan. Tak jarang plang jalur hijau rontok diserobot nafsu membangun kota, yang konon juga demi mengejar pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, Eropa yang selama ini diberi label sebagai agen tumbuh dan berkembangnya kapitalisme "menyisakan" ladang-ladang yang mahaluas. Ladang-ladang itulah yang menjadi lumbung makanan selama ini. Maka, sungguh jarang kita dengar mereka kekurangan pangan. Sebaliknya, di negara kita, meski kaya sawah, di berbagai pelosok sering kali (dan ini berulang) terjadi kekurangan pangan. Bahkan, sering pula kita dengar banyak bayi yang kekurangan gizi….
Bukan hendak memuja Eropa, "Tetapi, kita mesti introspeksilah. Ini kan bukan negeri agraris, mengapa ladang mereka begitu luas?" begitu Firmansyah Rahim retorik dalam perjalanan Brussels-Sluiskil. Tentu dia juga kagum pada peradaban bangsa Eropa yang barangkali berabad- abad lebih maju dari kita. Bahkan, saya kira sangat muskil untuk disamai dalam waktu 10-20 tahun ke depan.
Perjalanan ini memang bukan hanya "pengembaraan" kesenian oleh Bajra Sandhi ke berbagai kota, melainkan juga perjalanan menyusuri peradaban. Sebuah peradaban yang benar-benar mengerti makna "adab" sebagai muara dari kehalusan, kebaikan budi pekerti, serta yang terpenting adalah tingkat kecerdasan yang tinggi.
Di hamparan padang rumput yang mahaluas itulah Eropa memperlihatkan keadabannya. Tidak saja pada peninggalan masa lalu berupa gedung bergaya gotik atau neoklasik, seperti terlihat di Paris, Koln, Garnich, dan Brussels. Tidak salah jika di sini kami merasa begitu "primitif". Cuma satu hal yang bisa kita banggakan bahwa kita lebih santai dan lebih murah senyum ketimbang orang-orang Eropa yang selalu tampak serius dan marah….
Sumber: Kompas, Jumat, 15 Desember 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Dua Havana

Joseph Osdar
Ini cerita perjalanan kedua sebuah rombongan wartawan Indonesia ke Havana, Kuba. Yang pertama berlangsung pada musim semi, April 2000 selama empat hari. Yang kedua selama tiga hari pada musim panas, September 2006.
Bandar udara internasional Havana, Jose Marti, seperti kotak panjang berwarna biru tua. Jose Marti adalah pahlawan nasional Kuba. Ia politisi, wartawan, dan penulis puisi. Lahir di Havana tahun 1853 dan meninggal dalam pertempuran dengan tentara Spanyol tahun 1895, ucapannya yang terkenal, "Perjuangan kemerdekaan bukanlah dengan fisik, tetapi pembangunan budaya yang cerdas."
Dalam perjalanan kedua, September 2006, yang panas, pintu kedatangan di Bandara Jose Marti dijaga lima perempuan muda berseragam biru-biru. Ada yang berkulit hitam legam, merah, putih, dan kuning. Mereka adalah bagian dari warna-warni 11,3 juta orang penduduk Kuba. Mereka menggunakan bahasa Spanyol. Ramah dan tidak terlalu ketat memeriksa pendatang.
Masalah ras di Kuba tidak menonjol. Di tepi-tepi jalan raya bisa disaksikan orang kulit hitam berpelukan dan berciuman dengan kulit putih. Ini pemandangan sangat langka di Amerika Serikat atau Eropa Barat.
Dalam perjalanan dari bandara ke pusat Kota Havana, sesekali ada orang yang berdiri di tepi jalan melambaikan tangan untuk menumpang. Setiap kendaraan di sini adalah kendaraan umum, siapa saja boleh naik. Ini bagian dari hal biasa di negeri ini sejak Fidel Castro mengumandangkan komunisme pada 1961. Hanya artis dan olahragawan saja yang diperkenankan pemerintah memiliki kendaraan pribadi. Maka, banyak orang Kuba yang berusaha menjadi penyanyi, penari, atau pekerja seni lainnya.


Dua Havana
Havana terdiri dari Havana Baru dan Havana Tua (Old Havana atau Habana la Vieja). Havana tua dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1978.
Dalam perjalanan kedua ketika menginap di hotel di Havana Baru, tidak dijumpai lagi orang-orang dengan seragam karyawan hotel yang tiba-tiba mengetuk pintu dan minta satu dollar.
Tahun 2000 hotel-hotel besar di Havana belum semua punya restoran atau tempat makan mutakhir. Untuk makan di luar kamar, para tamu hotel makan di bangsal makan bersama seperti dalam asrama sekolah atau akademi militer.
Di ruang itu ada sejumlah meja panjang dengan deretan kursi. Di situ para tamu makan berjajar-jajar. Untuk mendapatkan jus jambu kelutuk merah harus antre panjang. Jus jambu itu dibuat secara sangat manual oleh karyawan/karyawati hotel. Pada tahun 2006, yang seperti itu tidak lagi ada di hotel-hotel berbintang empat atau lima.
Di Havana Tua, tampak deretan rumah susun penduduk dan bersisian dengan gedung-gedung tua yang dibangun pada masa penjajahan Spanyol. Hampir semua kantor pejabat pemerintah ada di kawasan ini.
Setiap hari di kawasan ini berseliweran wisatawan asing dari seluruh dunia. Jumlah turis yang masuk ke Kuba tahun 2005 sekitar 2,3 juta orang (hampir sama dengan penduduk Havana). Tahun 2001 wisatawan asing yang datang sekitar 1,77 juta orang.
Bisnis wisatawan asing ini menyumbang sekitar 41 persen pendapatan negara. Pemasukan ke negara di bidang wisata ini telah mengesampingkan pendapatan dari ekspor gula, tembakau, dan cerutu.
Di Havana Baru dan Havana Tua ada yang tetap sama. Puluhan taman dan hutan kota dengan pepohonan yang rimbun (banyak yang sudah hidup puluhan tahun) tidak diganggu pemerintah.
Seorang teman yang sedang menikmati pemandangan taman-taman dan hutan-hutan dari jendela kamar hotelnya tiba-tiba berteriak, "Hai-hai-hai, lihat di sana banyak pasangan muda-muda yang sedang bercinta."
Jalan-jalan raya di Havana baru dan lama jarang terjadi kemacaetan lalu lintas. Tidak pula pernah terdengar suara sirine mobil pengawal para pejabat negara. Bahkan, Castro pun jarang sekali keluar dari tempat tinggal atau istananya dengan pengawalan seperti itu. Di Havana jarang diketemukan gambar Fidel Castro di tempat umum. Katanya, ia tidak mau dikultusindividukan seperti pemimpin di Pyongyang, Korea Utara.
Di salah satu bagian dari pantai di Havana menempel jalan raya dan tembok beton. Tembok beton itu bisa untuk jalan kaki atau berlari-lari. Dari pantai itu bisa dilihat benteng kuno dari masa penjajahan Spanyol, Castillo Del Morro de La Habana.
Dekat benteng itu ada rumah makan sederhana. Di situ ada kelompok musik dan penyanyi Havana Soul. Mereka menyanyi dan menari tanpa pengeras suara. Kelompok musik seperti itu sangat banyak di Kuba. Mereka bukan hanya mengamen, tetapi juga jual VCD atau kaset hasil rekaman mereka.
Ketika beberapa wartawan Indonesia olahraga lari pagi, meledaklah tawa mereka. Di tepi jalan pantai itu berserakan kondom-kodom bekas yang tampak belum lama dipakai.
Tidak jauh dari tempat itu ada panggung yang menghadap ke pantai Florida di Amerika Serikat. Pada saat-saat tertentu, di tempat itu orang-orang pemerintah berpidato mencaci maki pemimpin Amerika Serikat. Ini juga acara rutin nasional.
Pabrik cerutu
Di antara deretan gedung-gedung kuno bersejarah di Havana Tua, selain ada puluhan kafetaria yang aromanya pesing sekali, juga ada gedung pabrik cerutu berwarna merah tua, Patagas Real Fabrica. Di seluruh Kuba ada sekitar 40 pabrik cerutu. Cerutu kini bukan sekadar ikon Kuba, tetapi sebagai salah satu daya tarik wisatawan.
Patagas Real Fabrica, berdiri tahun 1845, atau 161 tahun lalu. Pabrik ini sekarang punya 700 pekerja yang setiap hari bekerja dari pagi hingga petang.
Ketika wartawan Indonesia masuk ke salah satu lantai gedung cerutu itu, tiba-tiba sebagian besar pekerja itu tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata mereka bekerja sambil mendengarkan pembacaan buku Da Vinci Code karangan Dan Brown. Mereka tertawa karena ada adegan lucu dari buku itu.
Tiap hari dengan pengeras suara yang ada di setiap lantai gedung bertingkat empat itu, diperdengarkan suara seorang pekerja yang bertugas membacakan buku. Ini adalah acara rutin. Buku yang dibacakan berganti-ganti.
Siang hari mereka dibacakan novel, pagi hari dibacakan koran terbitan hari itu, dan setelah jam istirahat atau menjelang pulang pada sore hari diperdengarkan musik (segala macam jenis musik). Ketika itu yang bertugas membaca seorang pegawai yang telah 17 tahun punya tugas membaca untuk para karyawan di situ.
"Ini mengagumkan. Ini realisasi ucapan Jose Marti tentang membangun manusia Kuba. Kuba bisa menang menghadapi Amerika bukan karena perang fisik, tetapi karena budaya cerdas yang yang terbangun," ujar Nenden Novianti Fathiastuti, wartawati Indonesia asal Bandung.
Selain ke pabrik cerutu, rombongan wartawan juga masuk ke kafetaria di pusat penjualan suvenir. Di kafetaria di Havana Tua itu, Santi, penyiar radio di Jakarta, didekati pemuda keturunan Afrika. Ia memandang lama Santi yang mengenakan jilbab.
Pemuda itu langsung berkata dengan suara yang tertangkap telinga Indonesia seperti ini, "You are Java? Very good. American bomed your country in Hiroshima and Nagasaki, ha? F... American...You are Osama bin Laden, ha? Very, very, good,..." Kata java itu ternyata maksudnya Japan atau Jepang.
Nenden dan Santi bingung menyaksikan Havana. "Di pabrik cerutu saya merasakan ada perjuangan hidup. Di luar itu adalah pesta, menari, menyanyi," ujar Nenden. Santi berkata lain lagi, "Kalau bicara politik orang muda Kuba lantang mengutuk Amerika, tetapi kalau berbusana berkiblat ke Amerika."
Di setiap sudut jalan Havana baru dan lama, orang menyanyi dan menari. Hidup di sana seperti dalam pesta. Pengarang novel dan pemenang Nobel kesusasteraan asal AS, Ernest Hemingway, yang pernah tinggal di Havana 22 tahun (1939-1961), pernah mengatakan, Havana adalah tempat tinggalnya yang sejati. "Havana adalah salah satu kota terindah di dunia, lebih indah dari Venesia atau Paris," ujarnya yang dimuat dalam buku wisata La Cultura Cubana.
Sumber: Kompas, Minggu, 17 Desember 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Intramuros di Metroplitan Manila, Kota Tertua Penuh Sejarah


GERIMIS mengguyur Intramuros, ketika taksi yang membawa saya dari Quezon City berhenti di depan Gedung Biro Imigrasi Filipina, beberapa waktu lalu. Udara dingin menyergap dan angin menyapukan butiran air yang lembut ke wajah.
Kesejukan merupakan hadiah tahunan bagi penduduk di kawasan Metropolitan Manila. Lamanya hanya satu setengah bulan saja dalam satu tahun. Dimulai pada pertengahan Desember atau awal Januari. Berakhir pada pertengahan Februari atau awal Maret. Setelah itu Metro Manila akan kembali hangat. Suhunya bisa mencapai 40 derajat Celcius antara April sampai Desember.
Bukan perjalanan yang menyenangkan untuk bisa mencapai Intramuros. Dari Quezon City, lama perjalanan bisa mencapai dua jam karena lalu lintas macet di mana-mana. Sering saya lupa, kalau saya berada di Metropolitan Manila, tempat para pengemudi kendaraan terburuk di dunia.
Saya berdiri di tepi jalan Intramuros. Menikmati udara dingin dan air gerimis yang jatuh di wajah. Di hadapan sebuah patung patron saint bernama Felipe di perempatan Fabildo Street dan A. Soriano Avenue, untuk memulai jalan-jalan di hari kerja.
Menyeberang jalan, saya jambangi restoran Max's di A. Soriano Avenue, untuk sarapan dengan ayam goreng, chop suey, nasi, dan segelas lemon tea.
Sambil makan di tempat itu, pikiran menerawang, membayangkan Intramuros di masa lalu. Intramuros adalah salah satu kota tertua di Filipina. Kini, tempat itu hanya menjadi sebuah distrik saja di wilayah Manila City.
Berasal dari bahasa Spanyol "intra muros", yang berarti "di dalam benteng". Kota itu berdiri pada abad 14 dan kini Intramuros penuh sesak oleh sejarah.
Ada kisah tentang gemuruh teriak kemenangan di sini. Ada juga yang meratapi kekalahan. Ada pembunuhan seorang pejuang. Ada pembantaian keji dalam jatuh bangunnya kota ini.
Tembok benteng kota, yang dibangun Spanyol sebagai pagar pertahanan, masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kini benteng itu menjadi pemisah distrik Intramuros dari distrik lainnya di Manila City.
Bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun masih berdiri kukuh di situ. Nyaris seluruhnya dibangun oleh Spanyol sejak abad 15. Gedung-gedung itu, sekarang digunakan oleh pemerintah menjadi kantor biro atau departemen. Sebagian lagi dimiliki privat, dijadikan toko, hotel, restoran, rumah gadai, dan bank.
Berbeda dengan bagian lain di Metropolitan Manila yang terasa profan, di Intramuros suasananya lebih religius dan menggoda imajinasi untuk menerawang ke masa lalu, ketika terjadi berbagai penaklukan antarbangsa.
Ketika Intramuros ramai oleh tabuhan genderang perang, denting suara pedang, desingan peluru, dan dentuman meriam. Ketika aroma darah dan mesiu berpadu menjadi satu. Ketika fondasi kota ini dibangun dan bangunan-banguan tinggi mulai berdiri. Ketika hari demi hari kota ini menciptakan sejarah dan romantisme bagi penduduk dan pengunjungnya.
**
Gerimis berhenti, tapi angin mulai berhembus kencang saat saya memasuki benteng itu. Fort Santiago. Benteng pertahanan terakhir penduduk asli beragama Islam di Manila, dari serbuan bangsa Spanyol.
Benteng itu, sekarang menjadi jantung kegiatan wisata di Intramuros dan halamannya dihiasi taman penuh bunga. Lima ratus tahun ke belakang sampai pertengahan 1945, bau darah dan mesiu menyengat kawasan ini.
Fort Santiago awalnya terbuat dari kayu dan tanah, dibangun pada pertengahan 1500. Benteng itu dibangun saat masa kepemimpinan Rajah Sulayman, pemimpin masyarakat Melayu muslim di sekitar kawasan yang bernama Maynilad, yang artinya tempat di mana tanaman air berbunga seperti bintang tumbuh. Kata Maynilad kemudian berubah menjadi Manila.
Tahun 1570, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Martmn de Goiti, Juan de Salcedo, dan Miguel Lspez de Legazpi, datang ke Manila dan menyerang masyarakat muslim. Tahun 1571 pasukan Spanyol menang perang dan menjadikan Manila sebagai pusat pemerintahan kolonialnya. Spanyol terus melakukan pendudukan hingga menguasai nyaris seluruh wilayah Filipina sekarang.
Tidak hanya aneksasi wilayah yang terjadi, tapi juga aneksasi terhadap budaya dan kebiasaan. Spanyol berhasil membuat penduduk asli yang muslim beralih menjadi Katolik.
Hanya wilayah kepulauan bagian selatan yang terus bergolak dengan pemberontakan. Pergolakan di wilayah selatan bahkan terus berlangsung hingga saat ini.
Sebagian memberontak dan terus mempertahankan identitasnya sebagai muslim, sebagian lagi memberontak karena ingin mendirikan negara komunis.
Karena pergolakan yang terjadi sampai sekarang itu pula, orang muslim selalu dicurigai di sebagian wilayah Filipina, terutama di Manila. Jika ada orang Filipina yang memiliki nama muslim seperti Abdullah atau Ahmad, kecil kemungkinan dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di perkantoran.
Itu sebabnya pula, menurut seorang pengajar di Ateneo de Manila University, banyak orang Islam Filipina yang mengubah namanya menjadi berbau barat seperti Daniel, Michael, atau Jack, hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
Ada pula yang salah paham dan malu dengan identitasnya sebagai muslim. Masih kata pengajar tadi, ada orang yang ditanya, apakah dia beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Ibumu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Bapakmu beragama Islam? Dia menjawab, "Ya." Jadi kamu Muslim? Dia menjawab, "Bukan, saya orang Filipina."
**
Setelah menang perang, penguasa kolonial Spanyol memberi nama tanah jajahan barunya itu sebagai Philippine, diambil dari nama dan dipersembahkan untuk Raja Philip II, lelaki yang menjadi penguasa Kerajaan Spanyol saat itu.
Benteng bekas pertahanan Rajah Sulayman dibangun kembali. Kali ini dibangun dari batu. Mulai dibuat pada 1589 hingga 1592. Benteng itu diberi nama Santiago. Tapi hancur lagi pada 1645, oleh gempa bumi. Penguasa kolonial Spanyol memperbaiki kembali pada 1658 dan memperkuat struktur benteng pada 1663.
Hampir seratus tahun kemudian, pasukan Inggris datang menyerang, membabat habis angkatan laut Kerajaan Spanyol. Mereka merebut Filipina dari Spanyol pada 1762.
Fort Santiago dijadikannya sebagai pusat komando. Dua tahun kemudian, Filipina dikembalikan lagi kepada Spanyol. Pada 12 Juni 1898, bangsa Filipina menyatakan kemerdekaannya dari Spanyol, setelah penguasa kolonial itu kalah perang dari Amerika Serikat.
Tapi mereka tidak tahu, di tahun yang sama Spanyol menandatangani perjanjian damai dengan Amerika di Paris, Perancis.
Berdasarkan kesepakatan yang tercantum di Paris Treaty, Spanyol setuju untuk menjual seluruh kepulauan Filipina, beserta Guam dan Puerto Rico kepada Amerika, hanya seharga 20 juta dolar saja. Perjanjian itu ditandatangani pada 10 Desember 1898.
Lalu pasukan kolonial Amerika datang untuk menduduki kepulauan yang telah dibelinya. Bangsa Filipina, yang baru menikmati kemerdekaan selama tujuh bulan, kembali takluk di bawah kaki kolonial. Fort Santiago dan seluruh wilayah Intramuros, dijadikan sebagai pusat komando pasukan Amerika di Filipina.
Beberapa dekade kemudian, pasukan Kekaisaran Jepang menghancurleburkan pertahanan Amerika di Filipina dan merebut kepulauan itu pada 1942. Fort Santiago kembali berpindah tangan. Kali ini dari penguasa berkulit putih ke penguasa berkulit kuning. Bangsa taklukan berkulit cokelat tak bisa berbuat banyak dan kekejaman terhadap mereka tak juga berhenti.
Hanya tiga tahun Jepang menduduki Filipina. Tapi, seperti yang juga dialami oleh bangsa Asia lainnya, penderitaan selama tiga tahun itu sungguh tak terperi. Penyiksaan dan pembunuhan nyaris terjadi setiap hari di kamar-kamar bawah tanah di Fort Santiago.
Di akhir masa pendudukannya di Filipina, sekitar bulan Februari 1945, pasukan Jepang menangkap dan memenjarakan tak kurang dari 600 orang Filipina dan Amerika di Fort Santiago.
Ketika Fort Santiago kembali direbut pasukan Amerika, 600 orang itu telah tewas terbantai. Mayat mereka ditemukan di ruang-ruang bawah tanah sebuah gedung, di dalam lingkungan Fort Santiago. Nama gedung itu Baluarte de Santa Barbara.
Fort Santiago dan Intramuros, tak mungkin dilupakan oleh orang Filipina. Karena di tempat itulah seorang lelaki yang dianggap sebagai pembebas bangsa Filipina dipenjarakan dan akhirnya dihukum mati.
Dia adalah Josi Protacio Rizal Mercado y Alonso Realonda (19 Juni 1861-30 Desember 1896), atau yang lebih dikenal sebagai Dr. Jose Rizal, intelektual dan pentolan kelompok rahasia penganjur kemerdekaan, "Katipunan."
Jose Rizal lulusan dari Ateneo Municipal de Manila (sekarang berubah menjadi Ateneo de Manila University), sebuah perguruan tinggi yang dijalankan dan dibiayai oleh kelompok Jesuit.
Sejak masih duduk di bangku kuliah, Jose Rizal selalu gelisah melihat ketidakadilan pemerintah kolonial Spanyol. Dia mengembara ke Eropa, menguasai 10 bahasa asing, meraih gelar doktor di University of Paris dan University of Heidelberg, mengabdi sebagai dokter di Kuba, lalu kembali ke Filipina, untuk memberi pencerahan kepada masyarakatnya.
Dia rajin menulis artikel dan novel, juga membuat patung. Dua novelnya yang terkenal adalah "Noli me Tangere" dan "El Filibusterismo".
Semuanya ditulis dengan nama samaran. Isinya: kritikan pedas terhadap korupsi, yang dilakukan pejabat kolonial dan petinggi gereja Katolik di Filipina. Patung karyanya yang sampai sekarang masih ada berjudul "The Victory of Science Over Death."
Pada 3 November 1896, Jose Rizal ditangkap dan dipenjarakan di Fort Santiago. Gedung tempat Rizal ditahan, kini diberi nama "The Shrine of Rizal."
Pagi hari tanggal 29 Desember 1896, Jose Rizal dihadapkan ke pengadilan kolonial. Tuduhan yang diajukan kepadanya, adalah pemberontakan, penghasutan, dan membentuk perkumpulan terlarang. Hakim menyatakannya bersalah dan menjatuhinya hukuman mati.
Jose Rizal kemudian dibawa ke sebuah kapel di gedung penjara Fort Santiago. Dia ditahan di kapel itu sampai esok harinya. Pagi hari, 30 Desember 1896, Rizal dibawa keluar dari ruang penahanannya. Dia digiring oleh sepasukan tentara Spanyol, keluar dari Fort Santiago menuju Luneta, Bagubayan Field, Manila. Tepat jam 7.03 pagi, Rizal ditembak mati oleh pasukan eksekutor. Di hadapan masyarakat yang berbondong menontonnya.
Sejak eksekusi itu, pemerintah kolonial Spanyol melarang nama Jose Rizal untuk diucapkan oleh orang-orang Filipina. Karena larangan itu, orang-orang Filipina menggunakan sandi "Dia yang Telah Mati" saat mereka membicarakan tentang Rizal. Baru setelah 12 Juni 1898 nama Jose Rizal diagung-agungkan sebagai pahlawan nasional.
Sekarang, pengunjung Fort Santiago bisa melakukan napak tilas Jose Rizal menuju kematian. Pengelola Fort Santiago sengaja membuat tapak-tapak kaki terbuat dari kuningan, yang ditempel di atas jalan beraspal. Tapak kaki itu bermula dari "The Rizal Shrine" hingga pintu keluar kawasan wisata Fort Santiago.
Di "The Rizal Shrine" juga tersimpan koleksi benda-benda pribadi Jose Rizal. Satu koleksi yang paling menarik adalah potongan tulang rusuknya, yang bolong oleh tembakan peluru.
Tulang rusuk itu diambil, saat sisa tubuh Jose Rizal diangkat dari kuburannya yang pertama, untuk dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
Pemindahan jenazah Rizal, dilakukan beberapa hari setelah bangsa Filipina memproklamirkan kemerdekaannya. Potongan tulang Rizal, kini disimpan di atas kap lampu minyak, di dalam sebuah kotak kaca, di lantai dua "The Rizal Shrine."
Menikmati Intramuros saat ini adalah seni menikmati sejarah dan arsitektur kuno, sambil berjalan kaki di atas trotoar atau menggunakan kereta kuda di jalan raya yang terbuat dari batu akan terasa sangat mengasyikan.
Mungkin anda akan tertarik memasuki gereja-geraja tua seperti San Agustin Church. Atau gedung-gedung bersejarah seperti, Clamshell I (Old Ateneo), Plaza Santo Tomas, Plaza San Ignacio, Baluarte Plano Luneta de Sta. Isabel, Bahay Tsinoy/Kaisa Heritage Center, Plaza San Luis/Casa Manila/Hotel Intramuros, Baluarte de San Diego and Gardens, dan Baluarte de San Gabriel.
Duduklah sesaat di Plaza de Roma, sambil menikmati kemegahan Manila Cathedral di Postigo Street. Rasakan betapa tenangnya suasana kota itu. Atau berjalan kakilah menyusuri General Luna Street sampai ke perempatan Victoria Street.
Singgah dan rasakan suasana masa lalu di sekitar perempatan Real Street dan perempatan Sancta Potentiana Street, yang jalannya masih tetap berupa susunan batu tanpa aspal.
Intramuros memang berbeda. Dibandingkan dengan Quezon City atau Manila City misalnya. Di dua kota itu, orang-orang akan lebih tertarik mengunjungi tempat-tempat di mana dunia menjadi gemerlap.
Tempat masrat untuk berhura-hura bisa disalurkan. Tapi ada sesuatu yang khas yang menjadi benang merah di wilayah Metropolitan Manila: kota itu penuh dengan perempuan cantik.

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 18 Mei 2007.

[+/-] Selengkapnya...

Cape Town, Eksotisme Afrika


SEBAGIAN orang masih mengidentikkan Afrika dengan kemiskinan, kelaparan, atau ketertinggalan . Namun, pendapat orang tentang Republik Afrika Selatan memang lain. Banyak orang yang menyebut bahwa Afrika Selatan (Afsel) adalah negeri yang indah.
Untuk mencapai negeri Nelson Mandela itu, dibutuhkan waktu penerbangan sekitar 13 jam. Hari Minggu (17/6), penulis dan tim delegasi Departemen Luar Negeri RI --yang akan menggelar berbagai acara diplomatik di Afsel-- berkesempatan mengunjungi Johannesburg Afrika Selatan. Melalui perjalanan yang cukup melelahkan selama 11 jam, setelah transit di Singapura, rombongan akhirnya tiba di Bandara O.R. Tambo Johannesburg , Senin (18/6) pukul 8.00 pagi waktu setempat. Terdapat perbedaan waktu selama 5 jam sehingga saat itu malam terasa begitu panjang.
Begitu tiba di Kota Pretoria, segera tampak keasrian. Kota kecil ini begitu bersih dan teratur. Tampak taman-taman hijau yang membuat pandangan menjadi lebih segar. Di jalan-jalan mulus itu , mobil-mobil baru dari berbagai merek berseliweran dengan tertib. Ketertiban ini mungkin terdukung oleh ketiadaan angkutan umum ataupun taksi.
Namun, ada satu hal yang langsung terasa, yakni suhu udara yang dingin, sekitar 10 - 15 derajat Celsius. Kalau tidak membawa jaket tebal, bisa repot urusannya. Untung saja, beberapa hari sebelum berangkat, seorang diplomat di KBRI Pretoria, Freddy Martin Panggabean mengirim surat elektronik (e-mail) yang menyarankan agar membawa jaket tebal.
Warga Pretoria, bahkan selalu memakai sandal berpenghangat saat berada di rumah. Lantai pun hampir selalu ditutupi karpet agar penghuni rumah terhindar dari suhu dingin. Apalagi saat ini, Pretoria memang sedang mengalami musim dingin walau tidak pernah ada salju. Saat mandi pagi, jangan harap bisa mandi dengan air dingin. Bisa menggigil dibuatnya. Saking dinginnya suhu di kota ini, kantor-kantor dan rumah-rumah warga dilengkapi pemanas (heater). Dan yang terasa lebih "unik", AC (air conditioner) pada mobil adalah juga berupa mesin penghangat kabin mobil.
Saat-saat mengikuti berbagai kegiatan, terutama seminar, adalah saat-saat yang menyenangkan. Setidaknya mata dihadapkan pada keteraturan kota serta hadirnya bangunan-bangunan artistik bersejarah.
Kota Johannesburg misalnya, memiliki banyak bangunan kuno yang indah dan masih kokoh, termasuk kampus University of Witwatersrand (Wits University), salah satu perguruan tinggi tertua yang didirikan tahun 1921. Kampus lainnya, University of Pretoria (UP) juga enak dipandang, walau bangunan-bangunan baru mendominasi kampus ini.
Akan tetapi, di tengah berbagai kelebihannya, kedua kota ini, Johannesburg dan Pretoria, memiliki nilai minus untuk masalah keamanan.
Tingkat kejahatan terbilang tinggi, bahkan pada beberapa kasus tergolong berbahaya dan sadis. Para penjahat di Pretoria bisa sampai hati menembak seseorang yang sedang memegang telefon genggam, hanya untuk merampas alat komunikasi tersebut.
Sebagian penjahat bahkan menggunakan senjata otomatis AK 47. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar penjahat berasal dari negara-negara tetangga yang masih dilanda konflik bersenjata.
Orang-orang dari negara-negara konflik itulah yang masuk ke Afsel, untuk merampas harta warga Afsel yang terbilang cukup makmur.
Sebagian kecil pelaku kejahatan adalah warga setempat yang nasibnya kurang beruntung. Oleh karena itulah, tak heran bila rumah-rumah warga Pretoria dan Johannesburg dilengkapi kamera pemantau dan teralis di setiap jendela. Bahkan sebagian besar rumah warga dilengkapi pagar besi tinggi yang dialiri arus listrik.
Eksotisme Cape Town

Selain Johannesburg dan Pretoria, kota penting lain di Republik Afrika Selatan adalah Cape Town. Untuk mencapai kota ini, diperlukan waktu 2 jam dengan penerbangan dari Bandara O.R. Tambo Johannesburg ke Cape Town International Airport.
Suhu di kota ini relatif tidak jauh berbeda dengan Bandung atau Jakarta. Di kota ini, AC mobil berfungsi untuk mendinginkan suhu kabin. Berbeda jauh dengan (sebagian besar) fungsi AC mobil di Pretoria.
Pusat kota Cape Town cukup rapi, tetapi sayang begitu keluar dari bandara, tampak ada "kompleks" rumah kumuh yang jaraknya tidak terlalu jauh dari highway.. Akan tetapi, selepas wilayah kumuh itu, segera tampak berbagai keindahan Cape Town (yang berarti Kota Tanjung atau Kota Pantai).
Salah satunya adalah kampus University of Stellenbosch yang sangat luas dan asri. Seperti juga University of Witwatersrand di Johannesburg, kampus Stellenbosch dipenuhi gedung-gedung tua yang sangat artistik .Di tengah kampus tersebut, terdapat patung besar J.H. Marais, tokoh yang mendirikan perguruan tinggi tersebut. Di lingkungan kampus ini, kesan Afrika sangat minim karena di berbagai penjuru kampus tampak para mahasiswa dan mahasiswi bule.
Sebagian besar para mahasiswi tampak chic dengan model pakaian terbaru yang mendukung kecantikan mereka. Jadi kesannya seperti di Eropa. Apalagi bahasa yang digunakan pun bahasa Inggris.
Namun, keindahan Cape Town belumlah seberapa dibandingkan dengan pemandangan alam di daerah-daerah sekitarnya. Di luar kota yang jaraknya tidak terlalu jauh, ada hamparan lahan luas yang dihuni begitu banyak burung unta (ostrich). Eksotis sekali.
Tak jauh dari lokasi itu, ada Restoran Spiers yang bernuansa alam terbuka, dilengkapi kolam yang airnya bening. Belum lagi, taman yang ditumbuhi berbagai tanaman. Hijau dan asri.
Objek wisata lainnya adalah Cape of Good Hope (Tanjung Harapan), yaitu pantai yang konon dulunya tempat berlabuh kapal Voetboeg yang digunakan Syekh Yusuf saat pertama kali tiba di Afsel tahun 1694.
Banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia menikmati keindahan alam di pantai ini. Mereka pun pasti berfoto dengan latar depan papan panjang bertuliskan "Cape of Good Hope". Ada pula mitos yang menyebutkan, seseorang akan mendapat keberkahan bila mencuci muka dengan air di pantai itu.
Yang unik, Tanjung Harapan ini merupakan tempat bertemunya air laut yang lebih panas dari Samudra Hindia dan air laut yang lebih dingin dari Samudra Atlantik, sehingga warna air agak berbeda. Dan perlu dicatat bahwa Tanjung Harapan merupakan wilayah paling selatan dari Benua Afrika!
Namun demikian, masih ada objek wisata yang bisa dikatakan paling populer dan monumental di Cape Town, yakni Table Mountain (Gunung Meja). Gunung itu memang unik karena (kalau dipandang dari jauh) permukaan atasnya rata, persis permukaan meja.
Kalau masih berada di bawah (di lahan parkir sekitar gunung itu), rasanya masih ada rasa penasaran, apa sesungguhnya yang ada di atas sana. Untuk itulah, pihak pengelola yakni Table Mountain National Park menyediakan cableway atau cable car (mobil kabel) yang bisa mencapai bagian atas gunung itu hanya dalam hitungan menit, dengan menggunakan fasilitas kabel yang membentang dari bawah ke atas.
Bagi yang menderita acrophobia (takut ketinggian), ini bisa menjadi masalah karena memang medannya terbilang menakutkan. Bagaimana bila kabelnya putus? Namun demikian, mungkin saja rasa ingin tahu bisa mengalahkan rasa takut itu. Buktinya, cable car tersebut tidak pernah sepi dari penumpang yang ingin melihat eksotisme Cape Town dari atas. Tiket seharga 140 rand (sekitar Rp 200.000,00) bukanlah masalah.
Benar saja, begitu tiba di atas, berbagai keindahan alam bisa dinikmati sepuas-puasnya. Wisatawan bisa memandang dan memotret pantai, bukit-bukit, dan ngarai berbatuan di sekitarnya. Benar-benar indah dan eksotis. Di sini kita bisa melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dengan begitu indahnya.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 30 Juni 2007.

[+/-] Selengkapnya...

Lupakan London......

"Forget London, Now in Dubai (Lupakan London, Sekarang (Semua) Ada di Dubai)”, begitu bunyi iklan Harvey Nichols di perempatan City Centre Deira, jantung kota Dubai. Menyadari cadangan minyaknya menipis, Dubai menata diri untuk menjadi surga belanja di Timur Tengah.
Malam di pengujung hari Kamis itu semakin larut. Satu jam lagi masuk tengah malam. Namun, suasana di Mal City Centre Deira yang menempel dengan bangunan Hotel Sofitel tempat kami menginap masih hiruk-pikuk, padat oleh warga Dubai. Bagi warga kota itu, Kamis malam adalah malam akhir pekan.
Di salah satu sudut di mal tersebut, Ermina masih sibuk melayani pelanggannya. Jam di toko itu sudah menunjukkan pukul 23.15, tetapi belum ada tanda ia akan menutup gerainya. ”Setiap malam akhir pekan mal ini tutup pukul 24.00. Kalau pada hari-hari biasa, tutupnya pukul 22.00,” kata pelayan toko The Watch House itu.
”Meski jam buka ditambah pada akhir pekan, tidak ada tambahan upah,” ujar perempuan yang mengaku asal Filipina itu, berusaha tersenyum. Di akhir pekan itu, dari sore hingga malam pusat perbelanjaan tiga lantai itu penuh sesak oleh warga yang berbelanja.
Antrean panjang terlihat di depan sekitar 30 kasir di pintu keluar Carrefour, yang tetap dipenuhi pengunjung meski—menurut rekan wartawan—pelayanannya menyedihkan. Menurut pemandu wisata kami, mal-mal di Dubai rata-rata buka hingga tengah malam pada akhir pekan. Di malam akhir pekan, jalanan kota Dubai pun selalu macet.
”Booming” mal
”Dubai is a shopper’s paradise”, begitu isi brosur wisata Pemerintah Dubai. Untuk membuktikannya, mal-mal dibangun di mana-mana. Seperti terlihat di Mall of the Emirates, Jalan Sheikh Zayed; atau Mal City Centre Deira, mal-mal di Dubai rata-rata dibuat sangat besar dan luas.
Mall of the Emirates yang dibangun di lahan seluas 223.000 meter persegi, misalnya, menampung sekitar 400 toko dari berbagai merek terkemuka di dunia (Harvey Nichols, Emporio Armani, Dolce & Gabbana, Roberto Cavalli, dan lain-lain), bioskop 14 layar, dua food court yang bisa menampung 2.300 orang sekaligus, dan arena ski es.
Saat berjalan-jalan di mal itu, Rabu (15/3) petang, dua jam berkeliling rasanya belum cukup merambah separuh isi mal yang konon terbesar di Timur Tengah dan terluas di luar Amerika Utara. Meski tidak sepadat Mall City Centre Deira pada Kamis malam, mal itu cukup ramai.
Pria-wanita—dari yang berpakaian dishdasha (jubah putih untuk pria) dan abaya (jubah hitam untuk wanita) lengkap dengan burqa (cadar) hingga mereka yang cuma bercelana pendek dan berbaju ketat semiterbuka—berjalan mondar-mandir. Dan seperti lazimnya di mal, harga barang di tempat itu tetap tinggi meski Dubai dikenal sebagai kota bebas pajak.
Ambisi Dubai membangun mal yang lebih besar tak pernah terpuaskan. Saat ini, bersamaan dengan pembangunan Burj Dubai—bakal gedung tertinggi di dunia—juga dibangun Dubai Mall. Menempati lahan 50 kali lebih luas daripada lapangan sepak bola, mal itu antara lain akan dilengkapi 1.000 toko khusus dan 7,8 hektar untuk gerai pakaian. Ditargetkan, tahun pertama beroperasinya Dubai Mall mampu menjaring lebih dari 35 juta pengunjung.
Bagi mereka yang ingin harga miring, pasar-pasar tradisional (souk) jawabannya. Harga barang di pasar umumnya bisa ditawar. Salah satu pasar tradisional yang terkenal berlokasi di Deira. Dari pengamatan di pasar emas tradisional Gold Souk di Deira, tak jauh dari Terminal Bus Gold Souk, kondisi pasar-pasar itu sangat bersih dan tertata rapi. Tak ada sampah tercecer.
Seolah tiada kekhawatiran bakal dirampok, berbagai perhiasan emas berupa gelang, kalung, cincin, dan lain-lain dipajang mencolok dari balik lemari kaca. Hanya satu-dua polisi yang tampak santai. ”Angka kriminal di kota ini nyaris nol. Dubai kota yang sangat aman,” kata Ilka Becker, pemandu wisata di Gold Souk.
Seperti terlihat di papan reklame di atas gerbang Gold Souk, Dubai mendapat pengakuan World Gold Council sebagai kota emas (city of gold). Dalam buku Dubai, Gateway to The Gulf disebutkan, kota di tepi Teluk Arab merupakan kota ketiga terbesar di dunia sebagai pusat perdagangan emas setelah London dan Zurich. Di Gold Souk, ada sekitar 200 toko emas, masing-masing mempunyai stok hingga 50 kilogram emas, dari 18 karat hingga 24 karat.
Dubai Duty Free
Naluri berbelanja di Dubai sudah dirangsang saat pengunjung baru saja mendarat di Bandara Internasional Dubai dengan kompleks perbelanjaan bernama Dubai Duty Free. Menempati lahan seluas 5.400 meter persegi di Terminal Sheikh Rashid dan 1.400 meter persegi di terminal yang lain, Dubai Duty Free menawarkan beragam belanjaan: fashion, perhiasan, parfum, barang elektronik, kamera, suvenir, dan sebagainya.
Situs bandara tersibuk di Timur Tengah itu mencatat, penjualan di Dubai Duty Free tahun 2004 menembus rekor 500 juta dollar AS. Ketika bandara tersebut diperluas dengan investasi 4,1 miliar dollar AS, seperti berlangsung saat ini, area ritel tempat berbelanja itu diperluas dengan tambahan lahan seluas 10.000 meter persegi.
”Jangan lupa bawa dua koper kosong jika ke Dubai,” kata Ilonka Leiwakabessy, Manajer Penjualan Emirates-Indonesia, meski setengah bercanda, menggambarkan Dubai sebagai pusat belanja. Dengan segala kemewahannya, sejumlah anggota DPR yang Desember 2005 mengaku studi banding ke Mesir pun tergiur mampir ke Dubai.
Posisinya yang di perlintasan Benua Eropa-Asia-Afrika menyebabkan Dubai sangat strategis menjadi bandara pengumpul (hub port). Dengan kelengkapan fasilitasnya sebagai kota destinasi, Dubai sering dijadikan tempat singgah klub-klub sepak bola Eropa saat mereka tur ke Asia. Kegiatan olahraga kelas dunia, seperti Dubai Desert Classic (golf) dan Dubai Terbuka (tenis), menjadi kalender rutin tahunan di kota ini.
Ibarat pepatah ada gula ada semut, Dubai pun memikat pendatang dari berbagai negara. Sekitar 80 persen penduduk kota itu bukan warga asli Uni Emirat Arab. ”Di sini tempatnya enak, tidak ada pajak. Standar gaji lumayan. Cuma di sini saja yang kurang bagus,” tutur Nur, perempuan Jakarta yang bekerja di restoran, kawasan Jumeirah Beach dan digaji 850 dirham (Rp 2,2 juta) per bulan.
Untuk menggenjot angka kunjungan wisatawan ke kota itu, Dubai memperkenalkan istilah ”Dubai Stopovers”. Menurut Vice President Arabian Adventure Frederic Bardin, ini ditujukan bagi mereka yang dalam perjalanan lintas benua ingin singgah di Dubai. Cukup 65 dollar AS, mereka bisa mampir ke kota itu lengkap dengan akomodasi hotel, antar-jemput ke bandara, dan bebas biaya visa empat hari.
Setahun sekali, sejak tahun 1996, Dubai juga menggelar Dubai Shopping Festival sebulan penuh, tanggal 4 Januari-4 Februari. Festival tahunan itu biasanya menyediakan hadiah spektakuler, seperti mobil mewah Rolls Royce atau berkilo-kilogram emas.
Media internasional menjuluki kota itu dengan ragam sebutan: ”Las Vegas-nya Arab” (Newsweek), ”Singapura-nya Timur Tengah” (Time), ”Singapura-nya Arab” (New York Times), atau ”Dunia impian Arab” (The Economist). Seperti bunyi iklan di perempatan City Centre Deira, mereka pun percaya diri untuk berkata, ”Forget London, Now in Dubai....” (SAM)

Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Dubai, Surga Wisata di Negeri Teluk

MH SAMSUL HADI

Empat hari menyusuri ratusan kilometer jalan yang mengiris-iris kota Dubai, kota kedua di Uni Emirat Arab setelah Abu Dhabi, bukan hamparan padang pasir yang terbentang. Yang menonjol justru gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel mewah, mal-mal, dan berbagai arena wisata.
Inilah kota kosmopolitan baru di Asia yang berambisi menyaingi Singapura dan Hongkong sebagai destinasi utama.
”Ini kunjungan pertama Anda ke Dubai?” begitu sapa banyak orang kepada kami, tiga wartawan cetak dan dua wartawan televisi dari Indonesia, selama berada di kota tersebut. Sapaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan obrolan pembuka untuk membicarakan suasana kota Dubai saat ini.
Kota seluas 4.114 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 1,071 juta jiwa (tahun 2004) itu tidak hanya membuat decak kagum para pendatang, tetapi juga mencengangkan penduduk setempat. Mereka seperti tidak percaya, Dubai berubah secepat ini: dari hamparan padang pasir di pinggiran Teluk Arab menjadi bangunan-bangunan beton menjulang ke angkasa.
Itu terlihat jelas, terutama di sepanjang Sheikh Zayed Road dari Pelabuhan Jebel Ali di ujung selatan Dubai hingga kawasan Deira di bagian utara kota itu. Seolah tidak ada batas ambisi untuk menyulap Dubai menjadi kota kosmopolitan dunia, pembangunan properti terus berlangsung secara fantastis.
Burj Dubai, gedung pencakar langit setinggi 700 meter untuk 189 lantai, akan menjadi bangunan tertinggi di dunia. Saat kami mengunjungi lokasi itu, 14 Maret, pembangunannya sampai pada lantai 33. ”Satu lantai rata-rata selesai dalam lima hari. Burj Dubai diperkirakan selesai tahun 2009,” ujar Greg Sung, salah satu insinyur dalam proyek pembangunan gedung tersebut.
Bukan itu saja, ribuan hektar pantai Teluk Arab direklamasi untuk dibangun kawasan resor seperti pulau artifisial, yakni Palm Island (Jebel Ali), Palm Island (Jumeirah), Palm Island (Deira)—ketiganya menyerupai pohon palem yang konon bisa terlihat dari Bulan seperti halnya Tembok Raksasa China—dan The World (250 pulau buatan berbentuk peta dunia).
Fantasi Dubai pada hal-hal spektakuler masih berlanjut dengan dibangunnya Hydropolis, hotel di bawah laut pertama di dunia pada kedalaman 20 meter dan berjarak 300 meter dari pantai. Ini melengkapi kemewahan Dubai yang sejak tahun 1999 terwakili dengan berdirinya Hotel Burj Al Arab, hotel tertinggi di dunia (321 meter) yang melebihi tinggi Menara Eiffel di Paris, Perancis.
”Mereka yang tinggal di sini, lalu pergi dua tahun saja, begitu kembali ke Dubai, akan terkejut karena gedung-gedung bermunculan. Waktu menyetir, kadang-kadang saya berpikir, dari mana munculnya gedung-gedung itu,” ujar Clive Reed, Vice President Training and Development Emirates, yang sudah lama tinggal di Dubai.
Pembangunan proyek-proyek fantastis dan ambisius itu berpijak pada cita-cita menjadikan Dubai sebagai pusat turisme dunia, perdagangan, dan bisnis keuangan. Ambisi ini ditopang dengan pembebasan pajak (free tax) dan kebijakan langit terbuka (open-sky policy).

Menggarap turisme
Apa yang bisa dinikmati di Dubai? Dari brosur wisata Department of Tourism and Commerce Marketing Pemerintah Dubai, pariwisata di kota itu berusaha mengombinasikan warisan alam, kekayaan tradisional, dan karya arsitektur superfantastik.
Untuk wisata alam, Dubai menawarkan kekayaan lautan padang pasir, antara lain untuk menggelar reli mobil ala Paris-Dakkar plus suguhan tari perut sebagai penutup. Di kawasan Al Maha, mereka bangun resor eksklusif dengan menjual ketenangan dan ”keindahan padang pasir”.
”Anda bisa lihat, warna padang pasir itu berubah-ubah. Kadang-kadang merah, kadang-kadang kuning, kadang-kadang kehijauan. Pemandangan padang pasir itu bisa berubah tujuh warna,” kata Vaneet, warga India, sopir kami saat reli padang pasir di Saud Arabian Desert.
Kekayaan tradisional disuguhkan melalui wisata ”makan malam” di atas kapal tradisional (dhow dinner) dengan menyusuri Sungai Dubai, kampung tradisional (heritage village), museum yang didesain secara live menggambarkan Dubai tempo dulu, pasar emas tradisional (gold souk), serta pacuan unta.
Untuk wisata keindahan arsitek Dubai, wisatawan diajak mengagumi kemegahan gedung-gedung dan lokasi, seperti diungkap di awal tulisan ini. Tak ketinggalan, juga kawasan elite Jumeirah dengan ”hotel bintang tujuh” Burj Al Arab dan resor bergaya arsitektur mediterania dengan kanal memesona di antara rumah-rumah hunian.
Soal infrastruktur jalan, hal itu tak usah diragukan. Selama diajak berkeliling ke tempat-tempat wisata oleh Arabian Adventure—biro wisata milik maskapai Emirates—semua ruas jalan dalam kondisi mulus. Tak satu pun jalan berlubang atau tidak rata. Memacu mobil di atas kecepatan 120 kilometer per jam pun serasa tidak menapak bumi.
Jalanan kota Dubai semakin indah dengan hamparan bunga berwarna-warni di kiri-kanan jalan. Enaknya lagi, dengan kondisi jalan yang jauh lebih mulus daripada jalan tol Jakarta dan sekitarnya, pengendara tidak dikenai tarif tol.
”Tidak ada tarif tol di sini. Parkir di mal-mal atau hotel juga gratis. Hanya bayar kalau parkir di tempat parkir umum, dua dirham setelah dua jam,” kata Ali (26), warga Pakistan, sopir kami selama di Dubai. Dirham adalah mata uang Uni Emirat Arab (1 dollar AS = 3,67 dirham UAE).
Trotoar, terminal, halte, pasar, telepon umum, dan tempat-tempat publik lainnya sangat bersih. Sangat sulit menemukan ceceran kertas atau sampah plastik di kota yang 80 persen warganya berasal dari luar Uni Emirat Arab itu. Di beberapa ruas jalan, seperti di Jumeirah Street, terlihat trotoar jalan disemprot dengan air. Tidak cukup disapu!
Transportasi publik juga memadai. Selain bus yang semuanya dilengkapi alat pengatur suhu (air conditioner/AC), juga tersedia taksi-taksi dalam kondisi bagus yang bisa ditawar ongkosnya. Hampir semua taksi selalu menyiapkan kuitansi tanda pembayaran.
Angkutan sungai—biasa disebut abra—menjadi alat transportasi di Sungai Dubai (Dubai Creek) sepanjang 13 kilometer dengan lebar 100-500 meter. Ongkosnya cuma 50 pence atau setengah dirham. Meski juga dilalui kapal-kapal pengangkut barang dagangan, sungai itu tetap bening dan bersih. Tidak hitam, berbau, dan penuh sampah, seperti sungai-sungai di Jakarta.
Burung-burung camar pun kerasan bermain-main di permukaan sungai tersebut, menambah keindahan pemandangan bagi pengguna abra. Yang terpenting lagi, keamanan dan kenyamanan tinggal di kota itu terjamin. ”Saya bisa jalan-jalan ke luar kapan saja dengan aman, di malam hari sekalipun,” ujar Sheba Koonan, perempuan asal India, Media Relations Manager Emirates.
Kawasan Timur Tengah yang satu ini memberikan toleransi yang cukup leluasa bagi turis untuk ”tampil apa adanya”. Di mal-mal sering terlihat perempuan mondar-mandir sambil merokok, sementara di Pantai Jumeirah turis laki-laki dan perempuan membaur saat berjemur—tentu saja—dengan bikini.

Kebijakan langit terbuka
Saat ini turisme menjadi salah satu sektor andalan Dubai. Kesadaran itu sudah lama muncul, terutama setelah cadangan minyak di kota itu menipis. Minyak dan gas di Dubai, yang ditemukan tahun 1966, kini hanya menyumbang 6 persen pendapatan domestik bruto (PDB) kota itu dan akan habis kira-kira sepuluh tahun lagi.
Untuk menggenjot angka kunjungan turis, Dubai mengeluarkan berbagai kebijakan, antara lain kebijakan langit terbuka. ”Tidak ada batasan bagi maskapai penerbangan untuk datang dan pergi dari Dubai, menurunkan dan menaikkan penumpang, kapan saja,” kata Frederic Bardin, Vice President Arabian Adventure.
Tahun 1985 Dubai membangun maskapai penerbangan sendiri, Emirates. Kini, 21 tahun setelah berdiri, Emirates dengan 90 pesawat menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia dengan melayani penerbangan ke 81 kota dari 56 negara. Dua hal itu berdampak signifikan bagi kunjungan wisata ke Dubai.
Tahun 2005 sebanyak 24,7 juta penumpang singgah di Dubai; 5,5 juta penumpang di antaranya sengaja datang berekreasi di kota itu. Tahun ini angka penumpang yang singgah di Dubai diperkirakan melonjak lebih dari 28 juta penumpang dan tahun 2010 menjadi 60 juta penumpang.
Sementara angka kunjungan turis ditargetkan melonjak tiga kali lipat pada tahun 2015 atau sekitar 15 juta turis. Itu sudah diantisipasi dengan pembangunan tahap II Bandara Internasional Dubai dengan kapasitas menampung 70 juta penumpang per tahun.
Membangun berbagai infrastruktur, menyiapkan bandar udara yang memadai, dan menciptakan kemudahan, ini semua untuk menunjukkan: Asia bukan hanya Singapura dan Hongkong, tetapi juga Dubai.
Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006.

[+/-] Selengkapnya...

Gambaran Kehidupan Damai



MANUSIA Iran punya harapan dan cita-cita seperti manusia lain di belahan benua yang lain. Harapan dan cita-citanya tercermin dalam karya-karya klasik mereka, baik dalam bentuk lukisan yang dianyam dalam karpet maupun di atas kanvas. Hal itu dijelaskan seorang pemandu wisata di Museum Karpet Iran sambil menunjukkan gambar-gambar yang ada pada karpet.
Gambar-gambar karpet selain mengambil dari cerita yang terkandung dalam kitab suci, juga mengambil penggalan mitologi yang paling menarik, serta harapan-harapan hidup damai dan bahagia. Dalam sebuah karya karpet berukuran 1,60 x 1,15 meter yang dibuat di Tabriz akhir abad ke-20 mengambil gambar dari penggalan cerita Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya.
Di atas tumpukan kayu, Nabi Ibrahim yang sudah siap mengorbankan anaknya, tiba-tiba datang malaikat Jibril dan seekor kambing yang akan menggantikan Ismail anak kesayangan Ibrahim yang saat itu akan disembelih sebagai korban. Karpet yang bergambar Nabi Ibrahim itu dianyam dari bahan katun dan wol.
Ada juga karpet dari katun yang dianyam pada awal abad di daerah Kashan berukuran 1,96 x 1,30 meter, dengan mengambil gambar dari penggalan cerita dari Shah Nameh, buku cerita tentang kerajaan. Salah satu gambarnya adalah penunggang kuda berpanah berlatar belakang sebuah kota. Cerita-cerita dari buku Shah Nameh ternyata sangat berpengaruh dalam gambar-gambar karpet Persia.
Gambar lain yang terekam dalam karpet kebanyakan gambar burung dan taman yang indah, serta kehidupan damai keluarga biasa maupun raja-raja. Gambar kehidupan nikmat itu terekam dalam salah satu karpet yang dianyam pada pertengahan abad ke-20 di Tabriz.
Pada karpet sepanjang 2 x 1,41 meter itu pada empat sudutnya terdapat gambar empat penyair terkenal Iran, yakni Hafiz dari Shiraz, Sheikh Saa’di Moulana Mowlavi-e-Roumi, dan Ferdowsi. Kemudian di antara gambar terdapat puisi yang bermakna sebagai berikut:
Duduk di taman dengan sorotan bulan bagaikan gadis cantik. Dengan selembar roti gandum, dan sebuah gelas besar anggur dan paha daging domba. Anda merasakan kehidupan yang nyaman, seperti tidak ada raja di dunia ini yang bisa menikmati kehidupan seperti itu.
Pada bagian tengah karpet terdapat gambar seorang pria duduk bersama seorang perempuan di sebuah taman. Di depannya terdapat paha domba dan roti, serta minuman. Inilah karya seni karpet yang merekam kehidupan nyaman dan damai yang diharapkan bangsa Iran. Bukan pertempuran!
KEUNIKAN karya-karya seni Iran juga tampak pada seni musik, musik agama, dan arsitektur yang terdapat unsur Asia dan Eropa. Kebudayaan yang berkembang di Iran memang dipengaruhi kebudayaan dari benua lain, mulai dari kawasan Sungai Nil hingga Eropa.
Di tanah Iran inilah terjadi pertemuan lingkaran peradaban Asia, Eropa, dan Afrika. Peradaban tersebut saling memengaruhi dan saling menyangkal satu sama lain. Hasil percampurannya menjadi suatu bentuk yang unik. Tidak habis-habisnya bentuk interaksi budaya ini menjadi lahan penelitian.
Dari segi mitologi, peneliti budaya Iran, Mania Sa’dinejad, mengatakan bahwa mitologi Iran merupakan kombinasi antara budaya-budaya yang lebih maju, antara Asia bagian barat dan budaya-budaya yang dimiliki bangsa Aria.
Ketika bangsa Aria masuk ke Iran, mereka mengembangkan dan mengintegrasikan budayanya ke budaya lokal sehingga terjadi perubahan besar dalam pemahaman tentang dewa-dewa yang dianggap sebagai pengatur kehidupan yang serasi.
Sejumlah arkeolog mencatat 10.000 tahun sebelum Masehi sudah ada kehidupan manusia yang berbudaya di Iran yang kini terhampar di atas dataran tinggi seluas 1.648.000 kilometer persegi tersebut. Catatan arkeolog itu berdasarkan pada penemuan benda-benda seni dan peralatan-peralatan di berbagai goa, seperti di Goa Pabda di dataran tinggi Chaharmahal dan Provinsi Bakhtiari.
Di daerah Pegunungan Zagross juga ditemukan benda-benda seni yang terbuat dari metal. Penemuan ini menunjukkan di kawasan tersebut pada tahun 3000 sebelum Masehi manusia sudah mengetahui bagaimana memanfaatkan benda metal dalam dunia seni.(nas)


Sumber: Kompas, Rabu, 23 Februari 2005.

[+/-] Selengkapnya...

Wednesday, July 25, 2007

Melbourne dan Sydney, Dua Kota Tujuan Wisata Utama

BAGI pelancong yang datang ke Melbourne (baca: Melben) dan berniat untuk berbelanja, kota kedua terbesar di Australia yang berpenduduk 3,3 juta jiwa itu bisa menjadi tempat berbelanja yang menyenangkan. Salah satu pusat perbelanjaan yang tidak dapat dilewatkan adalah Queen Victoria Market yang terletak di Elizabeth Street Nomor 513.
QUEEN Victoria Market menyediakan barang apa saja yang bisa dipikirkan orang. Hampir 1.000 pedagang menjual barang-barangnya di pasar yang luasnya sekitar tujuh hektar. Pasar yang buka selama lima hari dalam seminggu itu (tutup pada hari Senin dan Rabu) mencakup pasar yang antara lain menjual bahan makanan sehari-hari, seperti berbagai macam ikan, daging, buah-buahan dan sayur-sayuran, wine, roti tawar, jajanan seperti sandwich, hotdog, pizza, pakaian, aneka macam suvenir, compact disc dan kaset, mainan anak-anak, serta binatang piaraan.
Tidak heran jika orang Australia menyebut Queen Victoria Market lebih daripada sekadar tempat tujuan perbelanjaan yang utama. Bagi orang Australia, Queen Victoria Market adalah tempat yang bersejarah, daya penarik bagi pelancong, dan sebuah lembaga bagi warga Melbourne. Selama lebih dari 100 tahun, pusat perbelanjaan tersebut melayani kebutuhan lebih dari 200.000 orang dalam satu minggu.
Queen Victoria Market yang terletak di tepi barat laut distrik pusat ekonomi di Melbourne secara resmi dibuka pada 20 Maret 1878. Seiring dengan perjalanan waktu, pasar-pasar lain juga bermunculan bersamaan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Akan tetapi, dengan perubahan pola belanja penduduk Melbourne, satu per satu pasar-pasar itu bertumbangan.
Akan tetapi, Queen Victoria Market tetap bertahan sampai hari ini. Tidak heran jika sebagian besar dari bangunan yang terdapat di Queen Victoria Market itu adalah bangunan-bangunan tua yang termasuk bangunan bersejarah.
Pasar yang berusia lebih dari 100 tahun itu sanggup hidup berdampingan dengan pusat-pusat perbelanjaan lain yang dilengkapi air conditioner (AC).
Pasar yang buka mulai pukul 06.00 itu tutup pada pukul 14.00 (Selasa dan Kamis), pukul 18.00 (Jumat), pukul 15.00 (Sabtu), dan pukul 16.00 (Minggu). Dan, bisa dijangkau dengan menggunakan bus, trem, kereta api, atau menggunakan mobil, mengingat pelataran parkirnya cukup luas. Itu sebabnya di Queen Victoria Market dengan mudah ditemui peternak yang menjual binatang peliharaan, seperti ayam dan bebek, di sekitar truk bak terbuka yang diparkir di pelataran parkir Queen Victoria Market.
Jika bisa dibandingkan, Queen Victoria Market itu mirip dengan Chatuchak Market di Kota Bangkok, yang juga dikenal dengan nama pasar akhir pekan (weekend market). Selain barang-barang yang dijual di pasar itu beraneka macam, harganya pun sangat bersaing, jika tidak ingin dikatakan murah.



MELANCONG ke Melbourne tentu tidak semuanya untuk urusan belanja. Di pinggiran Kota Melbourne, kira-kira satu jam perjalanan dengan mobil, juga dapat ditemui Cagar Alam Healesville, yang menjadi tempat pemeliharaan lebih dari 200 jenis burung, mamalia, dan reptil asli Australia.
Cagar alam yang luasnya 32 hektar itu mulai dibuka untuk umum sejak tahun 1934. Walaupun tiga binatang asli Australia yang paling dikenal luas adalah koala, kanguru, dan dingo (sejenis serigala yang sosoknya mirip anjing), sesungguhnya koleksi binatang asli Australia masih banyak lagi, antara lain platypus-mamalia yang hidup di dua dunia, air dan darat, yang berkeliaran mencari makan di malam hari.
Petugas-petugas di Cagar Alam Healesville siap memberikan penjelasan yang rinci mengenai binatang-binatang yang ada di sana, mulai dari kanguru yang dapat menentukan sendiri kapan anaknya dipindahkan dari rahimnya ke kantong pemeliharaan anaknya, sampai koala yang tidur selama 21 jam dalam satu hari.
Di luar cagar alam, di pinggiran Kota Melbourne juga ada tempat-tempat lain yang menarik untuk dikunjungi, antara lain tempat-tempat pembuatan wine. Salah satunya adalah Yering Station di Yarra Valley, yang didirikan pada tahun 1838. Walaupun bukan penghasil wine yang terbesar di Australia, Yering Station adalah salah satu perusahaan wine milik keluarga yang sulit untuk dilewatkan.

Pemandangannya pun sangat indah.
Yering Station mencakup tempat pembuatan wine, tempat pencicipan wine, kedai penjualan wine dan beberapa produk makanan lainnya, serta restoran yang menyediakan makanan dan wine kelas satu.
Sebagai salah kota tujuan wisata, Melbourne yang bisa dikategorikan sebagai kota metropolitan cukup ramah kepada turis kelas ekonomi yang akrab dengan sebutan backpacker (penyandang ransel). Tempat penampungan turis penyandang ransel letaknya berdekatan dengan hotel-hotel berbintang empat.
Seperti Melbourne, Sydney-kota terbesar di Australia yang berpenduduk 3,8 juta jiwa-pun merupakan daerah tujuan utama para pelancong. Sebagian besar dari daerah tujuan pelancong yang utama terpusat di sekitar Sydney Harbour, termasuk Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House. Di luar itu masih ada Darling Harbour yang terkenal dengan akuarium air tawar dan air laut raksasanya, serta kawasan kota tua Sydney, yang dinamakan The Rocks dan Millers Point.
Yang menarik dari akuarium raksasa di Darling Harbour, yang bisa dijangkau dengan monorel, adalah setiap pengunjung yang telah membayar tiket masuk dapat mengunjungi akuarium tersebut selama beberapa kali sampai waktu tutupnya. Dengan gambar ikan hiu yang dicap di tangan, orang yang mengunjungi akuarium tersebut pada pagi hari dapat kembali lagi sore hari seusai melihat-lihat atraksi lain di Darling Harbour atau melakukan tur dengan kapal di sekitar Sydney Harbour.

Jika Anda mempunyai nyali yang besar, alias tidak takut ketinggian, Anda bisa ikut tur menaiki Sydney Harbour Bridge. Tur yang dimulai dari Cumberland Steet Nomor 5 di kawasan The Rocks, seluruh prosesnya menghabiskan waktu selama 3,5 jam. Proses menanjaknya sendiri sesungguhnya tidak terlalu lama. Namun, karena didahului dengan pemeriksaan kesehatan (cek napas), pelatihan penggunaan peralatan pengamanan, menunggu giliran untuk menanjak karena banyaknya peserta, serta sesi pemotretan dan menikmati suasana di puncak jembatan (yang pemandangannya sangatlah indah), maka akhirnya tur itu menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam. Dan, di akhir tur, Anda akan menerima sebuah sertifikat dan foto bersama rombongan.
Sydney juga merupakan kota yang menyenangkan untuk berbelanja. Salah satunya di Kawasan City Center yang merupakan kawasan pertokoan yang cukup luas. Dan, uniknya, pusat-pusat pertokoan itu berhubungan satu sama lain di lantai bawah tanah (basement)-nya. Dengan demikian, orang tidak perlu keluar masuk pusat pertokoan yang letaknya berdekatan satu sama lain. Orang cukup turun melalui eskalator ke lantai bawah tanah dan pindah ke pusat pertokoan lain.
PARIWISATA merupakan salah satu industri Australia yang terluas dan mengalami pertumbuhan yang tercepat. Dalam tahun 2000-2001, sektor pariwisata menyumbang sekitar 17,1 miliar dollar Australia kepada ekonomi Australia. Pariwisata menyumbang 11,2 persen dari pemasukan total ekspor Australia sehingga pariwisata menjadi penyumbang keempat terbesar setelah hasil tambang, manufaktur, dan pertanian. Sektor pariwisata menampung 6 persen dari seluruh tenaga kerja di Australia. Diperkirakan, sumbangan sektor pariwisata akan bertambah menjadi 34 miliar dollar Australia, meningkat dua kali lipat daripada saat ini, dalam 10 tahun mendatang.
Alasan utama wisatawan datang ke Australia adalah karena alamnya yang indah, kebudayaannya yang khas, makanan dan wine, gaya hidup masyarakatnya, penduduknya yang ramah, dan juga karena iklimnya. Keberadaan Australia di belahan selatan Bumi menjadikan iklimnya bertolak belakang dengan iklim di negara-negara Barat yang terletak di belahan utara. Dengan demikian, di saat penduduk di belahan utara sedang menghadapi musim dingin, sebagian dari mereka datang ke Australia untuk menikmati musim panas.
Pada tahun 2000-2001, sebanyak 4,8 juta pendatang dari luar negeri berkunjung ke Australia. Rata-rata pendatang dari luar negeri tinggal selama 10 hari di Australia. Pendatang dari Kanada rata-rata tinggal selama 20 hari, Inggris (20 hari), dan Jerman (25 hari) sehingga pendatang dari ketiga negara itu mempunyai rata-rata tinggal terlama di Australia.
Dan, tujuan para pendatang dari luar negeri itu ke Australia adalah berlibur (54 persen), mengunjungi teman atau keluarga (20 persen), bisnis (15 persen), dan pendidikan (6 persen). (James Luhulima)

Sumber: Kompas, Kamis, 29 April 2004.

[+/-] Selengkapnya...

 

© 2007 Die Welt Ist Schoen: July 2007 | Design by Template Unik



Template unik dari rohman


---[[ Skip to top ]]---